FK-KMK UGM. Dekan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D., FRSPH, hadir sebagai pembicara dalam The NUS-Lancet Pandemic Readiness, Implementation, Monitoring and Evaluation (PRIME) Commission Meeting. Kegiatan diselenggarakan di National University of Singapore (NUS), Singapura, pada 15-17 Januari 2026. Dalam pertemuan tersebut, Prof. Yodi memaparkan presentasi studi kasus yang disusun oleh tim FK-KMK UGM berjudul Exploring Indonesia’s Pandemic Preparedness, Prevention and Response Landscape: A Case Study Approach from the Perspective of Inclusivity and Equity Lenses.
Dalam presentasinya, Prof. Yodi menerangkan pembelajaran penting terkait kesiapsiagaan, pencegahan, dan respons pandemi Covid-19 di Indonesia. Meskipun Indonesia menunjukkan kapasitas respons yang kuat, tetapi berbagai kelompok rentan seperti masyarakat yang hidup di jalanan, khususnya di wilayah Yogyakarta, masih belum terjangkau secara optimal oleh sistem perlindungan sosial dan kesehatan.
Hasil penelitian menunjukkan, akses terhadap bantuan sangat dipengaruhi oleh stabilitas tempat tinggal dan keterikatan administratif. Individu yang memiliki alamat tetap cenderung lebih mudah menerima bantuan, sementara mereka yang berpindah-pindah sering kali ‘tidak terlihat’ oleh sistem. Kondisi ini menyebabkan banyak kelompok jalanan harus memprioritaskan bertahan hidup dibandingkan mendapatkan perlindungan kesehatan. Oleh kartena itu, solidaritas komunitas menjadi mekanisme utama untuk bertahan, seperti memasak dan makan bersama, serta saling berbagi bantuan makanan.
Prof. Yodi menyebut, selama pandemi COVID-19, koordinasi lintas sektor dijalankan melalui satuan tugas yang dipimpin oleh BNPB dan BPBD, dengan sektor kesehatan sebagai penanggung jawab teknis. Aparat keamanan dan kader masyarakat berperan dalam implementasi kebijakan, sementara NGO dan relawan menopang bantuan pangan, tempat tinggal darurat, dan dukungan komunitas.
Namun, koordinasi tersebut belum terlembagakan secara sistematis dalam kerangka Pandemic Prevention, Preparedness, and Response (PPPR). Ketika situasi darurat pandemi mereda, kapasitas kolaborasi ikut melemah karena sangat bergantung pada individu dan momentum krisis, bukan pada sistem yang permanen. Pandemi juga masih diperlakukan sebagai krisis kesehatan yang berdiri sendiri. Padahal, di banyak wilayah, COVID-19 terjadi bersamaan dengan banjir, wabah dengue, dan gangguan ekonomi.
Ke depannya, Prof. Yodi menyoroti pentingnya kepemimpinan lintas sektor yang lebih kuat terutama di tingkat daerah, integrasi data kesehatan dan sosial-ekonomi, pelembagaan inisiatif berbasis komunitas, skema pendanaan fleksibel agar NGO dapat mengelola dana publik secara akuntabel, dan pendekatan kesiapsiagaan pandemi yang inklusif, adil, dan berorientasi pada kerentanan sosial. Tanpa pembenahan struktural tersebut, penanganan pandemi hanya akan kuat saat krisis, tapi rapuh ketika situasi mulai mereda.
Partisipasi Dekan FK-KMK UGM sebagai pembicara di NUS-Lancet PRIME Commission Meeting merupakan salah satu bentuk upaya fakultas dalam mencapai Sustainable Development Goals (SDGs). Kegiatan tersebut mendukung tercapainya SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera; SDG 4: Pendidikan Berkualitas, SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur; SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan; dan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. FK-KMK UGM turut berkontribusi dalam mendorong kemitraan global, khususnya Asia Tenggara, untuk menginisiasi inovasi kesiapsiagaan pandemi dan menciptakan keadilan kesehatan di masa mendatang. (Penulis: Citra/Humas).



