Dosen FK-KMK UGM Perkuat Riset Kesehatan Global melalui Summer of Research di UMCG

FK-KMK UGM. Dosen Departemen Farmakologi dan Terapi, dr. Muhammad Rifqo Hafidzudin Farid, M.Ked.Trop., berpartisipasi dalam program Summer of Research di University Medical Center Groningen (UMCG), Belanda, melalui Abel Tasman Talent Program. Program tersebut menjadi kesempatan bagi dr. Rifqo untuk memperluas pengalaman riset internasional sekaligus mengembangkan kajian di bidang kesehatan global dan health technology assessment (HTA).

Rangkaian program mencakup dua kegiatan utama, yakni presentasi pada International Student Congress of (bio)Medical Sciences (ISCOMS) 2026 dan kegiatan magang riset di Department of Health Sciences, UMCG. Selama menjalani magang, dr. Rifqo berada di bawah bimbingan Prof. Maarten Postma dan mengerjakan analisis global burden of disease (GBD) dengan virus Zika sebagai studi kasus.

Analisis GBD menjadi salah satu tahapan penting untuk memahami besarnya beban suatu penyakit pada populasi. Informasi tersebut selanjutnya dapat menjadi dasar dalam analisis ekonomi kesehatan, termasuk cost-effectiveness, budget impact, maupun managed entry agreement. Melalui pengalaman di UMCG, dr. Rifqo memperoleh kesempatan untuk memperdalam pendekatan analitis yang relevan dengan pengembangan kebijakan dan intervensi kesehatan.

Selain kegiatan riset di UMCG, dr. Rifqo juga mempresentasikan hasil penelitian pada ISCOMS 2026. Poster yang dipresentasikan merupakan hasil penelitian yang dikerjakan ketika menempuh pendidikan Magister Kedokteran Tropis di Universitas Airlangga melalui kerja sama dengan H. pylori & Microbiota Study Group dan Oita University.

Penelitian tersebut mengkaji genotipe slyD pada isolat Helicobacter pylori asal Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan adanya salah satu genotipe yang berkaitan dengan inflamasi lambung yang lebih berat serta kepadatan bakteri yang lebih tinggi dibandingkan genotipe lainnya. Temuan tersebut menjadi menarik karena kondisi itu hadir di tengah beban kanker lambung di Indonesia yang secara keseluruhan relatif lebih rendah dibandingkan prevalensi H. pylori yang ditemukan.

Hasil penelitian tersebut memberikan gambaran bahwa karakteristik strain lokal dapat memiliki keunikan tersendiri. Dalam konteks Indonesia yang memiliki keragaman geografis dan genetik, temuan tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya penggunaan data yang spesifik terhadap populasi dalam penelitian penyakit infeksi. Pendekatan berbasis data lokal dapat membantu menghasilkan pemahaman yang lebih tepat mengenai hubungan antara karakteristik patogen dan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.

Kegiatan ini juga selaras dengan SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui pengembangan riset yang mendukung pemahaman dan pengambilan keputusan kesehatan, SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui penguatan kapasitas akademik dan riset, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi lintas institusi di tingkat nasional dan internasional. (Kontributor: Muhammad Rifqo Hafidzudin Farid).