FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menyelenggarakan Workshop Pendampingan Percepatan Pembukaan Program Studi Baru PPDS FKIK UMY. Kegiatan dilaksanakan pada Senin (21/9/2026) di Bulaksumur Hall, University Club UGM. Pertemuan ini bertujuan membangun kerja sama dan mekanisme pendampingan antara FK-KMK UGM dan FKIK UMY untuk mempercepat kesiapan pembukaan 12 program studi Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) baru FKIK UMY.
Ke-12 program studi PPDS tersebut antara lain Ilmu Kesehatan Anak, Neurologi, Radiologi, Patologi Klinik, Kedokteran Keluarga dan Layanan Primer (KKLP), Ilmu Kedokteran Jiwa, Ilmu Kesehatan Mata, Jantung dan Pembuluh Darah, Obstetri dan Ginekologi, Orthopaedi dan Traumatologi, Anestesiologi dan Terapi Intensif, serta Ilmu Bedah.
Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FK-KMK UGM, dr. Ahmad Hamim Sadewa, Ph.D., mengatakan, setelah FK-KMK UGM dan FKIK UMY berproses selama dua tahun dalam membahas pengembangan PPDS UMY, kini kedua pihak telah sampai pada proses pembelajaran oleh masing-masing program. PPDS merupakan program andalan dan menjadi salah satu prioritas nasional, sehingga perlu dilakukan koordinasi lebih lanjut antara kedua pihak.
Dalam workshop ini, dr. Hamim menerangkan, FK-KMK UGM dan FKIK UMY akan bersama-sama memperdalam dan mendiskusikan berbagai kegiatan yang nantinya dapat disepakati terkait proses pengembangan dan pembelajaran pada 12 program studi PPDS UMY. Harapannya, kesepakatan yang dihasilkan dapat dituangkan dalam bentuk Perjanjian Kerja Sama (PKS).
“Koordinasi sangat penting sekali, sehingga kita berharap, dalam waktu yang tidak lama, dasar untuk bekerja sama—yaitu PKS—sudah bisa kita susun dan disepakati bersama. Kita juga berharap bahwa berbagai permasalahan yang ada dapat kita bicarakan bersama dan selesai pada hari ini,” harap dr. Hamim.
Wakil Rektor Bidang Pengembangan, Kemahasiswaan, dan Al-Islam Kemuhammadiyahan UMY, Prof. Faris Al-Fadhat, M.A., Ph.D., mewakili UMY mengatakan bahwa pihaknya, baik dari tingkat universitas hingga tingkat fakultas, menjamin penuh penyelenggaraan program PPDS ini. Prof. Faris mengucapkan terima kasih kepada UGM yang telah mendukung penyelenggaraan pendidikan sejak berdirinya UMY dan kini telah mendampingi penyelenggaraan 12 PPDS UMY hingga disetujui oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
“Kami berkomitmen untuk terus mengawal SDM, kurikulum, hingga nanti pada akreditasi pertama dan meluluskan angkatan pertama. Mudah-mudahan ikhtiar kami ini dipandang sebagai bagian dari keseriusan kami untuk memenuhi SDM,” kata Prof. Faris.
Wakil Dekan Bidang Kerjasama, Alumni dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Dr. dr. Sudadi, SpAn-TI, Subsp.N.An(K), Subsp.An.R(K) juga menjelaskan bahwa tujuan workshop ini adalah untuk menghasilkan dokter spesialis yang dapat ditempatkan di daerah luar Jawa sekaligus mendukung pemenuhan kebutuhan dokter spesialis di Indonesia. Oleh karena itu, pertemuan ini akan meneruskan bahasan mengenai naskah akademik, kurikulum, persiapan proses akreditasi, hingga strategi pemenuhan SDM untuk menyelenggarakan PPDS UMY.
Focus Group Discussion (FGD) dilaksanakan dengan melibatkan Ketua Departemen dan 12 Ketua Program Studi PPDS FK-KMK UGM, serta tim teknis pelaksana PPDS FKIK UMY. Hasil diskusi antara kedua pihak pada 12 program studi PPDS antara lain pelaksanaan proses pendampingan masing-masing program studi, kesepakatan monitoring dan evaluasi pelaksanaan pendampingan, hingga percepatan pelaksanaan penandatanganan PKS antara kedua pihak setelah draf PKS disepakati.
Workshop Pendampingan Percepatan Pembukaan Program Studi Baru PPDS FKIK UMY ini sejalan dengan komitmen FK-KMK UGM dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4: Pendidikan Berkualitas, dan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Upaya percepatan pembukaan PPDS ini berkontribusi langsung pada pemenuhan dan pemerataan tenaga dokter spesialis di Indonesia, terutama di luar Pulau Jawa, yang sangat krusial untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat. Selain itu, pendampingan penyusunan kurikulum hingga persiapan akreditasi memastikan terselenggaranya pendidikan kedokteran berkelanjutan yang berkualitas, di mana seluruh target ini diwujudkan melalui sinergi dan kerjasama antarlembaga pendidikan tinggi. (Penulis: Citra/Humas).


