Kabar Dekan Edisi 3 Tahun 2025

Kabar duka menyelimuti Indonesia pada penghujung tahun 2025. Saudara kita di Sumatera tengah dilanda musibah bencana banjir yang mengakibatkan kematian, luka, serta hilangnya keluarga, rumah dan sumber penghidupan. Di tengah situasi darurat seperti ini, kehadiran negara dan komunitas akademik menjadi sangat penting, bukan hanya sebagai penonton, tetapi sebagai bagian dari solusi.

Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM bersama Academic Health System (AHS) UGM, bergerak cepat merespon bencana ini. Melalui koordinasi Divisi Manajemen Bencana Kesehatan PKMK dan Pokja Bencana FK-KMK UGM, tim medis dan pendukung diterjunkan langsung ke lokasi terdampak, khususnya Aceh. Upaya ini diawali dengan pengiriman tim asesmen, disusul tiga gelombang tim respon bencana yang bekerja tanpa henti sepanjang Desember 2025.

Tim Respon Bencana Banjir Aceh merupakan kolaborasi lintas institusi kesehatan dalam jejaring AHS UGM, melibatkan RSUP Dr. Sardjito, RS Akademik UGM, RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro, RSUD Sleman, dan RS Mata dr. Yap. Tim asesmen yang terdiri dari Apt. Gde Yulian Yogadhita, M.Epid., dan dr. Agung Widianto, Sp.B-KBD, diberangkatkan pada 1 Desember 2025 untuk memetakan kebutuhan mendesak di lapangan. Selanjutnya, tim batch pertama bertugas pada 4–7 Desember, batch kedua pada 9–16 Desember, dan batch ketiga pada 14–22 Desember 2025.

Pada fase tanggap darurat, fokus utama tim adalah pemulihan layanan rumah sakit agar tetap dapat berfungsi di tengah keterbatasan. Namun, kerja kemanusiaan tidak berhenti di sana. Tim juga memberikan pelayanan kesehatan langsung di rumah sakit, menjalankan layanan kesehatan keliling (mobile clinic), serta menyalurkan bantuan logistik berupa makanan, pakaian bersih, dan obat-obatan. Upaya pemulihan fasilitas kesehatan, seperti perbaikan sistem air bersih dan genset rumah sakit, menjadi bagian penting dari intervensi, disertai pemetaan kebutuhan dan distribusi obat secara sistematis.

FK-KMK juga memberikan perhatian serius kepada mahasiswa yang terdampak langsung oleh bencana di wilayah Sumatera. Sebanyak 20 mahasiswa dari jenjang sarjana hingga pascasarjana yang mengalami dampak paling berat menerima bantuan jangka pendek sebagai langkah awal pemulihan. Ke depan, fakultas membuka ruang untuk dukungan jangka menengah hingga panjang. Bantuan ini merupakan wujud empati sekaligus komitmen untuk memastikan pendidikan tetap berlanjut, bahkan di tengah situasi krisis.

Di ranah global, kontribusi FK-KMK diwujudkan melalui kerjasama dengan Pemerintah Indonesia dalam program Scholarship for Health and Medical Development oleh Indonesian AID (SHEMIND) UGM for Palestine. Program ini hadir sebagai upaya nyata untuk membantu membangkitkan kembali pendidikan kedokteran di Gaza, Palestina yang terdampak konflik berkepanjangan. Melalui program ini, FK-KMK menerima maksimal delapan mahasiswa Palestina untuk mengikuti program rotasi klinik di Program Studi Kedokteran.

SHEMIND UGM for Palestine merupakan program beasiswa penuh yang dirancang untuk memberikan kesempatan bagi mahasiswa kedokteran Palestina untuk belajar dan mengembangkan keterampilan klinis di FK-KMK UGM. Beasiswa ini tidak hanya mencakup biaya pendidikan, tetapi juga biaya hidup, akomodasi, perjalanan, asuransi kesehatan, kursus bahasa, serta dukungan darurat lainnya. Program ini terbuka bagi mahasiswa kedokteran Palestina yang direkomendasikan oleh dekan universitas asal.

Harapannya, setelah menyelesaikan studi di FK-KMK UGM, para mahasiswa dapat kembali ke Palestina dan berkontribusi dalam pemulihan sistem kesehatan pascakonflik. Selain itu, mereka dapat menjadi tenaga kesehatan yang siap memperkuat stabilitas dan perdamaian jangka panjang di tanah air mereka melalui pembangunan kapasitas kesehatan yang berkelanjutan.

Di lingkungan internal kampus, salah satu inisiatif yang patut dibanggakan adalah Program Angkringan 8888 yang dirancang oleh Health Promoting University (HPU) FK-KMK, sebuah program sarapan sehat gratis bagi mahasiswa yang diselenggarakan rutin setiap bulan. Program ini kini telah memperoleh Sertifikasi Hak Merek, sebuah pengakuan atas identitas, keberlanjutan, dan inovasi program yang berangkat dari kepedulian terhadap kesehatan dan kesejahteraan mahasiswa.

Pada tingkat internasional, FK-KMK terus memperkuat perannya sebagai institusi pendidikan global. Tahun 2025, FK-KMK menerima delapan mahasiswa jenjang sarjana dari Timor Leste melalui program beasiswa FDCH (Dana Pengembangan Sumber Daya Manusia). Para mahasiswa ini akan menempuh pendidikan di Program Studi Kedokteran dan Ilmu Keperawatan, sebagai bagian dari kontribusi Indonesia dalam pengembangan sumber daya kesehatan.

Komitmen FK-KMK dalam memperkuat sistem kesehatan nasional juga terus diwujudkan melalui pengembangan pendidikan spesialis. Penambahan program studi spesialis, termasuk Spesialis Onkologi Radiasi, merupakan langkah strategis untuk menjawab kebutuhan layanan kesehatan yang semakin kompleks, sekaligus memperkuat kapasitas sumber daya manusia kesehatan Indonesia.