FK-KMK UGM. Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK UGM menyelenggarakan Webinar Kaleidoskop Medical Wellness 2025 sebagai ruang refleksi dan pembelajaran bersama terkait kemajuan serta potensi pengembangan industri medical wellness di Indonesia. Kegiatan ini menempatkan pengalaman praktis daerah sebagai titik pijak utama, sekaligus menegaskan bahwa medical wellness perlu dipandang sebagai pengembangan kawasan terintegrasi yang mengombinasikan layanan kesehatan, pariwisata, dan penguatan ekonomi lokal. Webinar tersebut dilaksanakan pada Selasa, 14 Januari 2026, dan diikuti oleh pemangku kepentingan lintas sektor yang memiliki perhatian terhadap pengembangan wisata kesehatan nasional.
Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., Ph.D., dalam pembukaannya memaparkan gambaran perjalanan medical wellness sepanjang 2025 sekaligus harapan strategis menuju 2026. Ia menekankan bahwa medical wellness tidak dapat direduksi hanya sebagai layanan rumah sakit, melainkan harus dipahami sebagai sebuah ekosistem kawasan. Prof. Laksono mengilustrasikan sejumlah wilayah dengan potensi besar, seperti Karanganyar, Badung, dan Tegal, yang memiliki kekayaan sumber daya alam, kebudayaan, kuliner, serta struktur biaya yang kompetitif. Menurutnya, keberhasilan pengembangan kawasan terpadu sangat bergantung pada integrasi berbagai aktor, mulai dari rumah sakit, klinik, hotel atau resor, agen perjalanan, transportasi, hingga pelaku usaha lokal.
Lebih lanjut, Prof. Laksono menyoroti tantangan dari sisi sumber daya manusia dan sertifikasi. Ketersediaan tenaga kesehatan yang memiliki pemahaman khusus mengenai wisata kesehatan masih terbatas, sehingga sertifikasi layanan menjadi faktor penting untuk membangun legitimasi dan kepercayaan pasar. Ia juga mendorong penerapan prinsip Learning Health System sebagai pendekatan pembelajaran sistemik yang memungkinkan evaluasi berkelanjutan, perbaikan produk, serta adaptasi kebijakan secara dinamis. Dalam konteks persaingan regional, Malaysia dan Thailand dinilai telah melangkah lebih maju, sementara Indonesia sesungguhnya memiliki keunggulan biaya dan sumber daya, namun memerlukan strategi, pelatihan, dan kemandirian agar tidak terlalu lama bergantung pada tenaga asing.
Pemaparan berikutnya disampaikan oleh Elisabeth Listyani yang mengulas perjalanan praktis pengembangan medical wellness di Indonesia melalui langkah-langkah konkret dari tahap perencanaan hingga peluncuran. Ia menelusuri perjalanan yang dimulai dari inisiatif Bali pada 2023, termasuk pendampingan penyusunan business plan, uji coba produk, evaluasi, hingga peluncuran resmi Bali Medical Wellness Tourism pada 10 Agustus 2023. Pada 2024, rangkaian penguatan dilakukan melalui berbagai webinar, lokakarya, serta promosi internasional, termasuk partisipasi dalam pameran di Amsterdam.
Perjalanan tersebut berlanjut pada 2025 melalui pendampingan pengembangan kawasan Guci Medical Wellness Tourism di Kabupaten Tegal. Sejak April 2025, dilakukan penyusunan peta jalan kawasan wisata kesehatan terintegrasi dan business plan, diikuti uji coba produk oleh operator pada Juli hingga September, serta peluncuran resmi pada 7 Oktober 2025. Fokus implementasi diarahkan pada penguatan sumber daya manusia, pembentukan paket layanan terintegrasi, evaluasi produk sebelum promosi skala luas, serta pemanfaatan kearifan lokal sebagai daya tarik utama.
Selain itu, PKMK FK-KMK UGM bekerja sama dengan berbagai institusi, termasuk universitas, institusi pendidikan lainnya, perhimpunan, dan praktisi, secara konsisten menyelenggarakan webinar bertema medical wellness, seperti forest wellness, akupunktur, nutrisi, dan integrative medicine, sebagai bagian dari upaya penguatan kapasitas sumber daya manusia di bidang ini. Dalam sesi diskusi, peserta membahas kebutuhan pelatihan lintas profesi, pentingnya kejelasan standar dan sertifikasi, karakteristik pembiayaan layanan medical wellness yang bersifat out-of-pocket, hingga kebutuhan integrasi operasional melalui sistem rujukan dan paket layanan yang realistis.
Pengembangan medical wellness yang dibahas dalam webinar ini selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan layanan promotif dan preventif berbasis kawasan, SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui pengembangan ekonomi lokal dan pariwisata kesehatan, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, perguruan tinggi, pelaku usaha, dan masyarakat dalam membangun ekosistem medical wellness yang terintegrasi dan berkelanjutan. (Kontributor: Elisabeth Listyani).




