FK-KMK UGM Perluas Pengalaman Klinis Mahasiswa melalui Clinical Exchange Bedah Saraf di Italia

FK-KMK UGM. Mahasiswa Prodi Kedokteran mengikuti program Clinical Exchange International Department of Neurosurgery di University of Ferrara, Italia. Kegiatan yang diikuti Kanya Jyesta Salsabila tersebut berlangsung pada 1 hingga 30 November 2025 dan memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengenal secara langsung pelayanan bedah saraf di lingkungan rumah sakit tersier sekaligus memahami sistem pendidikan, pelayanan, dan praktik kedokteran dalam perspektif internasional.

Selama mengikuti program, Kanya mendapatkan pengalaman mengenai alur pelayanan di Departemen Bedah Saraf secara menyeluruh. Kegiatan dimulai dari morning report, ward round, hingga pelayanan klinik rawat jalan. Melalui rangkaian tersebut, Kanya mengamati proses evaluasi, penegakan pertimbangan klinis, serta tindak lanjut pasien dengan beragam kondisi, seperti penyakit degeneratif tulang belakang, tumor intrakranial, cedera otak traumatik, hingga pasien yang menjalani perawatan setelah operasi.

Paparan terhadap berbagai kasus tersebut memperkaya kemampuan Kanya dalam menghubungkan temuan klinis, hasil pemeriksaan neurologis, dan pencitraan radiologis sebagai bagian dari proses penalaran klinis. Interaksi bersama dokter spesialis, residen, dan tenaga kesehatan lainnya juga memberikan gambaran mengenai bagaimana keputusan klinis dibuat serta bagaimana kesinambungan perawatan pasien dijaga dalam sistem pelayanan kesehatan internasional.

Pengalaman lain diperoleh Kanya ketika mengikuti kegiatan di ruang operasi. Ia berkesempatan mengamati sejumlah prosedur bedah saraf, antara lain craniotomy untuk reseksi tumor, decompressive craniectomy, lumbar dan cervical laminectomy, microdiscectomy, serta prosedur stabilisasi tulang belakang. Dari pengamatan tersebut, Kanya mempelajari berbagai aspek yang mendukung tindakan pembedahan, mulai dari pertimbangan indikasi operasi, perencanaan tindakan, posisi pasien, prinsip sterilitas, hingga pendekatan mikrosurgikal.

Perkembangan teknologi dalam praktik bedah saraf juga menjadi bagian dari pengalaman yang diperoleh. Kanya mengamati pemanfaatan teknologi seperti neuronavigation dan intraoperative neurophysiological monitoring dalam mendukung tindakan operasi. Paparan tersebut memberikan gambaran mengenai bagaimana teknologi digunakan untuk membantu dokter dalam melakukan tindakan secara lebih terarah dengan tetap memperhatikan keselamatan pasien.

Selain aktivitas klinis, Kanya mengikuti kegiatan akademik dan diskusi bersama supervisor serta dokter residen. Diskusi berbasis kasus membahas sejumlah topik, termasuk bedah saraf minimal invasif, penilaian risiko perioperatif, penanganan komplikasi pascaoperasi, serta aspek etik dalam praktik bedah saraf. Kegiatan tersebut mendorong mahasiswa untuk tidak hanya memahami prosedur, tetapi juga melihat alasan klinis di balik setiap keputusan yang diambil.

Keterlibatan dalam penanganan kasus kegawatdaruratan bedah saraf turut memberikan pengalaman penting. Kanya mempelajari proses penilaian awal pasien, penentuan prioritas penanganan, dan pentingnya koordinasi antarprofesi. Dalam situasi tersebut, kerja sama antara dokter bedah saraf, dokter anestesi, intensivis, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya memberikan pelayanan yang aman dan tepat.

Kegiatan ini mendukung SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan kompetensi calon tenaga kesehatan, serta SDG 4 Pendidikan Berkualitas melalui pengalaman pembelajaran klinis dan akademik lintas negara. (Kontributor: Agustina Latifah Hanum SPsi).