Belajar Gizi: Student Exchange Gizi UGM–Malaysia

Sejak tahun 2024, Departemen Gizi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM menjalin kerja sama erat di bidang tridharma dengan dua universitas ternama di Malaysia, yakni Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) dan Universiti Putra Malaysia (UPM). Salah satu wujud nyata kolaborasi ini adalah program pertukaran mahasiswa (student exchange) yang memberikan pengalaman belajar lintas negara bagi mahasiswa gizi, baik dari Indonesia maupun Malaysia.

Program ini pertama kali diinisiasi pada tahun 2024, ketika mahasiswa dari UPM dan UKM mulai menjalani internship di Yogyakarta. Namun jauh sebelumnya yaitu pada rentang waktu tahun 2016 hingga 2019 setiap tahun beberapa mahasiswa dari Flinders University Australia juga melaksanakan kegiatan pembelajaran berupa program elektif di Departemen Gizi Kesehatan FK-KMK UGM. Program elektif ini diselenggarakan khusus untuk mahasiswa Nutrition and Dietetic, Flinders University, Australia, dengan durasi selama 3 minggu dengan program khusus untuk memperkenalkan berbagai permasalahan gizi di Indonesia. Pada tahun 2025 ini, kegiatan pertukaran mahasiswa menghadirkan empat mahasiswa UKM Malaysia yang mengikuti internship selama tiga minggu. Mereka menjalani pembelajaran intensif di beberapa institusi mitra, antara lain: mempelajari manajemen sistem penyelenggaraan makanan di Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM selama dua minggu, dilanjutkan kegiatan di Puskesmas Melati II dan Bapelkes Magelang. Kegiatan ini berlangsung selama satu minggu untuk mempelajari berbagai persoalan gizi masyarakat, mulai dari stunting, anemia, hingga gangguan akibat kekurangan yodium—suatu masalah yang sudah tidak ditemukan lagi di Malaysia.

Selama dua minggu pertama, para mahasiswa terlibat langsung dalam proses manajemen gizi di rumah sakit: mulai dari perencanaan menu, penghitungan kebutuhan gizi pasien, pemesanan, penyimpanan, persiapan, produksi, distribusi makanan, evaluasi biaya dan sumber daya, pengawasan mutu/keamanan makanan, hingga penyusunan projek.  Tahun ini mahasiswa melakukan inovasi berupa modifikasi menu yang lebih menarik dan dapat meningkatkan selera makan serta asupan gizi pasien.

Kerja sama lintas negara yang dijalin tidak terbatas pada bidang pendidikan semata, seperti program student exchange ini atau kehadiran dosen tamu internasional (international guest lecturer) secara rutin. Kolaborasi ini juga mencakup kegiatan berskala internasional lainnya, termasuk penyelenggaraan simposium internasional (INHESION/The International Nutrition and Health Symposium (INHESION), IUCD/International Virtual Undergraduates Symposium on Clinical Dietetics), riset kolaboratif, serta program pengabdian kepada masyarakat lintas negara.

Pertukaran mahasiswa ini bersifat dua arah. Pada Juli 2025, enam mahasiswa Program Studi Profesi Dietisien UGM berkesempatan menjalani internship di Hospital Sultan Abdul Aziz Shah UPM Malaysia. Dua di antaranya mendapat dukungan pendanaan kompetitif dari Departemen Gizi, sementara empat mahasiswa lainnya berangkat dengan biaya mandiri. Kegiatan ini menjadi ajang berharga untuk menimba ilmu di lingkungan akademik dan layanan kesehatan Malaysia.

Melalui program student exchange, mahasiswa UKM mendapatkan pengalaman berharga dengan dikenalkannya praktik unik di Indonesia, seperti pembuatan enteral feeding, berbeda dengan Malaysia yang umumnya menggunakan produk pabrikan (commercial products). Selain pembelajaran akademik, mereka juga turut merayakan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 2024 dengan mengikuti lomba-lomba khas di lingkungan asrama UGM. Pada akhir pekan, mahasiswa memanfaatkan waktu untuk menjelajahi Yogyakarta dan sekitarnya, mulai dari destinasi wisata budaya hingga kuliner lokal.

Tantangan dan Pengembangan Program

Seperti halnya program internasional lain, ada sejumlah tantangan yang dihadapi, mulai dari urusan administrasi visa hingga penyediaan akomodasi yang sesuai. Namun, semua dapat teratasi berkat koordinasi dan komunikasi intensif antara Departemen Gizi, universitas mitra, dan orang tua mahasiswa.

Perbedaan sistem pendidikan antara Indonesia dan Malaysia menjadi pertimbangan utama dalam pelaksanaan program. Di Malaysia, mahasiswa program gizi sejak awal memilih jalur spesifik—nutrition programs yang berfokus pada gizi masyarakat, atau dietetik program yang lebih berfokus pada gizi klinik. Jalur ini menentukan kurikulum dan kompetensi yang ditempuh.

Sementara itu, di Indonesia, pendekatan yang diterapkan berbeda. Mahasiswa Program Sarjana Gizi terlebih dahulu harus menyelesaikan jenjang sarjana selama empat tahun sebelum melanjutkan ke Program Profesi Dietisien selama 1 tahun apabila ingin memperoleh kompetensi klinis dan sertifikasi sebagai dietisien. Namun saat ini dinamika pendidikan gizi di tingkat nasional mengalami perubahan dengan dibukanya Program Pendidikan Profesi Nutrisionis. Dengan demikian, kurikulum Pendidikan S1 Gizi sekarang ini sedang dalam masa transisi sebelum diberlakukannya kurikulum baru yang menyesuaikan dengan peraturan kolegium gizi di tingkat nasional maupun kurikulum trans disiplin di tingkat Universitas Gadjah Mada. Dalam desain kurikulum baru tersebut, terbuka peluang bagi mahasiswa sarjana untuk mengikuti program outgoing ke institusi mitra luar negeri, seperti UKM maupun UPM.

Departemen Gizi Kesehatan telah melaksanakan kerja sama dengan Hospital Canselor Tuanku Muhriz UKM (HCTM) untuk menyelenggarakan program outgoing student di jenjang profesi.

Departemen Gizi Kesehatan berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas program ini, termasuk dengan adanya Pokja Student Mobility yang anggota timnya yaitu Dr. Artnice Mega Fathima, S.Si, M.Eng dan Dian Pradikta, AMG. Salah satu pengembangan program incoming student ini yaitu rencana penyetaraan kegiatan student exchange setara tiga satuan kredit semester (SKS), agar dapat diintegrasikan dalam kurikulum resmi, terutama bagi mahasiswa asing bergelar. Dengan langkah ini, program ini tidak hanya menjadi ajang untuk memperluas wawasan dan pengalaman praktis, tetapi juga memberikan kontribusi nyata dalam capaian akademik yang diakui secara formal.

Melalui program pertukaran ini, mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga langsung mengalaminya di lapangan. Mereka ditantang untuk mengasah soft skills, seperti kemampuan berkomunikasi lintas budaya, bekerja sama dalam tim, dan beradaptasi dengan sistem yang berbeda.

“Harapannya, program ini terus berjalan secara berkelanjutan, sehingga mahasiswa kita memiliki exposure internasional yang lebih luas. Bagi kami, ini juga menjadi kesempatan penting untuk benchmarking kurikulum agar selalu relevan dengan kebutuhan dunia kerja,” jelas R. Dwi Budiningsari, SP., M.Kes., Ph.D, Ketua Program Studi S1 Gizi FK-KMK UGM.

Dengan semangat kolaborasi dan keberlanjutan, program pertukaran mahasiswa ini diharapkan mampu memperkaya wawasan, memperluas jejaring, sekaligus memperkuat posisi UGM dalam pendidikan gizi di kancah internasional. (Narasumber: R. Dwi Budiningsari, SP., M.Kes., Ph.D. Penulis: Dian Paramitasari. Editor: Yayuk Hartriyanti)