FK-KMK UGM. Sebanyak 15 mahasiswa Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) resmi diterjunkan untuk membantu pemulihan masyarakat pascabencana di Nusa Tenggara Timur (NTT). Langkah ini menjadi bagian dari respons UGM terhadap dampak gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores pada 15 Agustus 2026 dan menyebabkan kerusakan luas di Kabupaten Manggarai.
Prosesi penerjunan Tim Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) UGM Peduli Bencana “Rona Wae Rii” berlangsung di Ruang Sidang Pimpinan Gedung Pusat Balairung UGM, Senin (21/9). Tim yang seluruh anggotanya berasal dari Program Studi Kedokteran FK-KMK UGM ini akan mengabdi selama sebulan, mulai 20 September hingga 20 Oktober 2026, di Kecamatan Wae Rii, Kabupaten Manggarai. Lokasi tersebut merupakan salah satu wilayah yang hingga kini masih berupaya memulihkan diri dari dampak bencana tersebut.
Kegiatan penerjunan ini turut dihadiri Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni UGM, Dr. Arie Sujito, S.Sos., M.Si., bersama perwakilan Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat UGM, dan perwakilan dari FK-KMK UGM. Kehadiran pimpinan dan perwakilan dari fakultas ini menegaskan bahwa misi yang diemban tim bukan sekadar agenda akademik, melainkan bagian dari komitmen kelembagaan UGM terhadap masyarakat yang membutuhkan.
Dalam sambutannya, Arie Sujito menyampaikan apresiasi sekaligus keyakinannya terhadap kesiapan para mahasiswa yang akan diterjunkan. Ia menegaskan bahwa delegasi tersebut telah dibekali kapasitas yang memadai untuk menjalankan misi kemanusiaan di lapangan. “Para mahasiswa yang dikirim sudah memiliki pembekalan, skill, maupun pengetahuan. Kami harap ini bisa menjadi bagian dari komitmen kita untuk misi kemanusiaan,” ujarnya.
Tim Rona Wae Rii mengusung pendekatan partisipatif dan berbasis masyarakat, dengan penduduk setempat ditempatkan bukan hanya sebagai penerima manfaat, tetapi juga bagian dari proses pelaksanaan program. Empat aspek utama menjadi fokus intervensi, yaitu kesehatan mental dan psikososial, kesehatan jasmani dan pertolongan pertama, mitigasi serta kesiapsiagaan bencana, dan higiene serta kesehatan lingkungan. Dari kerangka tersebut, tim menyusun delapan program kerja konkret, mulai dari pemetaan risiko dan kerentanan bencana desa, edukasi kesiapsiagaan menghadapi gempa susulan, pelatihan pertolongan pertama, trauma healing bagi anak-anak, dukungan psikososial dan penguatan resiliensi masyarakat, pelatihan Psychological First Aid, gerakan perilaku hidup bersih dan sehat, hingga skrining kesehatan gratis bagi warga terdampak.
Rangkaian program tersebut juga menyasar penguatan peran kader dan kelompok masyarakat, sehingga pengetahuan dan keterampilan yang ditransfer selama KKN dapat terus diterapkan secara mandiri setelah tim menyelesaikan masa pengabdiannya. Prosesi pelepasan diawali dengan pembukaan dan sambutan, dilanjutkan seremoni penerjunan tim, sebelum ditutup dengan sesi dokumentasi bersama sebagai penanda dimulainya babak baru pengabdian di lapangan.
Langkah Tim Rona Wae Rii menjadi wujud nyata kontribusi UGM terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera (Good Health and Well-being) serta SDG 11 Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan (Sustainable Cities and Communities). Melalui penguatan kesehatan dan kesiapsiagaan masyarakat pascabencana, program ini turut memperkuat ketahanan komunitas rentan sekaligus menegaskan peran perguruan tinggi sebagai agen perubahan bagi masyarakat yang membutuhkan. (Reporter: Balanca Qolta).


