Mahasiswa FK-KMK UGM Meneliti Peran Polimorfisme HMOX1 pada Risiko HAP-DSA Suku Jawa

FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada meluluskan mahasiswa Program Studi Doktor atas nama dr. Dewi Karita, M.Sc dengan predikat cumlaude, pada Kamis (12/02). Kelulusan ini berjalan sesuai dengan prosedur akademik melalui sidang terbuka di Auditorium FK-KMK UGM. Adapun sidang terbuka ini memuat bahasan disertasi yang berjudul “Hubungan Polimorfisme Gen HMOX1 rs2071746 dan Microsatellite (GT)n Dengan Pasien Hipertensi Arterial Pulmonal (HAP) Terkait Defek Septum Atrial Pada Suku Jawa”.

Penelitian ini memuat substansi terkait pada riset akademik yang berfokus pada kondisi Hipertensi Arteri Pulmonal (HAP). Secara dekripsi HAP ini merupakan bentuk komplikasi yang serius dari Defek Septum Atrium (DSA). Patogenesisnya berkaitan dengan stres oksidatif dan disfungsi endotel. Penelitian ini berusaha untuk menggali korelasi sosialnya secara langsung pada populasi suku Jawa. Adapun Suku Jawa dipilih karena memiliki kondisi polimorfisme yang serupa dengan variasi genetik SNP rs2071746(-413>T) dan Microsatellite (GT)N repeat dalam mempengaruhi ekspresi HO-1 dan potensi mempengaruhi resiko HAP.

Penelitian ini menggunakan bertujuan untuk  mengetahui distribusi genotip dan alel HMOX1 rs2071746 dan (GT)n pada pasien HAP-DSA dan kontrol; Menganalisis hubungan polimorfisme dengan risiko HAP; dan Menganalisis kadar plasma HO-1 dan produk metaboliknya (bilirubin, HbCO, ferritin) serta Endothelin-1 (ET-1). Adapun metode yang digunakan memuat observasional analitik (kasus-kontrol) dengan unsur metode Subjek, pemeriksaan, dan analisis.

Penelitian ini memberikan beberapa hasil temuan diantaranya. Pertama, Polimorfisme rrs2071746, Kedua, Alel L berhubungan dengan siginfikasikan dengan resiko HAP: OC=2.01 (p=0,0015), Ketiga, kader biomarker dengan fakta tidak adanya perbedaan signifikan bilirubin dan HbCO. Temuan ini memberikan kesimpulan bahwa, kondisi Polimorfisme HMOX1 rs2071746 berperan signifikan sebagai faktor risiko HAP-DSA pada suku Jawa.

“Penelitian ini bisa saya selesai berkat dukungan dari berbagai pihak. Penelitian ini memberikan sempat terkendala akibat dari terkendalanya pengumpulan pasien. Namun, berkat dukungan dari rekan-rekan laboratorium dan rumah sakit yang telah membantu,” kata dr. Dewi.

Kegiatan ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Di antaranya, SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera dengan menekankan komitmen penelitian kesehatan berbasis populasi Suku Jawa. SDGs 4: Pendidikan Berkualitas dengan menekankan keberdampakan manfaat penelitian dengan menekankan konsep temua kondisi kesehatan populasi Suku Jawa terhadap Hipertensi Arterial Pulmonal (HAP), SDG 5: Kesetaraan Gender, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. (Reporter/Tedy).