FAIMER Regional Institute of Indonesia for Educational Development and Leadership atau dikenal FRIENDSHIP merupakan program fellowship yang diselenggarakan oleh organisasi Educational Commission for Foreign Medical Graduates (ECFMG). Kegiatan ini dikenal cukup bergengsi di kancah internasional yang menghadirkan program fellowship selama dua tahun di bidang pendidikan kedokteran. Sementara itu, di Asia Tenggara program FRIENDSHIP ini hanya ada satu dan itu berada di Indonesia.
dr. Yoyo Suhoyo, M.Med.Ed., Ph.D selaku Direktur FRIENDSHIP FAIMER Indonesia sekaligus Dosen Departemen Pendidikan Kedokteran FK-KMK UGM menjelaskan bahwa, sejarah berdirinya FRIENDSHIP bermula dari FAIMER Institute yang dilaksanakan sejak tahun 2000. Program ini aktif memberikan pelatihan tentang leadership dan inovasi pendidikan pada para peserta yang berlangsung selama dua tahun. Kegiatan ini awalnya diselenggarakan secara terfokus di Philadelphia, Amerika Serikat. Program ini memiliki prioritas yang ditujukan untuk berbagai profesi kesehatan diantaranya, dokter, perawat, bidan, dokter gigi, serta tenaga kesehatan lainya yang berperan dalam pendidikan kesehatan.
Awalnya, FAIMER Institute ini memberikan pelatihan secara terbatas kepada sekitar 20 peserta. Namun, dikarenakan tingginya minat global dan terbatasnya kuota, FAIMER kemudian mengembangkan konsep cabang regional yang dikenal dengan FAIMER Regional Institute. Cabang pertama dari Program FRIENDSHIP ini bermula di India, lalu menyebar ke Amerika Latin, Timur Tengah, Afrika, hingga Cina.
Sementara itu, Program FRIENDSHIP ini masuk ke Indonesia menurut dr. Yoyo bermula dari tahun 2010. Pada tahun tersebut, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) melalui program HPEQ menjalankan program peningkatan kualitas pendidikan kedokteran, termasuk pengembangan ujian kompetensi nasional. Melalui kegiatan benchmarking, Ditjen Dikti mengundang William Bill selaku pengajar dan pengelola FAIMER Institute ke Indonesia. Setelah kegiatan tersebut, William Bill melakukan kunjungan di UGM untuk mengobservasi pengembangan OSCE (Objective Structured Clinical Examination) untuk ujian kompetensi mahasiswa program profesi dokter. Pada kesempatan ini, perjumpaan delegasi FAIMER Institute dan Tim UGM terjadi yang membuka peluang besar. dr. Yoyo menegaskan FAIMER Institute pada masa itu menawarkan kesempatan fellowship kepada dosen UGM di Philadelphia, Amerika Serikat.
Kesempatan yang berharga ini dimanfaatkan UGM dengan mendelegasikan Prof. dr. Gandes Retno Rahayu, M.Med.Ed., Ph.D; Prof. dr. Mora Claramita, MPHE., Ph.D., Sp.KKLP; Prof. dr. Rr. Titi Savitri Prihatiningsih, MA., M.Med.Ed., Ph.D; dan dr. Yoyo Suhoyo, M.Med.Ed., Ph.D. Keberangkatan delegasi dari UGM ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan melalui pengembangan leadership dan inovasi pendidikan yang kelak dapat dikembangkan di Indonesia. Sebagai prasyarat mendirikan FAIMER Regional Institute di Indonesia, dibutuhkan minimal 4 orang yang telah dinyatakan lulus dalam program fellowship ini. Oleh karena itu, delegasi ini berkomitmen menyelesaikan fellowship secara bertahap, tepatnya pada tahun 2015, 2016, dan 2017.
Pada tahun 2018, FK-KMK UGM mengajukan diri untuk mendirikan FAIMER Regional Institute (FRI). Setelah melewati berbagai uji kelayakan dan proses evaluasi, pada tahun ini UGM secara resmi ditunjuk sebagai FAIMER Regional Institute of Indonesia. Nama lembaga ini kemudian diformalkan menjadi FRIENDSHIP. FK-KMK UGM baru menyelenggarakan Program FRIENDSHIP pada tahun 2019 dan sejak saat itu, program ini terus dilaksanakan setiap tahunnya dengan dukungan penuh dari dekanat FK-KMK UGM.
Setiap tahun, peminat Program FRIENDSHIP di Indonesia semakin meluas dan reputasi semakin kuat. FK-KMK UGM selaku tuan rumah Program FRIENDSHIP menerima peserta 20-25 orang per tahun dari berbagai profesi kesehatan. dr. Yoyo menyajikan data bahwa dalam kurun waktu dua tahun terakhir, tepatnya 2024 dan 2025, jangkauan peserta semakin luas khususnya peserta Internasional. Adapun proporsinya ialah, pada tahun 2024 menerima peserta sebanyak 20 orang yang terdiri dari 17 peserta lokal dan 3 peserta Internasional serta pada tahun 2025 menerima sebanyak 25 peserta yang terdiri dari 17 peserta lokal dan 8 peserta internasional.
Pada tahun 2026, FK-KMK UGM memiliki komitmen untuk menguatkan kepemimpinan pendidikan kesehatan di Indonesia. Melalui Program FRIENDSHIP ini diharapkan peserta yang terlibat memiliki misi jangka panjang untuk dapat menjadi pemimpin masa depan di institusi pendidikan kedokteran maupun kesehatan di seluruh Indonesia. dr. Yoyo menegaskan bahwa problem besar di dunia pendidikan kesehatan Indonesia mengalami tantangan kurangnya pelatihan kepemimpinan formal. Banyak pemimpin fakultas atau pun dekan yang mengaku belum pernah mendapatkan pelatihan khusus tentang kepemimpinan pendidikan kesehatan. Program FRIENDSHIP hadir untuk menjawab kebutuhan tersebut melalui pendekatan project-based learning, inovasi pendidikan, dan penguatan leadership.
“Pada tahun 2026, target FK-KMK UGM tetap konsisten minimal 25 peserta. FK-KMK UGM juga membebaskan biaya bagi dosen kedokteran dan kesehatan UGM yang mengikuti program fellowship ini,” kata dr. Yoyo.
dr. Yoyo menegaskan untuk dapat menjangkau secara luas, FK-KMK UGM memiliki Podcast FRIENDSHIP sebagai ruang untuk memberikan testimoni dan manfaat program terhadap karier profesional. Dalam Podcast FRIENDSHIP Episode 13, testimoni diberikan oleh Martina Sinta Kristanti S.Kep., Ns., M.N., Ph.D selaku Dosen Departemen Keperawatan UGM yang menjelaskan bahwa Program FRIENDSHIP ini cukup banyak memberikan insight baru yang dapat diimplementasikan secara profesional. Pada tahun pertama, Sinta diajarkan tentang pembelajaran secara intens terkait dengan networking, game plan project, negosiasi, dan kemitraan stakeholder. Kemudian, pada tahun kedua, ia menjelaskan materi pendelegasian yang kuat, supervisi, controlling, evaluasi, dan visi step by step yang mampu menunjang project yang diajukan. Adapun Project yang diajukan oleh bu Sinta ialah, Collaborative Community Care Breast Cancer (Communicated). Project ini hadir untuk memberikan mendukung kader dan relawan dalam mendampingi keluarga penyintas kanker payudara metafisis. Inisiasi project ini dilaksanakan dengan pendekatan berbasis komunitas, platform akses terhadap informasi, pelatihan, dan komunikasi efektif antara kader, pasien, dan keluarga.
“Selama fellowship kami diajarkan kata kunci yang paling berdampak yaitu, collateral movement. Disini kami diajarkan bagaimana menggerakan banyak pihak dan sumber daya disekitar kita untuk diajak menyukseskan program sebagai milik bersama,” kata Bu Sinta. (Penulis: Tedy Aprilianto. Narasumber : dr. Yoyo Suhoyo, M.Med.Ed., Ph.D. Editor: Yoyo Suhoyo)