FK-KMK UGM Kembangkan Langkah Strategis Riset Puskesmas Inklusif Bersama Mitra Layanan Primer

FK-KMK UGM. Pusat Perilaku dan Promosi Kesehatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan pertemuan koordinasi bersama Puskesmas Tegalrejo dan Puskesmas Mantrijeron untuk membahas rencana pengembangan riset puskesmas inklusif. Kegiatan untuk melanjutkan serta memperkuat riset layanan inklusif yang sebelumnya telah dilaksanakan.

Pertemuan dihadiri oleh Kepala Puskesmas Mantrijeron drg. Eny Purdiyanti dan Penanggung Jawab Program HIV Puskesmas Mantrijeron dr. Fitri, serta perwakilan Puskesmas Tegalrejo yang terdiri atas Penanggung Jawab Program HIV dr. Fajar Wahyuni dan Kepala Tata Usaha Susiliawati. Dari FK-KMK UGM, hadir Prof. Mubasysyir Hasanbasri selaku ketua peneliti bersama Dr. Retna Siwi Padmawati, serta tim peneliti yang melibatkan Almaasita Yumna Hajar, MPH., Purnama Dewi Siregar, MPH., dan Tutik Istiyani, S.Sos.

Dalam sesi pembuka, Prof. Mubasysyir Hasanbasri menekankan pentingnya melakukan evaluasi bersama terhadap capaian program yang telah berjalan, sekaligus merumuskan arah pengembangan layanan inklusif pada tahap selanjutnya. Menurutnya, komunikasi yang berkelanjutan antar pihak menjadi kunci agar penguatan layanan tidak berhenti pada fase awal implementasi.

Dr. Retna Siwi Padmawati selanjutnya menyampaikan tawaran kegiatan pengabdian kepada masyarakat sebagai langkah awal di satu hingga dua puskesmas. Pendekatan bertahap ini dipandang penting untuk menguji metode, sekaligus membangun dasar yang kuat bagi pengembangan riset lanjutan yang lebih komprehensif.

Puskesmas Mantrijeron menyoroti kebutuhan pelatihan bagi tenaga kesehatan non-klinis. Layanan inklusif tidak hanya ditentukan oleh kompetensi klinis, tetapi juga oleh kualitas interaksi di lini depan pelayanan, termasuk proses penerimaan pasien dan alur layanan harian. Sementara itu, Puskesmas Tegalrejo menekankan pentingnya identifikasi masalah prioritas, terutama dalam konteks layanan HIV/AIDS yang kini terintegrasi dengan layanan umum dan menunjukkan peningkatan jumlah pasien klinik ARV.

Isu-isu seperti tingginya angka loss to follow up, belum optimalnya pendekatan Test and Treat, serta tantangan notifikasi pasangan turut menjadi perhatian bersama. Seluruh pembahasan tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan riset puskesmas inklusif perlu berangkat dari kebutuhan nyata di lapangan, termasuk kesiapan sistem, kapasitas tenaga kesehatan, dan pengalaman pasien dalam mengakses layanan.

Kegiatan ini selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, yakni SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan layanan kesehatan primer yang berkualitas dan berbasis kebutuhan masyarakat, SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan dengan mendorong akses layanan kesehatan yang inklusif bagi kelompok rentan, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan puskesmas dalam memastikan keberlanjutan riset dan implementasi perbaikan layanan kesehatan. (Kontributor: Almaasita Yumna Hajar dan Nia Lestari Muqarohmah).