Mahasiswa FK-KMK UGM Uji Efektivitas Tolvaptan sebagai Terapi Tambahan Fase Awal pada Gagal Jantung Akut

FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada meluluskan mahasiswa Program Studi Doktor, Dr. dr. Vireza Pratama, Sp.JP(K)., FIHA., FAsCC., FSCAI., FESC, dengan predikat Sangat Memuaskan sebagai Doktor Ilmu Kedokteran dan Kesehatan. Dalam ujian terbuka di Auditorium FK-KMK UGM pada Senin, (10/11). dr. Vireza memaparkan hasil penelitiannya yang berjudul “Efektivitas dan Keamanan Pemberian Terapi Tambahan Aquaresis Tolvaptan Saat Fase Awal Klinis Gagal Jantung Akut Pada Pasien Gagal Jantung Kronis Dengan Penurunan Fungsi Ventrikel Kiri: Penelitian Uji Acak Terkendali”.

Penelitian ini mengevaluasi efektivitas dan keamanan penggunaan tolvaptan sebagai terapi tambahan fase awal klinis gagal jantung akut pada pasien gagal jantung kronis dengan penurunan fungsi ejeksi ventrikel kiri. dr. Vireza melakukan penelitian dengan uji klinis acak terkontrol di tiga rumah sakit rujukan tersier nasional, yakni RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita Jakarta, serta RSPAD Gatot Subroto Jakarta. Studi ini berlangsung sejak Maret 2023 hingga April 2025 dan melibatkan pasien gagal jantung kronis yang mengalami perburukan akut dengan fraksi ejeksi rendah.

“Penelitian yang kami lakukan ini sudah cukup membuktikan untuk penggunaan Tolvaptan pada pasien gagal jantung. Jadi uji acak terkendali dengan menggunakan Plasebo sudah cukup untuk membuktikan efektivitas obat ini. Ini yang kita temukan dalam jangka pendek dan mungkin sampai jangka menengah. Ketika ini digunakan tentunya ada beberapa tahapan yang harus dilakukan seperti melakukan registry nasional dengan melibatkan multicenter rumah sakit,” terang dr. Vireza.

Latar belakang penelitian dikarenakan tingginya beban penyakit gagal jantung kronis secara global yang mencapai lebih dari 55 juta orang, dengan sebagian besar rawat inap disebabkan oleh episode gagal jantung akut. Tolvaptan, sebagai antagonis reseptor vasopresin V2 selektif, dinilai memiliki potensi sebagai agen dekongestan yang bekerja dengan mengurangi reabsorpsi air di tubulus ginjal sehingga diharapkan memberikan efek diuresis tanpa memperberat gangguan fungsi ginjal, berbeda dengan diuretik konvensional dosis tinggi.

Metode penelitian menggunakan desain uji klinis acak terkontrol dengan label tertutup. Subjek dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang menerima tolvaptan 15 mg per hari selama dua hari dan kelompok plasebo, keduanya diberikan bersamaan dengan terapi standar sesuai guideline-directed medical therapy. Luaran utama yang dinilai meliputi perbaikan derajat sesak napas dan volume urin dalam 24 dan 48 jam, sementara luaran sekunder mencakup kebutuhan furosemid, perubahan berat badan, biomarker NT-proBNP, lama rawat inap, fungsi ginjal, keseimbangan elektrolit, mortalitas, serta efek samping.

Hasil penelitian terhadap 105 subjek menunjukkan bahwa kelompok tolvaptan mengalami perbaikan sesak napas yang lebih signifikan dan peningkatan produksi urin yang lebih besar dibandingkan kelompok plasebo. Selain itu, penggunaan furosemid total lebih rendah, penurunan berat badan lebih besar, dan lama rawat inap lebih singkat pada kelompok tolvaptan. Tidak ditemukan perbedaan bermakna terkait gangguan elektrolit, fungsi ginjal, angka kematian, maupun kejadian efek samping serius antara kedua kelompok.

“Tujuan utama penelitian ini adalah perbaikan kondisi kegawatan dengan menilai, atau mengevaluasi, melihat tatalaksana untuk kondisi kegawatan, yaitu dengan pasien sesak nafas saat datang ke UGD dengan kondisi gagal jantung akut tersebut. Maka, kami mengatakan hasilnya penelitian ini sudah cukup baik. Tapi untuk luaran sekunder, dalam segi keamanan, kita tentu membutuhkan data yang lebih panjang ataupun yang lebih lama.”

Pemaparan dalam ujian terbuka ini sejalan dengan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui peningkatan kualitas penanganan penyakit kardiovaskular, SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui penguatan riset klinis berbasis bukti di lingkungan akademik, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara institusi pendidikan dan rumah sakit rujukan nasional dalam pengembangan ilmu kedokteran. (Humas/Sitam).