FK-KMK UGM. Diare pada anak kerap dianggap gangguan pencernaan yang lazim. Namun, pada sebagian kasus, rotavirus berada di balik gejala tersebut dan dampaknya bisa jauh lebih serius dari yang dibayangkan.
Kewaspadaan terhadap infeksi inilah yang mengemuka dalam Bedah Buku “Rotavirus: Biologi, Surveilans, dan Diagnostik” di FK-KMK UGM pada Kamis (22/10). Kegiatan yang diselenggarakan bersama UGM Press ini berlangsung secara hybrid, luring di Ruang Theater Perpustakaan FK-KMK UGM dan daring melalui Zoom meeting.
Dalam sambutannya, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FK-KMK UGM, dr. Ahmad Hamim Sadewa, Ph.D., menekankan bobot persoalan tersebut. “Infeksi ini menyebabkan penyakit yang gejalanya cukup berat, sampai terjadi dehidrasi berat yang memerlukan perawatan secara khusus. Insan-insan yang berkecimpung di dalam pendidikan dan juga pelayanan berkewajiban untuk melakukan berbagai hal untuk mencegah hal tersebut,” ujarnya. Harapan senada disampaikan perwakilan UGM Press, M. Iwan Setiawan, A.Md. “Semoga dengan kegiatan bedah buku ini akan semakin memperluas cakrawala keilmuan, sehingga kegiatan bedah buku ini akan memberikan dampak yang baik,” tuturnya.
Diskusi menghadirkan dua penulis, Prof. Dr. dr. Hera Nirwati, M.Kes., Sp.MK(K) dan Dr. Asal Wahyuni Erlin Mulyadi, S.Sos., MPA. Keduanya ditanggapi pembahas dr. Nenny Sri Mulyani, SpA(K) dan Prof. dr. Maria Inge Lusida, Ph.D., SpMK(K), dengan dr. M. Edwin Widyanto Daniwijaya, Ph.D., Sp.MK sebagai moderator.
Para pembahas menilai judul buku ini sangat relevan dengan situasi terkini. Rotavirus merupakan prioritas nasional, sementara efektivitas vaksinnya bervariasi secara global, sekitar 95 persen hingga 40 persen. Karena itu, data surveilans perlu dimanfaatkan sebagai sistem peringatan dini, misalnya untuk mengenali strain baru atau pergeseran kelompok rentan pascavaksinasi.
Prof. Inge menyebut buku ini menyatukan ilmu secara utuh, dari teori virologi dasar hingga kebijakan imunisasi nasional. Ia mengapresiasi rekam jejak riset rotavirus di Indonesia, mulai dari penelitian surveilans UGM bersama peneliti Australia hingga penerapan multiplex qPCR untuk mengenali genotipe virus. Sebagai masukan, ia menyarankan Bab 8 tentang variasi genetik dan evolusi ditempatkan sebelum Bab 6 dan 7 agar alur pembahasan lebih runtut. Ia juga mengingatkan bahwa meski pola musiman penting bagi kesiapan layanan, jadwal vaksinasi tetap harus mengikuti batas usia kronologis bayi.
Menurut Prof. Inge, buku ini mengajak pembaca melihat rotavirus secara lebih luas, from bench to bedside, to clinical and public health application.
Kegiatan ini sejalan dengan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui upaya pencegahan penyakit infeksi pada anak, SDG 4: pendidikan berkualitas, serta SDG 17: kemitraan untuk mencapai tujuan. (Reporter: Balanca Qolta).


