Kisah Tegar Mahasiswa Kedokteran UGM Buktikan Keterbatasan Bukan Halangan dalam Berprestasi

Tegar Rinang Pratama, mahasiswa Program Studi Kedokteran angkatan 2022, merupakan salah satu mahasiswa penerima Beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K). Putra asli Yogyakarta ini mampu menunjukkan bukti nyata bahwa keterbatasan bukanlah halangan untuk meraih pendidikan setinggi mungkin. Dalam tujuh semester kuliah, ia berhasil mempertahankan IPK 4.00 yang mencapai capaian gemilang di balik ketekunan dan kedisiplinan sejak hari pertama menjadi mahasiswa.

Sejak kecil, benih ketertarikan Tegar terhadap dunia kedokteran sudah mulai tumbuh. Ia sering bermain dengan peralatan medis milik kakeknya yang merupakan seorang pensiunan perawat. Semua itu membuatnya mulai akrab dengan dunia medis sejak dini. Ketertarikan ini kemudian semakin diperkuat ketika ia sering menonton anime Naruto, terutama setiap kali muncul adegan-adegan medis yang menginspirasinya kelak menjadi seorang dokter.  

“Saya sering memainkan peralatan medis kakek saya, seperti gunting, benang, dan pen yang mendorong minat saya tertarik di dunia kedokteran”, kata Tegar.

Pada perjalanan sekolah, Tegar dikenal sebagai siswa yang memiliki minat pada pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), terutama pelajaran yang berkaitan dengan organ tubuh manusia. Sejak SD hingga SMP, minatnya terus berkembang, bahkan membuatnya menjadi salah satu murid kesayangan guru dan penerima beasiswa pemerintah daerah. Memasuki jenjang SMA, ia bersekolah di SMA Negeri 1 Yogyakarta dan aktif dalam berbagai macam olimpiade, khususnya di bidang kimia sehingga mengantarkan Tegar menjadi peringkat 1 dalam pemeringkatan eligible.

“Selama saya sekolah, Alhamdulillah saya selalu mendapatkan beasiswa yang mendorong saya untuk berprestasi,” kata Tegar.

Namun, perjalanan Tegar untuk menjadi mahasiswa Prodi Kedokteran FK-KMK UGM tidaklah mulus. Situasi dilema sempat menyelimuti pikiran Tegar, saat prestasi di masa SMA ini mengantarnya menjadi kandidat penerima beasiswa luar negeri di program studi Aktuaria, University of Toronto. Ia mengaku sulit dalam mengambil keputusan terhadap penawaran beasiswa tersebut. Akan tetapi, ia mencoba merefleksikan kembali minat dan keseriusan yang selama ini dibangun. Setelah melalui pertimbangan yang matang, ia akhirnya memilih mengikuti jalur SNMPTN untuk Prodi Kedokteran FK-KMK UGM karena sesuai dengan minatnya. Keputusan untuk berkuliah di Yogyakarta dinilainya sebagai pilihan yang paling rasional, mengingat ia tidak perlu beradaptasi dengan lingkungan baru maupun memikirkan kebutuhan tempat tinggal.

“Berhubung saya warga asli Yogyakarta, saya merasa perlu memanfaatkan peluang yang ada dan bagi saya ketika tidak mengambil kesempatan SNMPTN akan eman-eman (rugi),” kata Tegar.

Setelah resmi diterima sebagai mahasiswa, Tegar segera mendaftarkan diri pada Beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K). Keraguan sempat muncul karena ia sering mendengar bahwa mahasiswa pendidikan kedokteran jarang dapat menerima program beasiswa KIP-K. Namun rasa penasarannya justru mendorongnya untuk mencari informasi lebih jauh, termasuk berdiskusi dengan kakak tingkat yang telah lebih dulu menjadi penerima KIP-K.

Proses administrasi yang harus ia jalani tidak mudah, terlebih karena keluarganya tidak memiliki Kartu Keluarga Sejahtera (KKS). Meski demikian, Tegar tetap berusaha dengan melampirkan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dari kelurahan sebagai dokumen pendukung. Di tengah keraguan dan ketidakpastian itu, ia hanya dapat berserah dan melakukan yang terbaik. Hingga akhirnya, kabar menggembirakan datang: Tegar dinyatakan lolos sebagai penerima KIP-K sejak semester pertama. 

“Awalnya, saya sempat ragu ketika sekolah kedokteran bisa gratis melalui beasiswa. Namun, saya tidak menyerah dan terus mengusahakan beasiswa itu,” kata Tegar.

Bagi Tegar, beasiswa tersebut bukanlah tujuan akhir, melainkan awal dari tanggung jawab besar untuk mewujudkan mimpi menjadi dokter sekaligus satu-satunya sarjana di keluarganya. Tahun pertama kuliah, ia sempat mengalami proses adaptasi yang cukup berat. Kebiasaan belajar “kebut semalam” yang biasa ia lakukan di SMA ia sadari tidak lagi relevan dengan beban studi kedokteran yang padat, terutama dalam menghadapi materi ajar berbahasa inggris. Jadwal ujian dua minggu sekali dan tumpukan file PPT yang bisa mencapai ratusan slide membuatnya harus mengubah cara belajar secara menyeluruh.

“Saat pertama, saya shock banget dengan cara belajarnya, walaupun sebelumnya saya pernah eligible 1 semasa SMA. Saya merasa jika sistem belajar kebut semalam masih melekat, saya akan sulit dalam beradaptasi. Oleh karena itu, di sini saya mencoba untuk mengubah cara belajar saya dengan lebih dewasa,” kata Tegar.

Tegar menjelaskan, untuk dapat menjaga motivasi selama belajar, ia membentuk kelompok belajar yang berisikan lima mahasiswa seperjuangan. Kelompok ini berisikan oleh mahasiswa yang memiliki latar belakang yang sama. Baginya, kelompok belajar ini cukup membantu untuk melepaskan kesuh kesah pembelajaran. Mereka sering belajar bersama dengan berpindah-pindah, dimulai dari perpustakaan, kafe, hingga rumah dengan tujuan untuk menjaga konsistensi dan semangat bersama.

Ia juga menerapkan pola belajar bertarget untuk menentukan prioritas di setiap mata kuliah, dan rajin berkonsultasi dengan kakak tingkat untuk memahami beban studi semester berikutnya serta mempersiapkan mental untuk menghadapinya. Konsistensi itu ia jaga sampai sekarang dan menjadi bekal utama dalam meraih IPK sempurna dari semester ke semester. Ia memiliki prinsip hidup yang cukup sederhana dan sarat akan makna. “Lek wes klebus ojo mentas”, yang memiliki arti kalau sudah basah, jangan setengah-setengah, khususnya dalam belajar. Baginya, jika sudah memulai sesuatu, maka harus diperjuangkan hingga tuntas.  (Penulis: Tedy Aprilianto. Editor: Moh. Hendra Setia Lesmana)