dr. Santi Yuliani, M.Sc., Sp.KJ (K): Memahami Jiwa Lewat Otak dan Media Sosial

Kehidupan sehari-sehari adalah bagian dari area kesehatan mental. Membahas permasalahan sehari-hari dapat menjadi jembatan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang begitu melekatnya permasalahan kesehatan mental dengan keseharian. Misalnya, konflik pertemanan, hubungan beracun (toxic relationship), hingga kasus perselingkuhan. Ternyata, berbagai permasalahan tersebut ada kaitannya dengan otak.

Itulah topik kesehatan mental yang sering dibagikan oleh dr. Santi Yuliani, M.Sc., Sp.KJ (K), psikiater klinis di Soerojo Hospital, Magelang, sekaligus pendidik kesehatan mental di media sosial. Dalam kesehariannya, dr. Santi menghadapi kasus kesehatan mental yang tidak hanya seputar gangguan kepribadian, tetapi juga permasalahan sehari-hari yang menyangkut hubungan interpersonal.

Sejak menempuh pendidikan Kedokteran di Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 1997, ia memiliki ketertarikan pada hubungan otak dan perilaku. Ternyata, otak memegang peranan penting dalam ilmu kesehatan mental. Sementara itu, selama belajar di FK UGM, ilmu kedokteran jiwa seolah merupakan ilmu dengan subjek yang abstrak dan tidak tampak dibandingkan ilmu kedokteran lainnya. Padahal, garis dasar dari ilmu kesehatan mental adalah kesehatan otak.

“Makanya, saya ingin mempelajari lebih lanjut bahwa sebenarnya hubungan otak dan perilaku dapat memunculkan kondisi mental tertentu dan perilaku yang bermasalah. Selain itu, tentang stigma. Saya heran banget, kenapa masyarakat memiliki stigma yang buruk tentang orang yang mencari bantuan kesehatan mental. Saya ingin melihat hal itu lebih dalam,” jelas dr. Santi tentang alasannya melanjutkan studi Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa.

Pola Pikir Baru

Melanjutkan studi Spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa di FK UGM pada 2006 mengarahkan dr. Santi pada pola pikir baru. Dahulu, perempuan asal Yogyakarta tersebut masih mengotak-ngotakkan antara kesehatan mental dan kesehatan fisik.

Namun, semakin ia belajar lebih dalam tentang kesehatan mental, dr. Santi menyadari bahwa ilmu kesehatan mental tidak bisa dipisahkan dengan kondisi kesehatan fisik. Ia berpendapat, psikiater seharusnya bekerja di semua lini kedokteran, karena tidak ada kesehatan mental yang sempurna tanpa fisik yang sehat, begitu pula penyembuhan kondisi sakit fisik tidak akan sempurna jika mentalnya tidak ditangani oleh tenaga kesehatan.

“Jadi, ternyata, pendekatan kesehatan mental bisa menyempurnakan kesembuhan pasien yang mengalami kondisi kesehatan fisik lainnya. Begitu juga ternyata apabila kesehatan fisik seseorang ini paripurna, itu akan membantu proses penyembuhan kesehatan mental seseorang. Itu yang saya pelajari dan menurut saya semakin hari semakin menarik, dan itu bisa diaplikasikan di kehidupan sehari-hari dan praktik-praktik saat ini,” tutur dr. Santi.

Setelah lulus sebagai dokter spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa pada 2009, dr. Santi turut menjadi saksi perkembangan pesat ilmu kesehatan mental, salah satunya pada 2014 menjadi titik mula berkembangnya alat-alat elektrofisiologi di bidang kesehatan mental. Saat itu, dr. Santi yang sudah berpraktik di Rumah Sakit (RS) Soerojo, Magelang, menghadapi alat-alat baru tersebut, seperti Elektroensefalogram (EEG), neurofeedback, dan transcranial stimulation. Hal itu membuat dr. Santi semakin termotivasi untuk mengembangkan ilmunya, sehingga dapat menjelaskan bagaimana kinerja otak mempengaruhi perilaku dan mental seseorang.

Puncaknya, pada 2019, pengetahuan masyarakat tentang kesehatan mental meningkat, sehingga kebutuhan tenaga kesehatan mental juga meningkat. Hal ini juga mendorong tenaga profesional di bidang kesehatan mental untuk terus mengembangkan ilmu.

Menjadi Pendidik Kesehatan Mental di Media Sosial

Saat pengetahuan masyarakat tentang kesehatan mental mencapai titik puncak, Covid-19 justru mewabah di Indonesia. Jarak antar manusia pun terbentang, baik secara fisik, emosional, maupun sosial. Sebagai psikiater klinis, dr. Santi turut merasakan dampak pandemi. Ia tidak bisa bertemu dan berdiskusi dengan pasiennya secara langsung dalam waktu yang lama. dr. Santi merasa, keterbatasan waktu konsultasi akibat pandemi dapat menyebabkan keterbatasan informasi yang disampaikan. Kondisi tersebut memunculkan inisiatif dr. Santi untuk memberikan edukasi kesehatan mental di media sosial secara gratis, tanpa bertemu, serta dapat diakses di mana saja dan kapan saja melalui gawai.

Selain karena pandemi, melalui media sosial, dr. Santi ingin kembali membongkar stigma kesehatan mental yang tidak tampak dan abstrak melalui pendekatan ilmiah yang mudah dipahami audiens media sosial, seperti orang depresi yang dianggap karena tidak bersyukur dan gangguan-gangguan mental lainnya yang dipandang berkaitan dengan makhluk halus. 

“Dengan saya membagikan pengetahuan yang berdasarkan otak kepada masyarakat, saya berharap bahwa masyarakat lebih memahami kedokteran jiwa, kesehatan mental. Kesehatan mental ini adalah hal yang sama seperti kesehatan fisik; ada orangnya, penyebabnya jelas, gangguannya di mana juga ada, sehingga harapannya informasi praktis yang saya berikan ini bisa membuat masyarakat dan juga tenaga kesehatan lepas dengan stigma. Menjelaskan cara kerja otak turut menjelaskan mekanisme biologis yang membantu masyarakat memahami bahwa kalau punya gangguan mental, datang ke psikiater itu sama seperti punya gastritis, hipertensi, jantung, dan lain-lain,” ujar alumni Magister Ilmu Kedokteran Klinis FK-KMK UGM tersebut.

Selama menjadi pendidik kesehatan mental di media sosial, khususnya melalui Instagram @santi_psychiatrist, topik yang dibahas justru berkaitan dengan permasalahan sehari-hari, seperti konflik pertemanan, menghadapi orang yang toxic, hingga perselingkuhan. Melalui berbagai konten, ia mengambil perspektif berbasis otak, seperti kaitannya dengan testosteron, estrogen, dopamin, serotonin, oksitosin, termasuk bagaimana gen mempengaruhi perilaku. dr. Santi berharap, dengan membahas kesehatan mental berbasis otak, masyarakat tidak akan malu datang ke psikiater.

“’Dok, saya kok bolak-balik selingkuh, ya? Otak saya ada masalah nggak ya?’ Selama ini kan kesannya cuma moral saja. Padahal, sebenarnya mungkin mereka yang melakukan perselingkuhan pun tidak punya kendali. Apa penyebab tidak punya kendali? Apakah neurochemical imbalance? Apakah memang punya genetis dopamine receptor D4 terlalu panjang, ada 7 alel? Jadi, modifikasi genetis itu perlu kita masukkan dalam penanganan kesehatan mental,” terangnya.

Selain itu, topik yang paling kompleks dibahas, tetapi penting untuk diketahui masyarakat, adalah neurobiologi. Dalam unggahan konten edukasinya, dr. Santi kerap menyertakan gambar otak untuk menunjukkan sisi kinerja otak terkait isu yang dibahas. Dengan memahami kinerja otak, menurut dr. Santi, masyarakat akan dapat memahami fungsi dari mental individu. Berkat itu, para warganet dan pengikut media sosial Instagram dr. Santi menjadi paham tentang bagian-bagian otak, seperti hippocampus, amigdala, hingga prefrontal cortex.

Tak hanya itu, menurut dr. Santi, stigma tentang obat psikiatri juga masih luas di kalangan masyarakat. Padahal, obat-obatan dari psikiater bukanlah obat yang dapat menyebabkan candu, seperti stigma yang meluas selama ini. Oleh karena itu, menjelaskan mekanisme kerja obat kepada pasien adalah hal yang kompleks, tetapi penting baginya.

“Harapannya, masyarakat menjadi bisa memahami bahwa opsi dalam terapi jiwa, terapi mental, tidak hanya obat. Ada psikoterapi yang lain dan terapi berbasis neurostimulasi,” terangnya.

Lantas, bagaimana dinamika pertanyaan maupun komentar audiens di media sosial terhadap konten edukasi yang diberikan?

dr. Santi menjelaskan, dari sekian pertanyaan maupun komentar audiens, ada pula anti-psychiatry dan anti-medication yang berkomentar. Bahkan, ia juga menemukan komentar tidak menyenangkan di dalam kolom komentar konten edukasinya. Namun, dr. Santi dapat mengatasinya dengan menggunakan fitur yang disediakan oleh Instagram untuk menangani ujaran tidak menyenangkan.

“Bukan karena tidak berani menghadapi, tapi followers itu kan saling membaca komentar satu sama lain. Jangan sampai komentar-komentar negatif atau kolom komentar yang dipenuhi seperti itu akan mengganggu kestabilan mental followers yang lain. Sedangkan, tujuan mengedukasi kan untuk membantu lebih sehat,” ujarnya.

Antara Liaison Psychiatry, Electrophysiology dan Neuroimaging Psychiatry

Selain menjadi psikiater klinis di RS Soerojo, dr. Santi turut berperan sebagai konsultan liaison psychiatry sejak 2012. Ia resmi tersertifikasi sebagai fellow of consultation liaison psychiatry pada 2016 di St. Vincent’s Mental Health, University of Melbourne, Australia.

Sebagai konsultan liaison psychiatry, dr. Santi berperan sebagai jembatan antara pasien dengan dokter spesialis lain. Ia mencontohkan, dirinya pernah membantu menenangkan ibu hamil yang gelisah dan panik karena akan menjalani operasi Caesar, sehingga proses operasinya dapat berjalan lancar. Selain itu, dr. Santi juga melakukan pendampingan kepada para penderita diabetes yang akan melakukan amputasi, agar mereka dapat menerima kondisinya dengan baik selama proses menuju dan setelah amputasi.

“Jadi, Consultation Liaison Psychiatry itu menjembatani antara dua bidang kesehatan, yaitu mental dan fisik, supaya pasien mendapatkan kesembuhan secara holistik,” ucap dr. Santi.

Dokter yang mengambil subspesialis Konsultan Elektrofisiologi dan Neuroimaging Psikiatri di Kolegium Psikiatri Indonesia itu juga menggunakan pendekatan-pendekatan berbasis otak. Dalam praktiknya, otak tidak hanya sebagai hardware dan neurotransmiter, tetapi juga electricity. 

“Jadi, kita melakukan diagnosis tidak hanya sekadar wawancara atau menggunakan alat skrining berupa instrumen, tetapi kita melakukan pencitraan otak, QEEG (Quantitative Electroencephalography), bahkan kalau perlu kita lakukan pemeriksaan lainnya, seperti MRI Fungsional untuk menentukan apakah sites-nya ini sesuai dengan diagnosis kita,” terangnya.

Mahasiswa Doktor hingga Anggota FIDES WHO

Sejak 2021 hingga sekarang, dr. Santi sedang menjalani studi Program Doktor Bidang Neuropsikiatri di FK-KMK UGM. Dalam disertasinya, dr. Santi membahas consultation liaison psychiatry dan elektrofisiologi. Penelitiannya berfokus pada efektivitas neurofeedback dalam memperbaiki kondisi depresi pada pasien yang mengalami chronic pain.

Berdasarkan data yang diperoleh, 60 persen orang dengan chronic pain mengalami depresi. Sehingga, tujuan penelitian tersebut membantu memperbaiki depresi pasien chronic pain melalui neurofeedback. Selama ini, ada dua modal yang diberikan pada pasien yang mengalami chronic pain, yaitu psikoterapi dan farmakoterapi. Ia pun mencoba menciptakan salah satu modalitas baru untuk membantu kualitas pemulihan chronic pain pasien, sehingga depresi yang dialami pasien juga dapat diperbaiki.

“Selain melihat skor depresi dan skor nyerinya, kita juga menggunakan alat ukur berupa pengukuran norepinephrine. Jadi, ada pemeriksaan hasil yang betul-betul objektif, yaitu berupa kadar norepinephrine-nya. Jadi, pasiennya adalah pasien neurologi,” jelasnya.

dr. Santi juga tergabung sebagai anggota FIDES, yaitu jejaring diluncurkan oleh World Health Organization (WHO) pada 2020 untuk memobilisasi para pembuat konten kesehatan untuk melawan misinformasi dan meningkatkan konten berbasis bukti. Harapannya, para pembuat konten kesehatan di media sosial, termasuk mengenai kesehatan mental, dapat membantu menyebarkan informasi kesehatan mental dengan tepat.

Setiap bulan, dr. Santi menerima informasi, data, dan penelitian terbaru dari FIDES untuk menyediakan referensi dalam membuat konten edukasi yang akan dibagikan di media sosial. Ia turut mengikuti forum daring rutin yang diselenggarakan FIDES secara berkala terkait data-data dari WHO yang didapatkan, seperti angka depresi terkini hingga pengobatan terbaru. Sebagai bagian dari FIDES, ia juga diperkenankan untuk membagikan unggahan konten yang telah dibuat kepada FIDES.

“Kontribusi saya adalah membantu, menjadi kepanjangan tangan mereka dari sisi negara Indonesia. Ada beberapa dari Indonesia yang tergabung dalam FIDES. FIDES tidak hanya di kesehatan mental. Ada yang (dari bidang kedokteran) Anak, ada yang mungkin dari (bidang kedokteran) penyakit yang lain,” jelas dr. Santi.

Masa Depan dan Pesan

Ke depannya, dr. Santi ingin belajar lebih dalam tentang otak, sehingga apa yang ia pelajari dapat disampaikan kembali kepada masyarakat. Harapannya, masyarakat menjadi lebih memahami kesehatan mental, sehingga mereka tidak malu atau ragu untuk mengakses layanan psikiatri atau psikologi untuk membantu mereka mengatasi masalah kesehatan mental. Selain itu, dr. Santi juga berencana untuk membuat buku saku berisi panduan mengenai kesehatan mental atau gejala-gejala kondisi mental yang dapat diakses oleh masyarakat luas.

Kepada para mahasiswa Kedokteran, dr. Santi berpesan bahwa belajar tentang ilmu kedokteran jiwa atau kesehatan mental dengan baik akan sangat bermanfaat di berbagai bidang spesialis mana pun. Dengan mempelajari ilmu kedokteran jiwa, seorang dokter akan mampu berkomunikasi secara baik dengan pasien, berempati kepada pasien, dan menjalin hubungan yang baik dengan pasien maupun keluarga pasien. Pasien pun akan lebih terbuka kepada dokter yang memiliki berbagai kemampuan tersebut. Informasi yang lengkap dari pasien akan membantu diagnosis yang tepat.

“Untuk yang tertarik di bidang psikiatri, harapannya, mohon pelajari ilmu psikiatri dengan benar, karena kita berbicara tentang otak manusia, tempat di mana sumber dari segala sumber yang terjadi di tubuh, perilaku, dan kognitif mereka. Kalau kita memberikan intervensi yang salah kepada otak seseorang, baik secara verbal maupun psikoterapi, itu bisa mengacaukan program otak orang,” kata dr. Santi.

dr. Santi turut menekankan, dokter adalah seseorang yang berurusan dengan manusia. Ada beberapa tahap yang dilalui manusia dalam menghadapi penyakitnya, seperti proses menerima sakit, mendengar diagnosis, dan menjalani terapi. Hal-hal seperti itu membutuhkan empati dari dokter.

“Bahwa kita sangat perlu memahami bahwa setiap kalimat yang keluar dari mulut seorang dokter itu bisa dicerna pasien dengan berbagai macam versi. Jadi, pastikan kalimat-kalimat yang keluar dari mulut kita adalah kalimat-kalimat yang terapeutik,” pesan dr. Santi.

dr. Santi juga berpesan kepada masyarakat bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Apabila masyarakat mengalami kendala dalam kesehatan mental, ia menyarankan untuk tidak ragu dan malu untuk datang ke psikiater. Nantinya, psikiater akan melakukan pemeriksaan untuk mencari diagnosis dan menyampaikan bantuan yang terbaik untuk pasiennya.

“Gangguan mental bisa diobati, gangguan mental bisa ditangani, dan apabila mendapatkan bantuan dari sisi kesehatan, harapannya secara fungsi juga bisa kembali dengan sebaik-baiknya,” tutup dr. Santi. (Penulis: Citra Agusta Putri Anastasia. Editor: Sri Awalia Febriana)