FK-KMK UGM Dorong Tata Kelola Kesehatan Berkeadilan dalam Dinamika Global di PMAC 2026

FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada turut mencermati rangkaian pertemuan sampingan pada hari pertama Prince Mahidol Award Conference (PMAC) 2026 yang mengulas keterkaitan antara sistem kesehatan, kesetaraan, dan perubahan demografis dalam konteks global. Berbagai sesi tematik yang digelar pada hari pembuka konferensi ini menjadi ruang refleksi dan dialog lintas sektor mengenai tantangan nyata yang dihadapi sistem kesehatan di tengah transisi demografi, krisis iklim, dan ketidakpastian geopolitik. Kegiatan tersebut berlangsung pada Senin, 26 Januari 2026, dengan melibatkan pembuat kebijakan, akademisi, praktisi, serta perwakilan generasi muda dari berbagai negara.

Salah satu sesi yang menonjol adalah Prince Mahidol Award Youth Program Conference 2026 yang mengangkat tema kepemimpinan muda dan kesetaraan. Para pembicara muda menekankan bahwa perubahan struktur demografi, termasuk meningkatnya proporsi usia produktif dan populasi lansia, harus direspons dengan sistem kesehatan yang melibatkan kaum muda sebagai mitra strategis dalam perumusan kebijakan. Kepemimpinan generasi muda dipandang krusial untuk mendorong solusi berkeadilan di bidang kesehatan digital, ketahanan iklim, serta penguatan layanan berbasis komunitas. “Jika kita menginginkan sistem kesehatan yang bekerja untuk semua generasi, kita harus mendesainnya bersama dengan suara generasi berikutnya di meja,” ungkap salah satu pembicara, yang mencerminkan pentingnya partisipasi inklusif dalam tata kelola kesehatan.

Isu kebijakan kesehatan dalam konteks perubahan demografi juga dibahas dalam pertemuan sampingan yang diselenggarakan oleh Bank Dunia. Forum ini menghadirkan dialog komparatif mengenai pembiayaan kesehatan berkelanjutan dan pemerataan layanan di tengah pergeseran struktur penduduk. Studi kasus dari India, Nigeria, dan Indonesia menunjukkan bahwa bonus demografi hanya dapat dimanfaatkan secara optimal apabila sistem kesehatan siap menghadapi lonjakan kebutuhan kelompok remaja sekaligus peningkatan layanan bagi populasi lanjut usia. Perwakilan Indonesia memaparkan Proyek Transformasi Sistem Kesehatan Indonesia yang dirancang untuk memperluas akses universal melalui penguatan lebih dari 300.000 fasilitas pelayanan kesehatan primer, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, serta strategi pembiayaan yang adaptif terhadap tantangan geografis dan demografis.

Sesi lain menyoroti keterkaitan antara kesetaraan, perubahan iklim, dan diplomasi kesehatan global. Diskusi menegaskan bahwa tantangan kesehatan tidak dapat dipisahkan dari faktor lingkungan dan politik, sehingga diperlukan kerangka kerja sama multilateral yang mampu menyelaraskan agenda kesehatan, iklim, dan demografi. Dampak perubahan iklim seperti peningkatan penyakit berbasis vektor, krisis pangan dan air, serta kerentanan fasilitas kesehatan menjadi sorotan utama, terutama bagi kelompok masyarakat yang terpinggirkan. Dalam konteks ini, tata kelola kesehatan global dinilai masih menghadapi tantangan berupa sistem yang terfragmentasi, lemahnya sistem peringatan dini, serta belum optimalnya integrasi adaptasi iklim dalam kebijakan kesehatan nasional.

Kegiatan ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan sistem kesehatan yang responsif terhadap perubahan demografi dan iklim, SDG 4: Pendidikan Berkualitas dengan mendorong kepemimpinan dan kapasitas generasi muda dalam kebijakan kesehatan, SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui pemanfaatan teknologi digital kesehatan yang inklusif, SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan dengan penekanan pada kesetaraan akses layanan, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui penguatan kerja sama multilateral dan lintas sektor dalam menghadapi tantangan kesehatan global. (Kontributor: Shita Listyadewi/Editor: Widarti)