FK-KMK UGM. Dosen sekaligus peneliti dr. Meirizal, Sp.O.T.Subsp.T.L.B.M(K), bersama dr. Hilmi Muhammad, Sp.O.T.Subsp.A(K), dr. Agung Susilo Lo, dan dr. I. Made Dolly mengembangkan Reverse Aqua Pump Negative Pressure Wound Therapy (RAP-NPWT) sebagai alternatif sistem Negative Pressure Wound Therapy (NPWT) komersial yang lebih terjangkau. Hasil penelitian tersebut dipublikasikan pada 17 Juni 2026 secara daring dalam Journal of Hand Surgery Global Online, volume 8, issue 5, dengan judul “Reverse Aqua Pump Negative Pressure Wound Therapy: A Noninferiority Randomized Controlled Trial of Effectiveness and Affordability in Optimizing the Inflammatory and Proliferative Phases of Wound Healing in Developing Countries”. Artikel tersebut memiliki DOI 10.1016/j.jhsg.2026.101032.
Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan efektivitas pembentukan jaringan granulasi sekaligus aspek biaya RAP-NPWT dengan sistem NPWT komersial pada pasien yang membutuhkan perawatan luka. NPWT merupakan metode perawatan luka yang menggunakan tekanan negatif untuk membantu proses penyembuhan. Namun, biaya sistem komersial dapat menjadi salah satu kendala penerapannya, khususnya pada lingkungan pelayanan kesehatan dengan keterbatasan sumber daya. Kondisi tersebut mendorong pengembangan RAP-NPWT sebagai sistem alternatif yang dirancang dengan mempertimbangkan efektivitas klinis sekaligus keterjangkauan biaya.
Penelitian dilakukan menggunakan desain uji klinis terkontrol acak non-inferioritas dengan rasio alokasi 1:1. Sebanyak 24 pasien dilibatkan dan dibagi secara seimbang ke dalam kelompok RAP-NPWT dan kelompok NPWT komersial. Pengacakan dilakukan menggunakan sistem berbasis komputer pada tingkat pasien secara individual, dengan alokasi tersamar dan penyamaran terhadap penilai. Desain penelitian juga mengikuti rekomendasi CONSORT 2025 untuk uji klinis terkontrol acak non-inferioritas. Penelitian klinis tersebut dilaksanakan pada April hingga Agustus 2025 di rumah sakit rujukan tersier di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa RAP-NPWT memiliki efektivitas pembentukan jaringan granulasi yang tidak berbeda secara bermakna dibandingkan dengan NPWT komersial. Pengamatan dilakukan pada beberapa tahapan perawatan hingga titik pengamatan bersama terakhir sebelum sebagian besar pasien melanjutkan ke tahap rekonstruksi definitif. Pola pembentukan jaringan granulasi pada kedua kelompok juga menunjukkan kecenderungan yang serupa, termasuk percepatan pembentukan granulasi pada tahap awal dan penurunan ketika luka mulai mendekati kesiapan untuk tahap penyembuhan berikutnya.
Selain pembentukan jaringan granulasi, penelitian turut melihat sejumlah karakteristik klinis lainnya. Paparan tulang tidak menunjukkan pengaruh terhadap perkembangan jaringan granulasi. Durasi penggunaan NPWT pada kedua kelompok juga tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa penggunaan RAP-NPWT memberikan luaran klinis yang sebanding dengan sistem NPWT komersial dalam konteks penelitian ini.
Kegiatan penelitian ini selaras dengan SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui pengembangan alternatif perawatan luka yang mendukung layanan kesehatan. SDG 9 Industri, Inovasi dan Infrastruktur melalui pengembangan inovasi teknologi medis. SDG 10 Berkurangnya Kesenjangan karena pengembangan teknologi yang lebih terjangkau berpotensi membantu mengurangi hambatan biaya terhadap akses perawatan luka. SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara FK-KMK UGM dan Divisi Orthopaedi dan Traumatologi RSUP Dr. Sardjito. (Kontributor: dr. Meirizal, dr. Hilmi Muhammad, dr. Agung Susilo Lo dan dr. I. Made Dolly).




