Strategi Studi di FK-KMK UGM hingga Doktoral di Amerika Serikat

FK-KMK UGM. Program Studi Magister Ilmu Biomedik (MIB) FK-KMK UGM kembali menyelenggarakan kegiatan edukatif dalam bentuk podcast Retina Biomedika dengan tema “Wujudkan S3 di Amerika: Kupas Tuntas Skema Teaching and Reasearch Assistantship” pada Kamis (08/01). Podcast ini mengundang narasumber Abrory Agus Cahya Pramana, S.Si., M.Sc. Beliau merupakan dosen FK-KMK UGM yang melanjutkan studi doktoral di University of Illinois Urbana-Champaign, Amerika Serikat.

Pada podcast ini, Abrory menyampaikan perjalanan studi Magister Ilmu Biomedik di FK-KMK UGM hingga peluang melanjutkan pendidikan doktoral (PhD) di Amerika Serikat melalui skema Teaching Assistantship (TA) dan Research Assistantship (RA). Dalam pemaparannya, program Magister Ilmu Biomedik FK-KMK UGM digambarkan sebagai pendidikan berjenjang yang dirancang untuk membangun kapasitas akademik dan riset mahasiswa secara sistematis.

Tahap awal difokuskan pada penguatan dasar ilmu biomedik, dilanjutkan dengan fase peminatan untuk memperdalam disiplin ilmu kedokteran dasar sesuai minat dan arah karier. Pada tahap akhir, mahasiswa didorong untuk melakukan riset mandiri yang menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, inovatif, dan adaptif di bawah bimbingan para pakar.

Diskusi kemudian berlanjut pada pengalaman melanjutkan studi PhD di Amerika Serikat, khususnya melalui skema TA dan RA yang menjadi tulang punggung pembiayaan mahasiswa internasional. Teaching Assistantship berfokus pada dukungan kegiatan pembelajaran dosen, seperti penilaian, pengelolaan materi, hingga mengajar, sementara Research Assistantship menitikberatkan pada keterlibatan mahasiswa dalam proyek riset dosen, mulai dari pengumpulan data hingga publikasi ilmiah. Kedua skema ini umumnya memberikan pembebasan biaya kuliah hingga sekitar 75 persen serta tunjangan hidup.

Pengalaman Abrory Agus Cahya Pramana, S.Si., M.Sc. sebagai mahasiswa PhD di University of Illinois Urbana-Champaign pada bidang Nutritional Science menunjukkan bahwa mahasiswa doktoral dituntut mampu menyeimbangkan perkuliahan, riset, dan tanggung jawab asisten. Meski demikian, budaya akademik yang terbuka, fleksibilitas akses laboratorium, serta hubungan kolaboratif antara mahasiswa dan pembimbing menjadi faktor pendukung terciptanya work-life balance yang sehat.

Perbedaan mencolok antara studi pascasarjana di Indonesia dan Amerika Serikat juga disoroti, mulai dari sistem pendanaan berbasis hibah riset, ekspektasi publikasi selama masa studi, hingga dinamika diskusi akademik yang lebih egaliter. Mahasiswa PhD di AS umumnya menempuh tahapan qualifying exam, proposal defense, dan dissertation defense dalam rentang waktu lima hingga tujuh tahun.

Melalui diskusi ini, FK-KMK UGM menekankan pentingnya persiapan sejak dini bagi mahasiswa yang ingin melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi, termasuk penguatan kemampuan bahasa Inggris, manajemen waktu, jejaring akademik, serta pemahaman budaya akademik global. Kombinasi fondasi keilmuan yang kuat, strategi studi yang matang, dan kolaborasi terbuka diyakini menjadi kunci lahirnya kontribusi bermakna di bidang ilmu biomedik, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Diskusi pada podcast ini sejalan dengan SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui penguatan pendidikan dan riset biomedik berstandar internasional, SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui pengembangan riset kesehatan berbasis ilmu biomedik, SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi akademik dan riset global. (Humas/Sitam).