FK-KMK UGM. Departemen Fisiologi, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada kembali menyelenggarakan Webinar Series Ramadhan 2026/1447 Hijriah bertajuk “NGASO (Ngabuburit Bersama Fisiologi)” Episode 2 dengan tema “Hormonal Reprogramming melalui Puasa.” Kegiatan ini menjadi ruang edukasi ilmiah yang membahas perubahan fisiologis tubuh selama menjalankan ibadah puasa. Webinar tersebut dilaksanakan pada Kamis, 5 Maret 2026 secara daring dan diikuti oleh lebih dari 50 peserta yang berasal dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, dosen, dokter, praktisi kesehatan, hingga masyarakat umum.
Webinar ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Annual Scientific Meeting (ASM) FK-KMK UGM yang juga menjadi bagian dari peringatan Dies Natalis ke-80 Lustrum XVI FK-KMK UGM. Melalui kegiatan ini, Departemen Fisiologi berupaya menghadirkan forum ilmiah yang tidak hanya relevan dengan perkembangan ilmu kesehatan, tetapi juga dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, khususnya pada bulan Ramadhan.
Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber dari Departemen Fisiologi FK-KMK UGM, yaitu dr. R. Jajar Setiawan, M.Sc., Ph.D. dan Prof. Dr. dr. Dicky Moch Rizal, M.Kes., Sp.And-K.Fer., AIFM. Webinar dipandu oleh Dr. dr. Sri Lestari Sulistyo Rini, M.Sc. selaku moderator yang memfasilitasi jalannya diskusi serta interaksi antara narasumber dan peserta.
Pada sesi pertama, dr. Jajar Setiawan memaparkan materi mengenai perubahan hormon metabolik selama menjalankan puasa Ramadhan. Ia menjelaskan bahwa pola makan yang berlangsung sepanjang hari tanpa jeda yang cukup dapat menyebabkan kadar insulin tetap tinggi dalam jangka waktu lama. Kondisi tersebut berpotensi memicu resistensi insulin yang berkaitan dengan berbagai gangguan metabolik. Sebaliknya, pola puasa yang memberikan jeda waktu tanpa asupan makanan memungkinkan tubuh untuk “mengistirahatkan” hormon insulin. Hal ini mendorong tubuh beralih dari penggunaan glukosa menuju pemanfaatan cadangan lemak sebagai sumber energi utama melalui proses ketogenesis.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa puasa juga dapat meningkatkan sensitivitas insulin, memperbaiki respons reseptor leptin, serta membantu mengatur sistem neuroendokrin yang berperan dalam mengendalikan rasa lapar dan sinyal kenyang di hipotalamus. Selain itu, puasa turut mendorong proses autofagi, yaitu mekanisme biologis yang memungkinkan sel membersihkan komponen yang rusak atau tidak lagi diperlukan. Proses ini membantu sel bekerja lebih efisien sehingga tubuh mampu mempertahankan fungsi metabolik secara optimal.
Pada sesi kedua, Prof. Dicky Moch Rizal membahas hubungan antara puasa dengan sistem endokrin reproduksi. Dalam pemaparannya dijelaskan bahwa puasa Ramadhan merupakan kewajiban bagi umat Islam yang pada umumnya memberikan dampak positif bagi kesehatan fisik maupun spiritual. Berdasarkan berbagai hasil penelitian, puasa dapat memengaruhi beberapa hormon reproduksi, termasuk kadar testosteron pada pria. Namun demikian, perubahan yang terjadi bersifat sementara dan biasanya kembali ke kondisi normal setelah periode Ramadhan berakhir.
Prof. Dicky menekankan bahwa hingga saat ini tidak terdapat bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa puasa Ramadhan memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap kesehatan reproduksi secara keseluruhan. Adaptasi fisiologis yang terjadi selama puasa merupakan respons alami tubuh yang justru menunjukkan kemampuan sistem biologis dalam menjaga keseimbangan fungsi tubuh.
Webinar ini selaras dengan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penyebarluasan pengetahuan ilmiah mengenai manfaat puasa terhadap kesehatan metabolik, hormonal, dan reproduksi sehingga masyarakat dapat menjalankan pola hidup yang lebih sehat, SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui penyelenggaraan webinar sebagai sarana pembelajaran berbasis sains, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi sivitas akademika dalam penyelenggaraan kegiatan ilmiah yang menjadi bagian dari rangkaian Annual Scientific Meeting FK-KMK UGM. (Kontributor:Wisnu Eka Wardana).



