FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) turut berkontribusi dalam upaya pengendalian Tuberkulosis (TBC) melalui keterlibatan dalam kegiatan penemuan kasus secara aktif atau active case finding (ACF) yang diselenggarakan di wilayah Gunungkidul. Kegiatan ini menjadi bagian dari kolaborasi lintas sektor antara pemerintah daerah, fasilitas layanan kesehatan, dan mitra strategis untuk memperkuat deteksi dini TBC di masyarakat. Kegiatan peninjauan ACF dilakukan oleh Bupati Gunungkidul pada Kamis, 9 April 2026, di halaman Puskesmas Karangmojo II, sebagai pembuka rangkaian pelaksanaan ACF di berbagai puskesmas di Kabupaten Gunungkidul.
Dalam kegiatan tersebut, Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, menegaskan bahwa ACF merupakan langkah strategis dalam menemukan kasus TBC secara lebih proaktif di tengah masyarakat. Ia menyampaikan bahwa pendekatan ini penting untuk mengatasi keterbatasan metode konvensional yang selama ini lebih bersifat pasif, yakni menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan. “ACF ini merupakan langkah yang strategis dan progresif,” ujarnya, sembari mengajak masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam pemeriksaan yang disediakan secara gratis.
Kegiatan ini merupakan bagian dari peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia yang dipusatkan di wilayah Bejiharjo, Gunungkidul. Melalui pelaksanaan ACF, pemerintah daerah menargetkan dapat menjangkau hingga 3.000 warga guna meningkatkan cakupan deteksi kasus. Teknologi yang digunakan dalam kegiatan ini memungkinkan proses skrining berlangsung cepat, di mana hasil rontgen dada dapat diperoleh dan dibaca dalam waktu singkat.
Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Ismono, menjelaskan bahwa capaian penemuan kasus TBC di wilayahnya masih berada di angka 43 persen dari estimasi total kasus. Oleh karena itu, pelaksanaan ACF menjadi pelengkap penting dari metode passive case finding yang selama ini dijalankan. Pendekatan ini diharapkan mampu mengidentifikasi kasus tersembunyi yang belum terdeteksi, mengingat TBC sering kali bersifat seperti fenomena gunung es.
Direktur Zero TB Yogyakarta, dr. Rina Triasih, menjelaskan bahwa penggunaan rontgen dada dalam ACF memungkinkan deteksi kasus, termasuk pada individu yang belum menunjukkan gejala. Pemeriksaan lanjutan berupa tes dahak dilakukan untuk memastikan diagnosis. Ia menekankan bahwa deteksi dini sangat penting untuk segera memulai pengobatan, sehingga dapat menekan risiko penularan di masyarakat.
Selain deteksi, upaya pengendalian TBC juga diperkuat melalui pemberian terapi pencegahan TBC (TPT) bagi individu yang memiliki kontak erat dengan pasien. Kombinasi antara penemuan kasus secara aktif, pengobatan yang tepat, serta langkah pencegahan menjadi strategi komprehensif dalam mencapai target eliminasi TBC di Indonesia pada tahun 2030.
Keterlibatan FK-KMK UGM dalam upaya ini mencerminkan komitmen institusi dalam mendukung penguatan sistem kesehatan masyarakat berbasis bukti dan kolaborasi. Pendekatan lintas sektor yang dilakukan diharapkan mampu memberikan dampak nyata dalam menurunkan beban penyakit TBC, khususnya di daerah dengan tingkat kasus yang masih tinggi.
Kegiatan ini sejalan dengan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui peningkatan deteksi dini dan pengobatan TBC yang tepat guna menekan angka kesakitan dan kematian, SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui proses edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya skrining dan pencegahan TBC berbasis pengetahuan ilmiah, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan diperkuat melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, institusi pendidikan, tenaga kesehatan, dan organisasi masyarakat dalam menangani permasalahan kesehatan secara komprehensif. (Kontributor: Muhammad Ali Mahrus).




