Dosen FK-KMK UGM Berhasil Terapkan Teknik Kombinasi Satu Tahap pada Kasus Obligatory Patellar Dislocation (ODP)

FK-KMK UGM. Dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM memublikasikan artikiel ilmiah dengan judul “Single-Stage Combined Technique of Lateral Release, Quadriceps Lengthening, Semitendinosus Tenodesis and Anteromedial Tibial Tubercle Transfer in Adult Obligatory Patellar Dislocation: A Case Report” dalam jurnal Orthopedic Reviews Volume 18 (2026) yang diterbitkan pada tahun 2026. Artikel ini ditulis oleh dr. Aditya Fuad Robby Triangga, dr. Hamzah Muhammad Hafiq, dr. Ardanariswara Wikantyasa, dr. I Made Dolly, dan dr. Dwi Janesya, yang melaporkan inovasi teknik bedah ortopedi dalam menangani kasus dislokasi patela kompleks pada pasien dewasa.

Penelitian ini berfokus pada pengembangan pendekatan bedah satu tahap (single-stage) untuk menangani obligatory patellar dislocation (ODP), suatu kondisi di mana tempurung lutut (patela) selalu bergeser dari posisinya saat lutut ditekuk. Kondisi ini tidak hanya menimbulkan nyeri dan ketidakstabilan, tetapi juga berdampak signifikan terhadap fungsi gerak dan kualitas hidup pasien. Melalui studi ini, tim peneliti FK-KMK UGM berupaya menghadirkan solusi yang lebih efektif dan efisien dibandingkan pendekatan bertahap yang selama ini lebih umum digunakan.

Pendekatan yang dikembangkan mengombinasikan beberapa teknik dalam satu prosedur operasi, yaitu lateral release untuk mengurangi tarikan jaringan lateral, quadriceps lengthening guna mengatasi kekakuan otot paha, semitendinosus tenodesis yang disertai rekonstruksi medial patellofemoral ligament untuk meningkatkan stabilitas medial, serta anteromedial tibial tubercle transfer untuk memperbaiki posisi dan jalur gerak patela. Kombinasi teknik ini dirancang untuk mengoreksi ketidakseimbangan jaringan lunak sekaligus memperbaiki malalignment tulang secara menyeluruh.

Hasil yang diperoleh menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada stabilitas patela dan fungsi lutut pasien setelah menjalani prosedur tersebut. Pasien dilaporkan mampu kembali melakukan aktivitas sehari-hari dengan lebih baik, tanpa keluhan ketidakstabilan seperti sebelumnya. Temuan ini memberikan bukti klinis bahwa pendekatan satu tahap dapat menjadi alternatif yang efektif dalam menangani kasus ODP pada pasien dewasa, yang selama ini dikenal kompleks dan menantang.

Lebih lanjut, penelitian ini juga menegaskan pentingnya inovasi dalam praktik klinis berbasis bukti untuk meningkatkan kualitas layanan kesehatan. Dengan mengintegrasikan berbagai teknik dalam satu prosedur, pendekatan ini berpotensi mengurangi durasi perawatan, risiko komplikasi, serta beban biaya bagi pasien.

Penelitian ini sejalan dengan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui peningkatan kualitas intervensi medis dan hasil klinis pasien. Selain itu, penelitian ini juga mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas dengan memperkaya khazanah ilmu kedokteran, serta SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pengembangan teknik bedah inovatif berbasis riset. Kolaborasi antarpeneliti dalam studi ini juga mencerminkan implementasi SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan dalam mendorong kemajuan ilmu pengetahuan dan pelayanan kesehatan. (Kontributor: dr. Aditya Fuad Robby Triangga).