Residen Obgin FK-KMK UGM Perkuat Kapasitas Tenaga Kesehatan di RSUD Sambas

FK-KMK UGM. Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi menempatkan residen dalam pelayanan sekaligus penguatan kapasitas tenaga kesehatan di daerah melalui penugasan di RSUD Sambas, Kalimantan Barat. Selama periode Juli–Desember 2026, dr. Yosy Ridinal Fitra, residen semester akhir Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi FK-KMK UGM, turut menjalankan pelayanan kesehatan serta terlibat dalam On The Job Training (OJT) Kegawatdaruratan Ibu dan Anak yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Sambas bersama RSUD Sambas pada 15–17 September 2026.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapan tenaga kesehatan dalam mengenali kegawatdaruratan maternal dan neonatal, melakukan stabilisasi awal, menentukan tata laksana, membangun komunikasi antartenaga kesehatan, hingga mengambil keputusan rujukan secara tepat.

Penanganan kegawatdaruratan ibu dan bayi membutuhkan lebih dari sekadar keterampilan klinis. Setiap tahapan pelayanan, mulai dari mengenali tanda bahaya, memberikan pertolongan awal, melakukan stabilisasi, berkomunikasi dengan fasilitas rujukan, hingga memastikan pasien mendapatkan penanganan lanjutan, memiliki peran dalam keselamatan ibu dan bayi.

OJT Kegawatdaruratan Ibu dan Anak diikuti 18 peserta yang berasal dari enam puskesmas di wilayah Kabupaten Sambas serta dokter umum Instalasi Gawat Darurat RSUD Sambas. Pembelajaran dirancang untuk memperkuat kemampuan peserta dalam menghadapi kondisi kegawatdaruratan maternal dan neonatal yang membutuhkan respons cepat dan terkoordinasi.

Materi pembelajaran juga disesuaikan dengan kondisi yang banyak ditemukan dalam pelayanan rujukan di RSUD Sambas. Berdasarkan data kasus rujukan terbanyak pada 2025, terdapat lima kondisi yang menjadi perhatian, yaitu ketuban pecah dini, preeklampsia berat atau eklampsia, abortus inkomplet, presentasi bokong dalam persalinan, serta partus tidak maju atau kala II lama.

Gambaran tersebut memperlihatkan pentingnya kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama dalam menghadapi kondisi yang berpotensi menjadi kegawatdaruratan. Kemampuan mengenali tanda bahaya sejak dini menjadi langkah awal yang menentukan. Setelah itu, tenaga kesehatan perlu melakukan penanganan dan stabilisasi sesuai kondisi pasien sebelum menentukan proses rujukan.

Pembelajaran OJT tidak hanya berlangsung dalam bentuk pembelajaran di ruang kelas. Pada hari kedua, peserta mengikuti pembelajaran lapangan di RSUD Sambas dengan mengunjungi ruang Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK), ruang nifas, dan ruang perinatologi (Perina). Melalui kegiatan tersebut, peserta dapat melihat secara langsung alur pasien rujukan sejak diterima hingga mendapatkan penanganan dan pemantauan di rumah sakit.

Dalam sistem kegawatdaruratan maternal dan neonatal, rujukan tidak sekadar berarti memindahkan pasien dari satu fasilitas kesehatan ke fasilitas lainnya. Proses tersebut membutuhkan stabilisasi sebelum rujukan, komunikasi antara fasilitas perujuk dan penerima, kesiapan fasilitas penerima, transportasi, pendampingan, serta kesinambungan informasi klinis. Karena itu, hubungan antara puskesmas, Dinas Kesehatan Kabupaten Sambas, dan RSUD Sambas menjadi bagian penting dalam membangun jejaring pelayanan yang responsif terhadap kondisi pasien.

Kegiatan ini selaras dengan SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan kesiapan pelayanan kegawatdaruratan ibu dan anak. SDG 4 Pendidikan Berkualitas melalui pembelajaran dokter spesialis berbasis pengalaman pelayanan. SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara puskesmas, Dinas Kesehatan Kabupaten Sambas, RSUD Sambas, dan FK-KMK UGM. (Kontributor: Munjayati).