FK-KMK UGM. Center for Bioethics and Medical Humanities (CBMH) turut berpartisipasi dalam The 4th International Conference on Community Engagement and Education for Sustainable Development (ICCEESD) 2026 untuk membagikan pengalaman pengembangan Social Prescribing berbasis komunitas bagi pasien tuberkulosis (TBC). Konferensi yang berlangsung pada 1–3 Oktober 2026 di Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada tersebut mengangkat tema Strengthening Education for Sustainability Towards Better Community Engagement dan mempertemukan berbagai pihak yang bergerak dalam pengabdian kepada masyarakat serta pembangunan berkelanjutan.
Dalam konferensi tersebut, CBMH UGM berpartisipasi pada kategori Community Empowerment | Health, Social, Institutional, Rural and Environmental Development. Keterlibatan ini menjadi ruang bagi CBMH UGM untuk membawa pengalaman pengabdian kepada masyarakat ke forum akademik sekaligus berbagi pembelajaran mengenai pendekatan kesehatan yang berangkat dari kondisi dan kebutuhan komunitas.
Presentasi CBMH UGM disampaikan oleh Dr. Dra. Retna Siwi Padmawati, MA, selaku Ketua Kegiatan Pengabdian Masyarakat CBMH UGM. Ia mempresentasikan hasil kegiatan dengan judul “Exploring the Needs for Developing Social Prescribing System for Tuberculosis Patients: A Qualitative Study of Patient and Stakeholder Perspectives in Sriharjo, Bantul, Indonesia.”
Presentasi tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan pengabdian masyarakat CBMH UGM dalam mengembangkan Social Prescribing berbasis komunitas bagi pasien TBC di Kalurahan Sriharjo, Bantul. Program tersebut sebelumnya memperoleh pendanaan Program Pengabdian kepada Masyarakat UGM Tahun Anggaran 2026. Pengembangannya diarahkan untuk memahami kebutuhan pasien sekaligus membangun dukungan yang melibatkan komunitas dan berbagai pemangku kepentingan.
Dalam pelaksanaannya, tim CBMH UGM melakukan observasi dan need assessment bersama UPTD Puskesmas Imogiri II. Proses tersebut dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi dan kebutuhan pasien TBC, termasuk aspek kesehatan, lingkungan, kondisi sosial, serta kemungkinan stigma yang dihadapi pasien. Informasi yang diperoleh kemudian menjadi bagian dari proses untuk memahami kebutuhan dukungan secara lebih utuh.
Kegiatan ini selaras dengan SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui pengembangan dukungan kesehatan yang memperhatikan kebutuhan dan kualitas hidup pasien TBC. Kegiatan ini mendukung SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, fasilitas kesehatan, pemerintah kalurahan, kader, pasien, keluarga, dan komunitas. (Kontributor: Rafi).



