ASEAN Dengue Day, Terobosan Unggulan Penanganan DBD

FK-KMK UGM. Pusat Kedokteran Tropis Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM bekerjasama dengan World Mosquito Program (WMP), dan Kagama menyelenggarakan talkshow “Terobosan dalam Penanggulangan Demam Berdarah Dengue”, Kamis (16/6) untuk memperingati ASEAN Dengue Day, yang mengusung tema “Dengue Masalah Bersama Atasi Bersama”.

Project leader WMP Yogyakarta, yang juga Guru Besar FK-KMK UGM, Prof. dr. Adi Utarini, MSc., MPH., PhD., mengungkapkan bahwa masalah DBD sudah hampir 55 tahun melanda di Indonesia. Banyak upaya yang telah dikerjakan, namun Dengue masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat.

“Hampir seluruh kabupaten di Indonesia melaporkan kasus dengue. Wilayah perkotaan bahkan lebih tinggi kasusnya. Wabah dan kematian terus terjadi dari tahun ke tahun. Obat khusus untuk DBD memang belum ditemukan. Oleh karenanya, upaya pencegahan menjadi jalan terbaik untuk mengatasi masalah ini,” ungkapnya.

Sejumlah inovasi penanganan Dengue di Indonesia telah dilakukan, salah satunya adalah teknologi nyamuk Aedes Aegypti ber-wolbachia dan vaksin dengue. “Berdasarkan hasil penelitian efikasi di kota Jojga, Wolbachia telah diterapkan di kabupaten Sleman dan Bantul. Namun, masyarakat harus tetap melakukan pemberantasan nyamuk seperti gerakan 1 rumah satu pemantau jentik, maupun perilaku hidup sehat,’ terangnya.

Prof. Adi utarini juga berharap, melalui momentum peringatan ASEAN Dengue Day ini mampu menggugah semua pihak untuk bisa berkolaborasi menurunkan kasus Demam Berdarah di Indonesia.

Secara keseluruhan, acara talkshow yang dipandu dr. Citra Indriani, MPH ini terbagi dalam 3 sesi utama. Untuk sesi pertama lebih kepada paparan mengenai pengalaman wilayah Berbah kabupaten Sleman dalam menangani DBD, dengan menghadirkan narasumber: Kepala Puskesmas Berbah, Hari Pratono, M.Kes., dan Kader kesehatan Mangunan Kalitirto Berbah Sleman, Putri Utha.

“Tahun 2019 kasus DBD di Berbah naik tajam, setelah itu kasus semakin turun setelah diterapkan nyamuk ber-Wolbachia. Namun untuk awal tahun ini ada tren kenaikan kasus kembali, ternyata itu untuk kelurahan yang belum ada program si Wolly Nyaman, yang merupakan program nyamuk ber Wolbachia di wilayah Sleman,” terang Hari Pratono.

Program ‘Si Wolly Nyaman’ yang diluncurkan awal 2020 di Sleman dan dilaksanakan pertengahan Mei 2021 ini menurutnya efektif menurunkan kasus DBD di wilayah Berbah kabupaten Sleman.

Pada sesi kedua talkshow, narasumber membahas mengenai implementasi Wolbachia di kabupaten Bantul. Hadir sebagai narasumber dalam sesi kedua ini adalah: Kepala Bidang Pengendalian Penyakin Dinas Kesehatan Bantul, dr. Wahyu Joko Santoso dan Plt. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit DInkes DIY, Setyarini Hestu Lestari, SKM, M.Kes. Sedangkan untuk sesi ketiga, lebih membahas mengenai kasus DBD pada anak yang dipaparkan oleh pakar kesehatan anak, Dr. dr. Ida Safitri Laksanawati, SpA(K). (Wiwin/IRO)

X