Dokter Anestesi DIY Edukasi Warga tentang Pertolongan Henti Jantung dalam Peringatan Hari Anestesi Dunia 2026

FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) memiliki perhatian terhadap penguatan pengetahuan dan keterampilan kegawatdaruratan di masyarakat. Sejalan dengan upaya tersebut, Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (PERDATIN) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyelenggarakan program Anestesi Edukasi Emergensi untuk Masyarakat (ADEM) di lima kabupaten dan kota di DIY pada 9–13 Oktober 2026. Kegiatan ini melibatkan pelajar, anggota Search and Rescue (SAR), pelaku wisata, jamaah masjid, serta pegawai instansi pelayanan publik untuk meningkatkan kemampuan mengenali kondisi darurat dan memberikan pertolongan awal kepada korban henti jantung sebelum bantuan medis tiba.

Program ADEM menjadi bagian dari peringatan Hari Anestesi Dunia atau World Anaesthesia Day 2026. Melalui pelatihan yang menyasar berbagai kelompok masyarakat, dokter spesialis anestesiologi berupaya memperluas pemahaman bahwa pertolongan pada kondisi gawat darurat tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan. Masyarakat yang berada paling dekat dengan korban juga dapat berperan penting melalui pengenalan tanda kegawatdaruratan, pemanggilan bantuan medis, dan pelaksanaan Resusitasi Jantung Paru (RJP).

Peringatan Hari Anestesi Dunia tahun ini sekaligus menandai 180 tahun perkembangan anestesi modern. Tonggak sejarah tersebut merujuk pada demonstrasi penggunaan eter oleh William T.G. Morton di Massachusetts General Hospital pada 16 Oktober 1846. Untuk peringatan 2026, World Federation of Societies of Anaesthesiologists (WFSA) mengangkat tema “Before, During and Beyond Surgery”. Tema ini menegaskan bahwa kontribusi dokter anestesiologi mencakup seluruh perjalanan perawatan pasien, bukan hanya ketika tindakan pembedahan berlangsung.

Pelatihan ADEM dilaksanakan secara bertahap di lima wilayah DIY dengan menyesuaikan lokasi dan karakteristik pesertanya. Kota Yogyakarta menjadi lokasi pembuka pada Jumat, 9 Oktober 2026, di SMP-SMA Kinderstation School Yogyakarta. Sebanyak 50 peserta mengikuti pelatihan yang dipandu dr. Yudistira Tjokronolo, Sp.An-TI, dr. Dhanty Dwita Sari, Sp.An-TI, dan dr. Hendi Prihatna, Sp.An-TI.

Pada Sabtu, 10 Oktober 2026, kegiatan berlanjut di Kabupaten Bantul dan Kabupaten Gunungkidul. Pelatihan di Bantul berlangsung di Pendopo Pantai Baru, markas SAR Bantul, dengan melibatkan 29 peserta. Materi disampaikan oleh dr. Adi Indra Wijaya, MMR, Sp.An-TI, dr. Anwarudin Latif, Sp.An-TI, FIP, AIFO-K, dr. Arif Setyo Wibowo, Sp.An-TI, dan dr. Diena Ashlihati, Sp.An-TI.

Pada waktu yang sama, pelatihan di Gunungkidul dilaksanakan di Pokdarwis Tanjungsari, puskesmas, dan RSUD Wonosari. Sebanyak 50 peserta memperoleh pendampingan dari dr. Bintang Berlian, Sp.An-TI, MPH, dr. Dika Rezkiawan, Sp.An-TI, dr. Adi Hidayat, Sp.An-TI, dr. Yusda Kris Sari Wijaya, Sp.An-TI, dan dr. Ezra Senna Pradesya, Sp.An-TI. Pelaksanaan di sejumlah lokasi tersebut memperluas jangkauan edukasi kegawatdaruratan kepada kelompok masyarakat yang beraktivitas di lingkungan pelayanan kesehatan dan pariwisata.

Kabupaten Sleman menjadi lokasi pelaksanaan berikutnya pada Minggu, 11 Oktober 2026 di Masjid Baiturrahman, Tajem, dengan 50 peserta. Kegiatan berjalan lancar, ditandai dengan antusiasme peserta dalam menyimak materi dan mengajukan pertanyaan. Sesi ini menghadirkan dr. Ezra Senna Pradesya, Sp.An-TI, dr. Adijaya Dita Pratama, Sp.An-TI, dr. Galang Martin Adityo, Sp.An-TI, dan dr. Dimaz Prabu Ginanjar Setiadi.

Sesi sore dilaksanakan mulai pukul 15.30 WIB di Serambi Masjid Krapyak dan diikuti 30 peserta. Dr. dr. Muhammad Yusuf Hisam, Sp.An-TI, FIP, serta dr. Muhammad Iqbal, Sp.An-TI, memberikan materi mengenai pertolongan awal pada korban henti jantung. Peserta menilai pelatihan tersebut bermanfaat karena memberikan pemahaman tentang tindakan yang dapat dilakukan orang awam ketika menjadi orang pertama yang menemukan korban sebelum tim kesehatan tiba.

Rangkaian kegiatan ditutup di Kabupaten Kulon Progo pada Selasa, 13 Oktober 2026 dilaksanakan di Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora), Dinas Kesehatan, serta RSUD Wates. Sebanyak 35 peserta mengikuti pembelajaran bersama dr. Ragil Catur Nugroho, Sp.An-TI, dr. Christiana Trijayanti, Sp.An-TI, dan dr. Resyana Widyayani, Sp.An-TI.

Seluruh sesi menitikberatkan pada praktik langsung agar peserta memahami langkah awal ketika menghadapi kegawatdaruratan. Dalam kasus henti jantung, tindakan yang cepat dan tepat pada menit-menit pertama sangat menentukan peluang keselamatan korban. Karena itu, kemampuan mengenali kondisi korban, segera meminta bantuan medis, dan melakukan RJP sesuai pelatihan menjadi keterampilan penting yang perlu dimiliki masyarakat.

Kegiatan ini selaras dengan SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui peningkatan keterampilan pertolongan awal pada kondisi darurat. SDG 4 Pendidikan Berkualitas melalui edukasi praktis yang menjangkau beragam kelompok masyarakat SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi organisasi profesi kesehatan, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, pengelola pariwisata, dan komunitas masyarakat. (Kontributor: Nashiruddin, Irham Hanafi, Gilar, Hendro).