FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan seminar Kegiatan Penanganan Bencana Banjir Aceh Utara oleh Tim AHS UGM pada Jumat (30/1), di Auditorium Tahir Utara Lantai 1 FK-KMK UGM. Seminar ini menjadi laporan komprehensif dari kegiatan penanganan bencana banjir yang dilaksanakan oleh tim AHS UGM di Aceh Utara, Provinsi Aceh, sejak akhir November 2025 hingga Januari 2026.
Kegiatan yang diselenggarakan secara bauran tersebut bertujuan untuk memberikan pemahaman yang mendalam tentang pentingnya rapid health assessment sebagai dasar pengambilan keputusan untuk pengiriman tim EMT dan bantuan logistik ke lokasi bencana, serta memberikan gambaran detail mengenai apa saja yang telah dilakukan oleh lima gelombang tim EMT-AHS UGM selama penanganan bencana. Webinar ini turut berbagi leasson learn model mobilisasi relawan melalui strategi pembentukan tim relawan lintas sektor (RS Jejaring AHS) yang cepat dan efektif, serta memaparkan pentingnya Health Emergency Operation Center (HEOC) sebagai pusat komando koordinasi agar bantuan tidak tumpang tindih saat penanganan bencana.
Wakil Dekan Bidang Kerjasama, Alumni dan Pengabdian Kepada Masyarakat FK-KMK UGM, Dr. dr. Sudadi, SpAn-TI, Subsp.N.An(K), Subsp.An.R(K), dalam sambutannya melaporkan bahwa setelah banjir melanda Sumatra, tim FK-KMK UGM segera mengadakan pertemuan yang mengundang beberapa anggota dari AHS UGM untuk mendiskusikan langkah penanganan bencana. Mengetahui 18 kabupaten—termasuk 226 kecamatan dan 3.310 desa—di Aceh Utara terdampak bencana, Pokja Bencana FK-KMK UGM, AHS UGM, serta lintas departemen FK-KMK dengan sigap membentuk tim EMT-AHS UGM untuk terjun langsung di Aceh Utara.
“Pada tahap awal, kami mengirimkan dua orang, yaitu satu dokter bedah dan satu ahli bencana, untuk melakukan mitigasi dan membentuk pusat krisis yang ada di Banda Aceh. Sembari kami mempersiapkan tenaga yang ada di Banda Aceh, kami membentuk tim yang terdiri dari anggota AHS kami,” kata dr. Sudadi.
Per 2 Desember 2025, tim EMT-AHS UGM mengirimkan dua delegasi untuk melakukan asesmen dan pendampingan HEOC di Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, disusul oleh Tim Medis EMT-AHS UGM Aceh Utara Batch 1 pada 4 Desember 2025. Dengan dukungan transportasi dari Kagama Aceh, tim berangkat ke Aceh Utara melalui jalur transportasi udara dan laut. Sesampainya di Kecamatan Lhoksukon, tim Batch 1 segera membantu pemerintah daerah dan dinas kesehatan serta berkoordinasi dengan HEOCH Aceh Utara. Pengiriman tim berlanjut hingga awal Januari 2026, dengan melibatkan empat tim lanjutan.
“Secara keseluruhan, total tim yang ditugaskan sebanyak 60 personel, terdiri atas 19 dokter spesialis, 5 dokter umum, 19 perawat, 2 keswa, 8 apoteker, 4 sanitarian, 3 teknisi IPSRS, 3 ahli gizi, dan 3 surveilan. Selain di pusat, yaitu RS Muchtar Hasbie, kita melakukan pelayanan di beberapa puskesmas yang saat itu dalam kondisi darurat, antara lain di Puskesmas Muara Batu, Puskesmas Babah Buloh, Puskesmas Langkahan, Puskesmas Baktiya, hingga Puskesmas Baktiya Barat,” papar dr. Sudadi.
Wakil Dekan Bidang Kerjasama, Alumni dan Pengabdian Kepada Masyarakat FK-KMK UGM itu menambahkan, tim EMT-AHS UGM tak hanya membantu penanganan bencana di Aceh Utara saja, tetapi juga di Kabupaten Bener Meriah, Aceh. Di sana, tim melakukan mitigasi seperti di Aceh Utara, juga mengirimkan tenaga medis dan bantuan lainnya.
Secara keseluruhan, ruang lingkup intervensi dukungan pelayanan yang dilakukan oleh tim EMT-AHS UGM meliputi koordinasi dan advokasi lintas sektor untuk optimalisasi layanan kesehatan penanganan banjir Aceh Utara, penguatan manajemen melalui fasilitasi operasional HEOC, optimalisasi layanan kesehatan primer dan sekunder di RS Muchtar Hasbie serta puskesmas setempat, serta pelayanan kesehatan spesialistik yang berfokus pada KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) dan kesehatan jiwa.
Lebih mendalam, webinar menghadirkan beberapa narasumber, antara lain Sutono, S.Kp., M.Kep., M.Sc yang membahas strategi pembentukan dan mobilisasi EMT RS Jejaring AHS UGM; Apt. Gde Yulian Yogadhita, M.Epid yang memaparkan penguatan HEOC dalam penanganan banjir Aceh Utara; dan dr. Agung Widianto, Spb.B-KBD yang menuturkan tentang Rapid Health Assessment dan identifikasi kebutuhan strategis di wilayah terdampak. Ada pula dr. R. Wahyu Kartiko Tomo, Sp.B, Subsp.Onk(K) yang membahas optimalisasi pelayanan kesehatan primer dan sekunder pada penguatan fungsi RS serta Puskesmas; Dr. dr. Yudha Mathan Sakti, Sp.O.T., Subsp.O.T.B(K) menerangkan tentang koordinasi lintas sektor untuk optimalisasi layanan kesehatan penanganan banjir Aceh Utara; dan dr. Raden Yuli Kristyanto, M.Sc., Sp.A yang memaparkan terkait implementasi pelayanan medis spesialistik pada situasi bencana di Aceh Utara.
Seminar Kegiatan Penanganan Bencana Banjir Aceh Utara oleh Tim AHS UGM turut mendorong tercapainya Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera; SDG 4: Pendidikan Berkualitas; SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur; serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Penanganan bencana banjir tersebut membuka akses terhadap air bersih dan sanitasi maupun obat-obatan yang terjangkau bagi korban bencana, keterampilan literasi dasar dan inovasi terkait manajemen bencana, dan membangun peningkatan kapasitas manajemen kebencanaan tingkat kabupaten maupun provinsi di Indonesia. (Penulis: Citra/Humas).



