FK-KMK UGM. Dosen dan peneliti Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan talkshow kesehatan yang membahas peningkatan kasus campak menjelang periode mudik Lebaran. Diskusi ini menjadi ruang edukasi publik untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap penyakit menular yang berpotensi meningkat seiring dengan mobilitas penduduk. Kegiatan talkshow bertajuk “Kasus Campak Naik Jelang Mudik, Haruskah Kita Panik?” diselenggarakan secara daring oleh Pusat Kedokteran Tropis Universitas Gadjah Mada pada 13 Maret 2026.
Direktur Pusat Kedokteran Tropis UGM, Dr. dr. Citra Indriani, M.P.H., dalam sambutannya menjelaskan bahwa kegiatan TropmedTalk merupakan bagian dari upaya edukasi kepada masyarakat mengenai isu kesehatan yang sedang berkembang. “Melalui forum diskusi ini kami ingin mengupas apa saja faktor yang mempengaruhi peningkatan kasus serta bagaimana langkah pencegahan yang dapat dilakukan,” ujarnya. Talkshow ini menghadirkan tiga narasumber dari kalangan pemerintah daerah, rumah sakit pendidikan, dan akademisi yang memiliki keahlian di bidang epidemiologi dan kesehatan masyarakat.
Narasumber pertama, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta, dr. Ari Kurniawati, memaparkan bahwa tren kasus campak di wilayah Yogyakarta menunjukkan peningkatan dalam beberapa waktu terakhir. Hingga minggu ke-9 tahun 2026 tercatat sebanyak 73 kasus campak terkonfirmasi, atau meningkat sekitar 5,6 kali lipat dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Kasus tersebut paling banyak ditemukan pada anak usia 2 hingga 9 tahun.
“Namun sebagian juga terjadi pada bayi di bawah sembilan bulan yang belum cukup umur untuk mendapatkan imunisasi,” ungkap dr. Ari. Kondisi ini menunjukkan pentingnya perlindungan melalui kekebalan kelompok yang hanya dapat tercapai apabila cakupan imunisasi masyarakat berada pada tingkat yang tinggi.
Penjelasan mengenai aspek klinis penyakit campak disampaikan oleh dokter spesialis anak RSUP Dr. Sardjito, Dr. dr. Ida Safitri Laksanawati, Sp.A(K). Ia menjelaskan bahwa campak merupakan penyakit yang sangat menular. “Satu orang penderita dapat menularkan penyakit ini ke 12 hingga 18 orang lain,” ungkapnya.
Gejala campak biasanya diawali dengan demam tinggi yang disertai batuk, pilek, dan mata merah, kemudian diikuti munculnya ruam pada kulit yang biasanya dimulai dari area kepala sebelum menyebar ke seluruh tubuh. Hingga saat ini belum terdapat obat khusus untuk menyembuhkan campak, sehingga penanganan yang dilakukan bersifat suportif. Oleh karena itu, imunisasi tetap menjadi langkah pencegahan yang paling efektif.
Dalam diskusi tersebut, dosen Departemen Biostatistik, Epidemiologi dan Kesehatan Populasi FK-KMK UGM, dr. Risalia Reni Arisanti, M.P.H., menekankan pentingnya cakupan imunisasi yang tinggi untuk membentuk kekebalan kelompok atau herd immunity. Menurutnya, cakupan vaksinasi perlu mencapai minimal 95 persen agar mampu melindungi kelompok rentan seperti bayi yang belum cukup umur untuk divaksinasi, lansia, serta individu dengan daya tahan tubuh yang rendah. Ia juga mengingatkan bahwa mobilitas masyarakat yang meningkat selama periode mudik dapat memperbesar risiko penularan campak antarwilayah. Selain itu, penyakit ini tidak hanya menyerang anak-anak, tetapi juga dapat terjadi pada orang dewasa yang belum memiliki kekebalan terhadap virus campak.
Para narasumber sepakat bahwa masyarakat tidak perlu panik menghadapi situasi peningkatan kasus campak menjelang mudik Lebaran. Sebaliknya, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dengan melakukan langkah-langkah pencegahan yang tepat. Salah satu langkah penting yang dianjurkan adalah memastikan status imunisasi anak telah lengkap sebelum melakukan perjalanan. Apabila terdapat imunisasi yang terlewat, masyarakat dapat melakukan imunisasi kejar di fasilitas kesehatan terdekat.
Keamanan vaksin juga telah ditegaskan melalui fatwa Majelis Ulama Indonesia pada tahun 2016 yang menyatakan bahwa imunisasi diperbolehkan sebagai ikhtiar untuk menjaga kesehatan dan melindungi masyarakat dari penyakit menular. Efek samping yang muncul setelah imunisasi umumnya bersifat ringan, seperti demam ringan atau nyeri pada area suntikan.
Selain memastikan kelengkapan imunisasi, masyarakat juga perlu mengenali gejala campak sejak dini. Gejala tersebut antara lain demam, batuk, pilek, mata merah, serta munculnya ruam pada kulit. Apabila mengalami gejala tersebut, masyarakat dianjurkan untuk membatasi kontak dengan orang lain, terutama kelompok rentan seperti bayi, ibu hamil, lansia, dan individu dengan sistem kekebalan tubuh yang rendah. Penerapan perilaku hidup bersih dan sehat juga tetap penting dilakukan, misalnya dengan menjaga kebersihan tangan, menggunakan masker ketika sedang sakit, serta memperhatikan kondisi kesehatan sebelum melakukan perjalanan.
Kegiatan edukasi ini juga sejalan dengan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui upaya edukasi kesehatan masyarakat mengenai pencegahan penyakit menular dan pentingnya imunisasi untuk menjaga kesehatan masyarakat. SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui penyelenggaraan forum ilmiah yang menyebarkan pengetahuan berbasis riset kepada masyarakat luas. Selain itu, kegiatan ini juga mendukung SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara institusi akademik, pemerintah daerah, serta fasilitas pelayanan kesehatan dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu kesehatan publik. (Kontributor: Muhammad Ali Mahrus).



