Dosen FK-KMK UGM Publikasikan Studi Ekspresi Klotho pada Ginjal Tikus Terpapar Trimethyltin

FK-KMK UGM. Dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM memublikasikan artikiel ilmiah dengan judul “Alterations of Klotho Protein Expression in the Kidney of Trimethyltin-Exposed Rats” dalam jurnal Medical Molecular Morphology, yang diterbitkan pada 26 Maret 2026. Penelitian ini ditulis oleh Devi Purnamasari Sasongko, Dian Eurike Septyaningtrias, dan Rina Susilowati, serta mengangkat isu penting terkait respons biologis ginjal terhadap paparan senyawa toksik Trimethyltin (TMT).

Studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi dampak sistemik TMT terhadap organ ginjal, khususnya pada perubahan ekspresi protein Klotho yang dikenal berperan dalam proteksi seluler dan proses penuaan. Trimethyltin sendiri merupakan senyawa organotin yang banyak digunakan dalam industri, seperti sebagai bahan aditif dalam produksi plastik, katalis poliuretan dan silikon, hingga pengawet kayu dan pengontrol hama. Di sisi lain, dalam dunia biomedis, TMT juga sering dimanfaatkan sebagai agen untuk memodelkan kondisi degenerasi saraf dalam penelitian eksperimental.

Penelitian dilakukan menggunakan sepuluh tikus jantan galur Sprague–Dawley yang dibagi ke dalam dua kelompok, yakni kelompok kontrol dan kelompok yang diberikan paparan TMT dosis tunggal. Setelah periode observasi selama 28 hari, tim peneliti melakukan evaluasi menyeluruh terhadap fungsi ginjal, perubahan histologis jaringan, serta ekspresi penanda inflamasi dan protein protektif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara klinis fungsi ginjal masih tergolong stabil, yang ditandai dengan tidak adanya perbedaan signifikan pada kadar urea dan kreatinin antara kedua kelompok. Namun demikian, analisis histologis mengungkap adanya perubahan mikro berupa infiltrasi sel inflamasi dan ekspansi mesangial pada ginjal tikus yang terpapar TMT. Selain itu, terjadi peningkatan ekspresi TNF-α pada tubulus distal yang mengindikasikan adanya respons inflamasi terhadap paparan toksik.

Temuan menarik lainnya adalah adanya peningkatan ekspresi protein Klotho pada tubulus ginjal, meskipun tidak diikuti oleh perubahan signifikan pada tingkat mRNA Klotho maupun Nrf2. Hal ini mengindikasikan adanya mekanisme regulasi pasca-transkripsi yang kompleks dalam respons sel terhadap stres akibat paparan zat berbahaya.

Menurut Devi Purnamasari Sasongko, hasil ini memberikan gambaran awal mengenai bagaimana ginjal merespons paparan toksin secara biologis. Ia menekankan bahwa meskipun gangguan fungsi ginjal belum terlihat secara signifikan, perubahan pada tingkat jaringan dan molekuler tetap menjadi sinyal penting untuk ditindaklanjuti dalam penelitian lanjutan.

Penelitian ini berkontribusi terhadap pencapaian SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui pemahaman mekanisme perlindungan organ terhadap paparan toksin. Selain itu, penelitian ini mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas dengan memperkaya literatur ilmiah di bidang biomedis, SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pengembangan inovasi berbasis riset, SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab dengan meningkatkan kesadaran terhadap dampak bahan kimia, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi lintas institusi dalam penelitian. (Kontributor: Rina Susilowati).