FK-KMK UGM Kirim Delegasi ke AMSN Student Chapter 2026 Bahas Transformasi Pendidikan Kedokteran ASEAN

FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) berpartisipasi dalam The 16th ASEAN Medical Dean’s Summit (AMDS) 2026 dengan mengirimkan dua mahasiswa sebagai delegasi Indonesia pada ASEAN Medical Student Networking (AMSN) Student Chapter 2026. Kegiatan yang mengusung tema “Innovating Together: Driving Transformation in Medical Education and Health Care” ini diselenggarakan pada 19–20 Juni 2026 di Ho Chi Minh City, Vietnam, dengan University of Medicine and Pharmacy sebagai tuan rumah.

Pada penyelenggaraan tahun ini, delegasi Indonesia terdiri atas mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada dan Universitas Indonesia. FK-KMK UGM diwakili oleh Grace Lenny Santoso dan Alphatar M. J. Tambunan, mahasiswa Program Studi Kedokteran International Undergraduate Program (IUP) angkatan 2024. Bersama mahasiswa dari berbagai negara ASEAN, mereka mengikuti rangkaian diskusi yang membahas isu-isu strategis dalam pendidikan kedokteran, mulai dari kolaborasi antarmahasiswa kesehatan hingga pemanfaatan teknologi seperti artificial intelligence (AI) dan virtual reality dalam pembelajaran maupun pelayanan kesehatan.

Salah satu topik yang paling banyak mendapat perhatian adalah penggunaan AI di lingkungan pendidikan kedokteran. Para peserta mendiskusikan berbagai peluang sekaligus tantangan penerapan teknologi tersebut, termasuk dampaknya terhadap kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Berbagai penelitian yang dipresentasikan menunjukkan bahwa AI memiliki potensi besar sebagai pendukung proses belajar, namun penggunaannya tetap memerlukan pedoman yang jelas agar tidak mengurangi kemampuan analisis dan pengambilan keputusan mahasiswa.

Grace Lenny Santoso menyoroti pentingnya kebijakan yang mengatur pemanfaatan AI, terutama dalam praktik pelayanan kesehatan. Ia menegaskan, “Kemudian salah satu hal yang juga menarik untuk dibuat kebijakannya adalah kalau suatu ketika ada misconduct atau kesalahan dalam penanganan oleh seorang dokter atau seorang perawat dan dari tindakan tersebut itu menggunakan AI. Hal itu semua tetap harus diberikan atau dipertanggungjawabkan oleh manusia, yaitu dokter atau perawat yang melaksanakan hal tersebut.” Menurutnya, teknologi seharusnya menjadi alat bantu yang mendukung pengambilan keputusan klinis, bukan menggantikan tanggung jawab profesional tenaga kesehatan.

Selain membahas perkembangan teknologi, forum AMSN Student Chapter 2026 juga menjadi wadah berbagi praktik baik dalam pendidikan kesehatan. Delegasi dari berbagai negara memperkenalkan inovasi pembelajaran yang telah diterapkan di institusi masing-masing, termasuk pemanfaatan simulasi berbasis virtual reality, metode pembelajaran kolaboratif, hingga strategi membangun budaya hidup sehat di lingkungan mahasiswa.

Bagi kedua delegasi FK-KMK UGM, partisipasi dalam AMSN Student Chapter 2026 memberikan pengalaman berharga yang tidak hanya memperluas relasi internasional, tetapi juga membuka perspektif baru mengenai masa depan pendidikan kedokteran dan pelayanan kesehatan di kawasan ASEAN. Grace mengungkapkan bahwa pengalaman mengikuti forum tersebut memberikan banyak pembelajaran. “Perjalanan selama AMDS 2026 bagiku sangat menyenangkan, mengubah pandangan terhadap medical education, dan memperluas relasi,” ujarnya.

Kegiatan ini turut mendukung pencapaian SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan inovasi pelayanan kesehatan dan pendidikan tenaga kesehatan. SDG 4 Pendidikan Berkualitas diwujudkan melalui peningkatan kompetensi mahasiswa dalam forum akademik internasional. SDG 9 Industri, Inovasi, dan Infrastruktur didukung melalui pembahasan pemanfaatan teknologi seperti AI dan virtual reality dalam pendidikan kesehatan. SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan tercermin dari kolaborasi dan pertukaran pengetahuan antarinstitusi pendidikan kedokteran di kawasan ASEAN. (Kontributor: Nabila Asyifa Hasyim dan Jiwa Awanis Shabrina).