Prof. dr. M. Bayu Sasongko., M. Epid., Ph.D., Sp.M(K) merupakan sosok penerima penghargaan Insan Berprestasi Universitas Gadjah Mada pada 9 November 2025. Beliau memenangkan kategori Inovasi Terlisensi Tahun Berjalan dengan Persentase Lisensi Terbesar serta Penelitian Kolaboratif Tema Kemandirian Bahan Baku Obat dan Alat Kesehatan. Penghargaan ini bukan sekadar apresiasi atas praktik klinisnya, melainkan bentuk pengakuan atas kegigihannya membangun sistem yang berkontribusi langsung dalam mencegah kebutaan akibat diabetes.
Panggilan Hati dari Ruang Praktik
Perjalanan Prof. Bayu membangun inovasi skrining retinopati diabetik telah berjalan lebih dari satu dekade. Titik baliknya bermula saat ia menyelesaikan studi doktoral di University of Melbourne pada 2012. Ketika menjalankan praktik di RSUP Dr. Sardjito, ia kerap menjumpai kenyataan pahit: banyak pasien diabetes datang dengan kondisi penglihatan yang sudah buruk dan mendekati kebutaan.
“Melihat langsung pasien diabetes yang kehilangan penglihatan mendorong motivasi saya untuk berkontribusi menurunkan angka kebutaan tersebut,” ungkap Prof. Bayu.
Beliau meyakini bahwa masalah utama bukanlah keterlambatan pengobatan, melainkan keterlambatan deteksi dini. Retinopati diabetik terjadi saat diabetes merusak pembuluh darah retina. Jika tidak terdeteksi dan dikendalikan sejak awal, kerusakan ini akan menetap dan memicu kebutaan permanen.
Membangun Sistem dari Nol
Tingginya angka kebutaan akibat retinopati diabetik terjadi karena sistem skrining di Indonesia pada masa itu belum terbentuk. Menanggapi permasalahan tersebut, Prof. Bayu bersama tim merancang program skrining kesehatan mata yang dimulai dari puskesmas. Tujuannya adalah memitigasi risiko melalui registrasi dan pemeriksaan mata rutin bagi setiap pasien diabetes.
“Untuk menekan angka kebutaan mata akibat diabetes, saya rasa perlu ada skrining kesehatan mata bagi pasien diabetes di puskesmas. Hal ini penting untuk memitigasi kondisi kesehatan pasien sebelum berobat lebih lanjut di rumah sakit,” jelasnya.
Perjuangan membangun sistem ini dimulai dari nol. Pada 2014, berbekal kamera fundus senilai Rp700 juta per unit dari Kementerian Kesehatan, Prof. Bayu berkeliling ke berbagai Puskesmas menggunakan ambulans kampus. Saat menyusuri medan terjal di Gunungkidul, guncangan hebat di perjalanan sempat membuat alat mahalnya malfungsi. Prof. Bayu sempat resah, khawatir masyarakat yang telah menunggu dengan antusias akan kecewa. Beruntung, kendala tersebut berhasil teratasi sehingga pelayanan bagi masyarakat tetap berjalan lancar.
“Hal yang cukup berkesan adalah ketika saya keliling ke Gunung Kidul untuk skrining kesehatan mata dan disambut oleh masyarakat yang cukup antusias menunggu pelayanan, walaupun sempat ada kendala teknis pada alat akibat terjalnya akses jalan ke puskesmas,” kata Prof. Bayu.
Tantangan Biaya dan Inovasi Portabel
Meski berdampak positif menurunkan angka kebutaan di DIY, Prof. Bayu menyadari sistem ini sangat mahal dan kurang efisien karena ukuran alat yang besar. Dukungan dari World Diabetes Foundation sempat menyuntikkan semangat baru, namun ia sadar butuh solusi yang lebih aplikatif.
Setelah menimba ilmu melalui fellowship di Royal Victorian Eye & Ear Hospital (2018) dan Sydney Eye Hospital (2020), ia kembali ke tanah air dengan visi baru. Karena kendala harga alat impor yang tinggi dan pajak yang membebani, ia mulai merancang purwarupa alat yang lebih kecil, portabel, dan efisien. Perjalanannya sempat membawa kolaborasi dengan industri global, Acer, di Hong Kong. Namun, saat purwarupa tersebut akan dibawa masuk ke Indonesia, harga jualnya melonjak drastis akibat pajak impor. Hal ini justru membuat alat tidak bisa direplikasi di puskesmas karena terlalu mahal.
Revolusi Lokal: Skrining dalam Genggaman
Prof. Bayu pun tidak putus asa dan memilih keputusan krusial dengan membuat kembali alat skrining kesehatan mata untuk dapat diproduksi secara lokal. Melalui pendanaan RISPRO LPDP, ia merancang konsep revolusioner: memanfaatkan ponsel pintar dengan lensa khusus untuk menghasilkan citra retina 3D. Inovasi ini disambut baik oleh industri dalam negeri dan akhirnya diproduksi secara massal.
“Selama sekitar 13 tahun ini, akhirnya rancangan alat skrining mata yang saya teliti dan kembangkan mendapatkan izin edar pada tahun 2025, saya berharap alat ini bisa direplikasi di puskesmas seluruh Indonesia,” kata Prof. Bayu.
Menuju Adopsi Sistemik 2030
Bagi Prof. Bayu, inovasi tidak berhenti pada produk jadi. Tantangan sesungguhnya adalah adopsi sistemik. Ia menekankan bahwa alat secanggih apa pun tidak akan berdampak jika tidak terintegrasi dalam sistem pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, ia turut menyusun Roadmap Kesehatan Mata hingga 2030 bersama Kementerian Kesehatan. Ia berharap alat yang telah dirancang dapat diadopsi secara berkelanjutan untuk mendukung penurunan alat kebutaan akibat diabetes.
Dalam lima tahun ke depan, ia menyoroti pentingnya penyesuaian regulasi, pengaturan operasional di Puskesmas, dan integrasi dengan program cek kesehatan gratis. Menariknya, alat ini tidak hanya terbatas pada retinopati diabetik, tetapi juga mampu mendeteksi gejala penyakit lain seperti hipertensi dan degenerasi retina.
“Selama 13 tahun, purwarupa berganti empat kali, pendanaan datang dan pergi, serta mitra terus berubah. Hal terpenting untuk mengejar target penurunan kebutaan adalah regulasi yang berkeadilan sebagai tembok adopsi sistem,” tegas Prof. Bayu.
Menutup kisahnya, Prof. Bayu merefleksikan perjalanannya sebagai proses yang mengharukan. Ketulusannya memberikan harapan bagi pasien adalah bahan bakar utamanya untuk tetap bertahan di tengah kompleksitas birokrasi dan hilirisasi.
“Saya menilai kegagalan sebagai tantangan baru. Saya yakin kontribusi panjang ini tidak hanya berdampak hari ini, tetapi juga bagi generasi mendatang,” pungkasnya.
Narasumber: Prof. dr. M. Bayu Sasongko, M.Epid., Ph.D., Sp.M(K) Penulis: Tedy Aprilianto Editor: Artnice Mega Fathima, Ph.D.