Sudahkah Sivitas Akademika FK-KMK UGM Tangguh Mental?

Sivitas akademika terdiri atas dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan (tendik), maupun badan kepengurusan yang ada di FK-KMK UGM. Komunitas ini secara keseluruhan aktif dalam menjalankan fungsi Tridharma perguruan tinggi, yaitu berkontribusi dan berperan aktif dalam kegiatan pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, serta pengabdian kepada masyarakat.

Namun, sudahkah sivitas akademika FK-KMK UGM tangguh secara mental?

Berdasarkan data dari Layanan Psikologi FK-KMK UGM per Januari – 25 November 2025, sebanyak 240 mahasiswa FK-KMK UGM yang telah mengikuti konseling. Jumlah sesi konseling secara keseluruhan sampai dengan bulan November adalah 471 sesi. Artinya, terdapat beberapa mahasiswa yang mengikuti konseling secara berkelanjutan, tidak hanya satu kali sesi.

Angka ini semakin meningkat setiap tahun, sejak Layanan Psikologi hadir pada Juli 2019 sebagai ruang aman bagi para mahasiswa FK-KMK UGM—baik mahasiswa Sarjana maupun Pascasarjana—untuk menyampaikan kondisi mental mereka. Psikolog Layanan Psikologi FK-KMK UGM, Astuti Dian Lestari, M.Psi., Psikolog, mengungkapkan, sebagian besar mahasiswa yang datang untuk melakukan konseling adalah mahasiswa S-1, baik mahasiswa baru, mahasiswa tingkat pertengahan, maupun mahasiswa akhir.

“Masalah yang paling banyak dikonsultasikan adalah mengenai akademik dan hubungan sosial, seperti masalah pertemanan, pacar, keluarga, atau teman-teman. Tekanan akademik, misalnya, nilainya kurang dari yang diharapkan dan terjadi berkali-kali. Mereka biasanya mau konseling,” kata Astuti.

Astuti menyebut, terdapat tiga tingkatan masalah berdasarkan piramida kesehatan mental, yaitu gangguan kejiwaan (mental illness) pada tingkatan paling atas, masalah kesehatan mental (mental health problem) pada tingkatan menengah, dan masalah stres sehari-hari yang sulit diatasi pada tingkatan paling bawah. Tim Layanan Psikologi FK-KMK UGM menghadapi para mahasiswa dengan ketiga tingkatan tersebut. Meskipun begitu, timnya lebih sering menangani mahasiswa dengan tingkatan masalah stres sehari-hari.

“Memang yang kita tangani ada semua, dari level masalah yang ringan hingga berat itu ada, baik dia yang sudah mengalami gangguan kejiwaan sampai dengan kondisi darurat secara psikis,” ujar Astuti.

Dosen dan Tendik Pun Tak Selalu Baik-Baik Saja

Tak hanya mahasiswa yang mengalami kerentanan mental, sivitas akademika lainnya seperti dosen selaku pengajar dan tendik sebagai pemberi layanan juga tak terelakkan dari kondisi mental tertentu. Ketua Kelompok Kerja Kesehatan Mental Unit Health Promoting University (HPU) FK-KMK UGM, Sri Warsini, S.Kep.Ners., M.Kes.., Ph.D., mengungkapkan, selama 2023 – 2025, sudah ada setidaknya 21 orang dosen dan tendik yang menggunakan layanan Konsultasi Ketangguhan Mental di Klinik SEHATI HPU untuk mendapatkan dukungan psikologis. Sebagian besar dari mereka melakukan konseling karena mengalami stres akibat pekerjaan, baik terkait lingkungan kerja yang toxic atau tidak kondusif seperti hubungan antara atasan dan bawahan atau kolega bekerja yang tidak cukup harmonis.

Selain stres karena pekerjaan, para dosen dan tendik yang mengakses layanan konsultasi juga mengungkapkan keresahan akibat masalah pribadi, keluarga, penyakit, atau trauma masa lalu. “Tapi, secara umum, mereka lebih ke arah toxic workplace atau stres karena pekerjaan,” ucap Sri.

Dosen Departemen Keperawatan Jiwa dan Komunitas FK-KMK UGM itu mengatakan, tim Konsultasi Ketangguhan Mental terdiri atas setidaknya 8 – 10 orang, terdiri atas dosen Departemen Keperawatan Jiwa dan Komunitas, dosen Departemen Ilmu Kedokteran Jiwa, dan pemerhati kesehatan mental dari FK-KMK UGM. Para konselor telah dilatih terlebih dahulu oleh Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi UGM untuk memahami prinsip-prinsip konseling dan praktik komunikasi yang terapeutik.

“Konseling tidak selalu tentang memberikan saran. Terkadang, beberapa di antara mereka hanya ingin didengarkan saja, mengekspresikan apa yang mereka rasakan,” ujar Sri.

Proses Penanganan Masalah Kesehatan Mental Sivitas Akademika

Selama 2019 – 2025, tim Layanan Psikologi yang terdiri atas Astuti dan satu rekan psikolog lainnya, Restu Vistasari, M.Psi., Psikolog, menghadapi mahasiswa yang melakukan konseling atas keinginan sendiri maupun rekomendasi. Rekomendasi diberikan secara formal atau tertulis, dan informal. Biasanya, rekomendasi secara tertulis atau formal diberikan oleh Komite Perilaku Professional (KPP) FK-KMK UGM kepada Layanan Psikologi untuk melakukan pendampingan kepada mahasiswa yang memiliki masalah dan sedang ditangani oleh KPP, atau melalui surat rekomendasi dari Ketua Program Studi. Sementara itu, rekomendasi informal yaitu saran yang diberikan oleh dosen, tendik, atau lingkungan sosial yang mengetahui Layanan Psikologi kepada mahasiswa untuk mengunjungi layanan tersebut.

“Jadi, mereka merekomendasikan mahasiswa untuk berkonsultasi ke psikolog atau daftar sendiri. Pada rujukan formal, mahasiswa yang bersangkutan harus mendaftar melalui Gadjah Mada Medical eLearning (Gamel). Setelah mendaftar, kami akan menghubungi pada hari-H untuk mengonfirmasi dan memberikan reminder bahwa yang bersangkutan ada jadwal konseling pada jam sekian,” kata Astuti.

Setelah mahasiswa melakukan konseling, pada akhir sesi, psikolog akan memberitahu mahasiswa terkait perlu tidaknya mengikuti konseling lanjutan, atau harus pergi ke psikiater, atau dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan farmakoterapi. Apabila mahasiswa masih memiliki tendensi untuk melakukan tindakan bunuh diri pada saat konseling, tim Layanan Psikologi akan langsung mengantar mahasiswa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD).

“Di FK-KMK, Layanan Psikologi di bawah koordinasi Bidang Akademik dan Kemahasiswaan. Kami koordinasi dengan Bagian Kemahasiswaan dahulu untuk menyiapkan sarana ke Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM. Setelah tertangani di IGD dan menjalani rawat inap, kami akan menginformasikan ke pihak program studi yang bersangkutan mengenai kondisi mahasiswa tersebut. Komunikasi dengan orang tua biasanya dilakukan oleh Kaprodi, atau kami yang mewakili,” jelas Astuti.

Setelah mahasiswa dengan kondisi darurat tertangani oleh rumah sakit, tim Layanan Psikologi telah menyerahkan sepenuhnya kepada pihak rujukan. Astuti mengungkapkan, pihaknya tidak dapat memantau lebih lanjut kondisi mahasiswa, dan hanya menerima kembali konseling lanjutan dengan kehendak mahasiswa sendiri.

“Paling kalau misalkan butuh rujukan ke psikiater, kita arahkan ke Gadjah Mada Medical Center (GMC), bisa menggunakan BPJS atau diskon mahasiswa untuk meringankan mahasiswa,” kata Astuti.

Senada dengan Astuti, Sri juga mengemukakan bahwa para dosen dan tendik yang ingin melakukan konseling ke Konsultasi Ketangguhan Mental juga harus melakukan pendaftaran terlebih dahulu disertai tanggal konsultasi melalui formulir daring untuk membuat janji konsultasi dengan konselor. Saat melakukan konseling, Sri atau konselor lainnya menghadap klien secara anonim, atau tanpa mengetahui identitas mereka. Para konselor kemudian melakukan screening kegawatan masalah atau urgensi yang dialami oleh dosen atau tendik tersebut untuk mengetahui perlu-tidaknya rujukan ke psikolog atau psikiater di rumah sakit dan mendapatkan pengobatan. Ia juga mengatakan, konselor akan menyampaikan pendapat, apabila dosen atau tendik yang berkonsultasi membutuhkan masukan.

“Selama ini, dari 21 orang yang sudah datang ke kami, ada dua orang yang membutuhkan konseling tambahan. Namun, sejauh ini, tidak ada (dosen atau tendik) yang ke sana (dirujuk ke rumah sakit). Meskipun saat konsultasi emosi mereka bisa meluap, mereka menyampaikannya dengan menangis, tetapi mereka masih bisa mengontrol itu. Menangis mungkin merupakan cara mereka dalam melepaskan perasaan yang mungkin mereka tidak bisa tumpahkan, kemudian menumpuk, hingga akhirnya memuncak pada saat itu,” ujar Sri.

Meskipun kasus yang ditangani oleh tim Konsultasi Ketangguhan Mental belum ada yang membutuhkan rujukan kepada profesional, Sri mengatakan, timnya akan memberikan konseling tambahan apabila dosen atau tendik yang bersangkutan membutuhkan konsultasi lanjutan. Sementara itu, apabila pihak tersebut tidak datang kembali untuk berkonsultasi, Sri dan tim menganggap bahwa mereka sudah dapat menangani masalah dengan coping mechanism yang mereka miliki atau yang telah timnya tawarkan.

“Kami menawarkan solusi alternatif lain kalau mereka menginginkan. Selama mereka tidak pernah datang kembali atau konseling lagi, kami menganggap masalahnya sudah reda. Namun, apabila mereka membutuhkan lagi, mereka bisa mendaftar melalui website yang tersedia,” papar dosen Departemen Keperawatan Jiwa dan Komunitas itu.

Konsultasi Ketangguhan Mental Klinik SEHATI juga menempatkan diri sebagai pertolongan pertama pada kondisi psikologi dosen dan tendik di FK-KMK UGM. Apabila ada sivitas akademika yang tidak merasa cukup puas dengan layanan Konsultasi Ketangguhan Mental, Sri dan tim akan menyarankan klien untuk turut menggunakan Layanan Psikologi yang dinaungi Astuti. Namun, itu dengan kehendak dosen dan tendik yang bersangkutan.

“Karena dosen dan tendik itu usianya lebih matang dibandingkan dengan mahasiswa pada umumnya, sehingga mereka sudah memiliki beberapa coping sebelumnya. Kalau mahasiswa kan peralihan antara remaja menuju dewasa, jadi mereka merasa kondisi mental tertentu adalah pengalaman pertama bagi mereka. Sementara itu, dosen dan tendik adalah orang dewasa yang sebelumnya sudah memiliki coping, seperti mendiskusikan permasalahannya dengan orang lain adalah hal yang biasa bagi mereka, sedangkan mahasiswa adalah gen-Z lebih suka engage ke media sosial daripada orang lain,” jelas Sri.

Sama seperti Astuti, Sri menekankan, pihaknya tidak menindaklanjuti atau menghubungi kembali dosen atau tendik yang berkonsultasi demi menjaga privasi para kliennya tersebut. Begitu pun dengan kemauan untuk melanjutkan konseling kepada psikolog atau psikiater di rumah sakit.

“Kami lebih kepada berada di tempat konseling untuk mendengarkan apa yang mereka perlu untuk diceritakan. Terkait nantinya masalah mereka akan dieskalasi seperti apa, kami menyerahkan kepada pihak masing-masing. Kami juga tidak menindaklanjuti sampai unit atau tempat mereka bekerja, tapi kami berusaha memahami kebutuhan mereka, bagaimana cara meningkatkan coping terhadap stres, dan bagaimana cara-cara yang bisa digunakan untuk terus bertahan di tempat kerja,” tuturnya.

Di Balik Layanan yang Ada, Ada Tantangan yang Nyata

Konsultasi kesehatan mental sivitas akademika yang sudah sesuai prosedur bukan berarti tidak menemui tantangan. Astuti mengemukakan, kendala yang dihadapi saat memberikan konseling kepada mahasiswa adalah jadwal konsultasi yang seringkali berbenturan dengan jadwal kuliah. Apalagi, ada momen-momen tertentu ketika jadwal konseling penuh, seperti pada bulan kedua semester, bulan kelima semester, dan mendekati waktu ujian. Hal itu menjadi tantangan tersendiri karena tim Layanan Psikologi hanya terdiri atas dua psikolog.

Meskipun jadwal pertemuan konseling menjadi kendala, Astuti mengapresiasi kemauan para mahasiswa dalam membutuhkan konsultasi mental. Bahkan, Astuti menyebut, tak sedikit mahasiswa yang saling mengingatkan, merekomendasikan, mengantarkan temannya ruang konseling, dan berkonsultasi tentang bagaimana membantu teman sekelas yang memiliki masalah kesehatan mental.

“Itu menunjukkan bahwa literasi kesehatan mental mereka sudah bagus; tidak kemudian menjauhi temannya, tetapi benar-benar peduli dan mau membantu,” ujar Astuti.

Serupa dengan Astuti, Sri dan timnya juga memiliki kendala dalam hal penyusunan jadwal konseling. Namun, bukan jadwal kliennya yang sering tidak cocok, tetapi waktu senggang antar konselor. Sri menambahkan, timnya perlu saling berkoordinasi untuk setidaknya ada satu konselor yang dapat memberikan layanan per pekan.

“Ada yang sedang butuh layanan konseling di tanggal tertentu, tetapi para konselor tidak bisa. Harusnya bisa dilakukan penjadwalan ulang, tetapi mereka (klien) tidak ingin reschedule, sehingga miss (terlewat). Padahal, harapan kami kan sebenarnya setiap ada kebutuhan, kami bisa melakukan pelayanan. Tapi, kadang-kadang kesibukan kita tidak bisa ditolerir,” ungkap Sri.

Tim Konsultasi Ketangguhan Mental juga menyampaikan bahwa pihaknya juga berkolaborasi dengan layanan Klinik SEHATI lainnya dalam mewujudkan kesehatan fisik dan mental sivitas akademika FK-KMK UGM. Beberapa kali, Sri dan tim dilibatkan dalam kegiatan Posbindu SEHATI dengan menyediakan konseling kesehatan mental.

Namun, menurut Sri, mengkonsultasikan masalah kesehatan mental tidak bisa dilakukan dengan duduk di tengah hiruk-pikuk layanan Posbindu SEHATI lainnya. Ada privasi klien atau pasien yang perlu dijaga dan klien membutuhkan tempat yang kondusif untuk mengemukakan masalahnya.

“Meskipun pada saat Posbindu ada meja untuk konseling, tetapi stigma konseling itu pasti ada dan dianggap punya masalah. Padahal, terkadang yang mereka konsultasikan bukan masalah, hanya keresahan atau pikiran tertentu. Hal itu yang membuat orang-orang terkadang malas untuk berkonsultasi, karena stigma yang ada tentang kesehatan mental atau karena tidak adanya ruangan yang proper,” kata Sri.

Menanamkan Ketangguhan Mental Sejak di Ruang Kelas

Meskipun banyak tantangan yang ditemui dalam mengedukasi sivitas akademika tentang pentingnya kesehatan mental, FK-KMK UGM juga melangkah ke depan secara bertahap dalam memberikan edukasi di kelas-kelas perkuliahan. Walaupun bukan bagian dari kurikulum, Astuti mengatakan, pihaknya telah membuat kelas psikoedukasi kesehatan mental kepada para mahasiswa di setiap tingkatan, sebagai bagian dari promosi pentingnya sehat dan tangguh secara mental. Kelas itu dilaksanakan satu kali per semester untuk mahasiswa Sarjana di semua program studi.

Setiap semester, tim Layanan Psikologi berkoordinasi dengan masing-masing program studi Sarjana untuk menjadwalkan kelas psikoedukasi dengan tema yang berbeda tiap semester. Beragam tema yang diberikan seperti materi tentang cara beradaptasi menjadi mahasiswa baru (managing transition), literasi kesehatan mental, membangun relasi sehat, hingga mengelola strategi agar skripsi berjalan dengan efektif.

Dalam mengadakan kelas psikoedukasi tiap semester, Astuti mengaku bahwa tantangan yang dihadapi adalah menurunnya motivasi mahasiswa tingkat akhir untuk menghadiri kelas. Pasalnya, kelas ini bersifat tidak wajib, atau sukarela untuk hadir. Oleh karena itu, untuk meningkatkan animo mahasiswa untuk menghadiri kelas, tim Layanan Psikologi bekerja sama dengan program studi untuk membuat jadwal kelas di tengah-tengah perkuliahan.

“Masih ada banyak ruang untuk perbaikan kelas psikoedukasi tersebut, karena partisipasinya sudah agak menurun pada semester empat. Jadi, kita sisipkan di jadwal kuliah. Cuma, karena itu tidak wajib, voluntary, biasanya kalau sudah tingkat atas (mahasiswa), jumlah yang hadir relatif lebih sedikit. Tapi, kalau masih (semester) awal, masih banyak yang mau (hadir),” terang Astuti.

Apa yang Mendesak untuk Dibenahi?

Menurut Astuti, hal yang masih perlu dikelola lebih lanjut untuk meningkatkan kesehatan mental sivitas akademika adalah skrining kesehatan mental yang dilakukan oleh universitas. Astuti menyebut, UGM telah melakukan skrining kesehatan mental kepada sivitas akademika melalui pengisian formulir yang dibagikan di Simaster. Namun, skrining masih dalam tahap melihat tingkat risiko kondisi mental tertentu yang dialami oleh sivitas akademika FK-KMK UGM. Setelah hasil skrining terkumpul, UGM akan meneruskan hasil tersebut kepada masing-masing Layanan Psikologi fakultas untuk menindaklanjuti.

Namun, menurut Astuti, upaya tindak lanjut yang dilakukan oleh tim Layanan Psikologi FK-KMK UGM masih belum optimal, mengingat skrining baru mulai berjalan pada 2025. Selain itu, Astuti juga menganggap bahwa tim Layanan Psikologi perlu bekerja lebih keras untuk membuat program promosi dan prevensi yang lebih komprehensif dan menjangkau semua level, tidak hanya mahasiswa Sarjana saja, tetapi juga mahasiswa Pascasarjana.

Mendukung Astuti, Sri juga berpendapat, upaya meningkatkan kesehatan di seluruh kalangan sivitas akademika tidak hanya terbatas pada penyediaan fasilitas penunjang kesehatan fisik–jogging track, Posbindu, agenda olahraga pada Jumat pagi di lingkungan UGM–semata, tetapi juga ketersediaan fasilitas pendukung kesehatan mental. Sri juga mengatakan, FK-KMK UGM telah menyediakan layanan konseling. Namun, tugas utama yang dapat dilakukan sebelum memberikan layanan konseling adalah tentang cara agar sivitas akademika tidak memiliki masalah mental melalui program promosi dan prevensi.

Sri berharap, siapa pun di FK-KMK UGM dapat mengambil bagian dalam memberikan edukasi maupun mencegah permasalahan mental. Misalnya, para pemimpin di lingkungan fakultas dapat belajar menciptakan lingkungan kerja yang sehat. Sebagai rumah kedua bagi para dosen dan tendik, Sri berharap FK-KMK UGM sebagai tempat kerja dapat memberikan kenyamanan bagi seluruh sivitas akademika yang terlibat kegiatan belajar-mengajar maupun pelayanan.

“Jadi, ada upaya masing-masing dari kita untuk tahu betul cara menciptakan lingkungan yang nyaman bagi semua civitas akademika. Bagi para pengelola, mungkin saat pertemuan RKF bisa ada muatan materi tentang menciptakan lingkungan kerja yang tidak toxic, lingkungan kampus yang nyaman, sehingga masing-masing dari kita dapat berkontribusi dengan baik. Tidak hanya cukup puas dengan adanya konseling di Klinik SEHATI, tapi juga kaya akan program promosi dan prevensi kesehatan mentalnya. Tidak hanya pengambil keputusan yang terlibat, tapi juga sivitas akademika seperti dosen dan tendik. Misalnya, sebagai dosen, harus paham bagaimana menciptakan lingkungan bimbingan skripsi yang nyaman bagi mahasiswa. Jangan sampai, sebagai dosen, ditakuti mahasiswa. Akhirnya, mahasiswa jadi tidak maju-maju skripsinya, bahkan bisa drop out,” terang Sri.

Oleh karena itu, target terdekat yang hendak dicapai oleh tim Layanan Psikologi maupun tim Konsultasi Ketangguhan Mental HPU adalah menyelenggarakan kegiatan yang bersifat promosi dan prevensi terkait kesehatan mental bagi seluruh sivitas akademika FK-KMK UGM. Menurut mereka, kegiatan promosi dan prevensi harus dilakukan secara berkelanjutan dan untuk semua sivitas akademika.

Kegiatan yang dimaksud seperti Pelatihan Psychological First Aid untuk dosen, Dosen Pembimbing Akademik (DPA), dan tendik, atau kegiatan yang bersamaan dengan momentum Hari Kesehatan Jiwa. Harapannya, seluruh sivitas akademika memiliki kemampuan dan keterampilan untuk menjaga diri agar tetap sehat dan dapat membantu kondisi mental orang lain. Selain itu, beragam kegiatan itu diharapkan dapat memberikan motivasi para dosen maupun tendik untuk tetap bekerja dengan penuh semangat dan produktif, dengan tetap mempertahankan kesehatan mental mereka.

“Karena hal ini tidak bisa dilakukan sekali, harus berkali-kali dan menjadi obrolan sehari-hari, karena kami masih sering ditanya tentang bagaimana cara menghadapi teman dengan kondisi mental tertentu. Jadi, kegiatan semacam itu harus secara berkelanjutan dilakukan dan diprogramkan,” ujar Astuti.

Kontribusi sederhana seperti menempelkan poster berisi kalimat penyemangat dan penuh kepedulian kepada sivitas akademika juga dirasa perlu. Poster atau kalimat penggugah itu dapat ditempatkan di berbagai sudut strategis di fakultas, sehingga memberikan secercah harapan baik bagi orang yang membacanya.

“Misalnya, poster bertuliskan ‘Bagaimana kerjamu hari ini? Kalau kamu lagi pusing atau ada keluhan, bisa, kok, konseling di SEHATI’. Jadi, mereka merasa diperhatikan kesehatan mentalnya. Dan juga, di bayangan kami, ada general check up untuk kesehatan mental setiap tahunnya, untuk mengetahui kondisi kesehatan psikologis mereka,” kata Sri.

Sivitas Tangguh Mental di Masa Depan

Di masa depan, Astuti berharap, mahasiswa FK-KMK UGM tidak hanya memandang kesehatan hanya seputar fisik atau mental, tetapi secara holistik; satu kesatuan yang utuh dan saling terkait. Ia turut menekankan pentingnya kebutuhan dasar, seperti pola tidur yang cukup, makan teratur, aktivitas fisik yang rutin, dan terkoneksi dengan teman-teman yang suportif, mau bertumbuh bersama, serta saling mendorong untuk produktif dan berprestasi.

Apabila sudah tidak dapat mengatasi masalah sehari-hari mereka, Astuti mendorong para mahasiswa FK-KMK UGM untuk berani mencari bantuan kepada orang-orang terdekat dulu. Jika melalui orang terdekat masih menemui kesulitan, ia menyarankan untuk datang ke profesional.

“Walaupun literasi kesehatan mental sudah bagus, jangan ragu untuk menggunakan layanan kesehatan mental yang ada di FK-KMK maupun di universitas semaksimal mungkin, karena bukan suatu hal yang mudah untuk bicara ke orang lain seperti psikolog, apalagi psikolog adalah orang asing. Membicarakan permasalahan hidup bukan suatu hal yang mudah, perlu dilatih juga. Jadi, kalau di kampus ada fasilitasnya, manfaatkan saja agar mahasiswa terlatih untuk membantu diri,” pesan Astuti.

Tak hanya mahasiswa, menjadi sivitas akademika yang tangguh mental di masa depan juga digaungkan untuk dosen dan tendik. Pasalnya, dosen dan tendik adalah salah satu elemen fakultas yang memiliki peran untuk menciptakan lingkungan yang baik untuk mahasiswa. Sri menyebut, tak jarang mahasiswa enggan untuk menggunakan layanan fasilitas fakultas karena pengalaman atas pelayanan dosen atau tendik yang kurang menyenangkan.

Menurut Sri, terkadang, tendik tidak merasa mempunyai kontribusi terhadap mutu pendidikan. Ia juga berpandangan, tendik menganggap bahwa yang dibutuhkan dalam bekerja hanyalah kesehatan fisik saja. Padahal, kesehatan psikis juga tidak kalah pentingnya untuk tetap resilien di tempat kerja. Dalam memberikan layanan, dosen dan tendik diharapkan untuk mampu menahan emosi negatif dan dapat mencegah komunikasi yang kurang baik.

“Untuk menjadi staf yang prima, tidak hanya memprioritaskan kebutuhan fisik, tapi juga kebutuhan mental. Kadang, kita merasa lingkungan kita tidak membuat kita nyaman. Yang bisa kita lakukan adalah meningkatkan ketahanan tubuh agar resilien. FK-KMK adalah rumah kita bersama, jadi kita harus saling menghormati, saling mendukung, sehingga harapannya layanan yang kita berikan kepada mahasiswa juga prima. Mari kita sama-sama meningkatkan kapasitas kita sebagai sivitas akademika di FK-KMK dengan baik,” tutur Sri.

(Penulis: Citra Agusta Putri Anastasia. Narasumber: Sri Warsini, S.Kep.Ners., M.Kes.., Ph.D., Astuti Dian Lestari, M.Psi., Psikolog)