FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) menyelenggarakan diskusi bersama Wali Kota Yogyakarta, dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K), pada Rabu, 30 September 2026, untuk membahas tantangan kesehatan perkotaan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Kegiatan yang diikuti mahasiswa kesehatan masyarakat ini dipandu oleh Prof. Dr. dr. Mubasysyir Hasan Basri, MA.
Hasto memaparkan sejumlah persoalan kesehatan di Kota Yogyakarta, meliputi pengelolaan sampah, stunting, tuberkulosis (TB), kesehatan jiwa, penyakit tidak menular, layanan lansia, hingga pembiayaan kesehatan. Ia menekankan bahwa keberhasilan pembangunan kesehatan tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan masyarakat dan intervensi yang tepat sasaran.
Perhatian khusus diberikan pada pencegahan stunting melalui intervensi 1.000 hari pertama kehidupan, kesehatan perempuan dan remaja, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia untuk memanfaatkan bonus demografi. Selain itu, pemerintah kota berupaya memperkuat layanan kesehatan jiwa melalui penambahan tenaga psikolog dan sistem rujukan dari sekolah, serta menyiapkan dukungan bagi pasien yang membutuhkan pendampingan setelah keluar dari rumah sakit jiwa.
Dalam pengelolaan lingkungan, Hasto menyoroti persoalan sampah yang masih menjadi tantangan serius. Perbaikan sanitasi, kebersihan sungai, dan pengurangan timbunan sampah menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan masyarakat. Pemerintah kota juga merencanakan skrining lansia setiap tiga bulan, mengembangkan surveilans bersama Fakultas Kedokteran UGM, serta menyelenggarakan sekolah lansia untuk mendukung deteksi dini masalah kesehatan.
Diskusi turut membahas pembiayaan layanan kesehatan dan ketersediaan dokter spesialis. Hasto menyampaikan bahwa belanja kesehatan Kota Yogyakarta telah melampaui 20 persen dan pemerintah menyediakan bantuan bagi warga yang belum memiliki kepesertaan BPJS. Menurutnya, kepastian regulasi, waktu kerja, dan pembayaran juga diperlukan untuk mendukung penempatan dokter spesialis di daerah yang membutuhkan.
Kegiatan ini selaras dengan SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui pembahasan pencegahan penyakit dan penguatan layanan kesehatan. SDG 4 Pendidikan Berkualitas melalui pembelajaran mahasiswa mengenai kebijakan kesehatan. SDG 11 Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan melalui perhatian terhadap pengelolaan sampah dan sanitasi. SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat. (Kontributor: Nanda Melania D.).




