FK-KMK UGM. Dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) berhasil memublikasikan artikel ilmiah yang membahas tantangan pascaeliminasi malaria. Artikel tersebut berjudul “Imported malaria: a silent and forgotten threat in malaria free zones?” yang diterbitkan dalam Malaria Journal (2025) Volume 24, artikel nomor 421, mengulas secara mendalam ancaman malaria impor di wilayah yang telah mencapai status bebas malaria.
Artikel ini dipublikasikan pada November 2025 ini ditulis oleh Novyan Lusiyana, Riris Andono Ahmad, Iqbal Elyazar, serta Prof. dr. E. Elsa Herdiana Murhandarwati, yang merupakan dosen dan peneliti dari FK-KMK UGM, dengan melibatkan kolaborasi lintas institusi dan negara. Penelitian ini berawal dari realitas bahwa keberhasilan eliminasi malaria di sejumlah negara dan wilayah kerap dipersepsikan sebagai akhir dari persoalan.
Padahal, meningkatnya mobilitas penduduk, migrasi lintas batas, konflik di negara endemis, serta perjalanan internasional justru membuka peluang masuknya kembali kasus malaria ke wilayah yang telah dinyatakan bebas. Kondisi tersebut menjadi ancaman tersembunyi, terutama apabila wilayah tujuan masih memiliki vektor nyamuk yang kompeten dan lingkungan yang mendukung penularan lokal.
Melalui metode telaah literatur secara sistematis, tim peneliti meninjau 149 artikel internasional yang relevan, kemudian menyeleksi 24 studi utama untuk dianalisis secara mendalam. Hasil kajian menunjukkan bahwa malaria impor merupakan faktor dominan dalam terjadinya reintroduksi malaria, khususnya di wilayah yang sebelumnya telah berhasil mengendalikan penularan lokal. Kasus impor ini tidak hanya meningkatkan risiko munculnya kasus sekunder, tetapi juga dapat melemahkan sistem surveilans apabila tidak diantisipasi dengan strategi yang tepat.
Temuan penelitian ini menegaskan bahwa upaya mempertahankan status bebas malaria tidak cukup hanya mengandalkan deteksi dan pelaporan kasus. Negara dan wilayah yang berhasil menjaga eliminasi malaria menerapkan pendekatan yang lebih komprehensif, meliputi penguatan surveilans malaria impor, pengendalian dan pemantauan vektor secara berkelanjutan, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, serta penguatan kerja sama lintas sektor dan lintas negara. Edukasi kesehatan kepada masyarakat, khususnya kelompok berisiko tinggi seperti pekerja migran dan pelaku perjalanan internasional, juga menjadi bagian penting dari strategi pencegahan.
Melalui penelitian ini, para peneliti menegaskan bahwa eliminasi malaria merupakan proses jangka panjang yang membutuhkan kewaspadaan berkelanjutan. Ancaman malaria impor harus dipahami sebagai risiko nyata yang memerlukan respons adaptif, kolaboratif, dan berbasis bukti agar wilayah bebas malaria tetap terlindungi dan tidak mengalami kemunduran capaian kesehatan masyarakat.
Publikasi ini berkontribusi langsung terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, melalui upaya pencegahan penyakit menular yang berkelanjutan. SDG 4: Pendidikan Berkualitas dengan adanya riset ilmiah. Selain itu, kajian ini juga mendukung SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, dengan menekankan pentingnya kolaborasi lintas negara dan lintas sektor dalam menjaga keberhasilan eliminasi malaria secara umum. (Kontributor: Kharisma Dewi).




