FK-KMK UGM. Dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) kembali berhasil mencatatkan publikasi ilmiah yang membahas determinan lokal penyakit dengue di Daerah Istimewa Yogyakarta. Artikel ilmiah tersebut dimuat dalam jurnal internasional Tropical Medicine and Health, Volume 53, Artikel Nomor 54, dengan judul “Understanding local determinants of dengue: a geographically weighted panel regression approach in Yogyakarta, Indonesia,” dan diterbitkan pada 14 April 2025. Artikel tersebut ditulis oleh Marko Ferdian Salim, Danardono, serta Prof. dr. Tri Baskoro Tunggul Satoto, M.Sc., Ph.D., dengan bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor lingkungan, iklim, dan demografi yang memengaruhi variasi kejadian demam berdarah dengue (DBD) secara spasial dan temporal.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih tingginya beban penyakit dengue di wilayah tropis, termasuk Indonesia, serta kompleksitas pola penularannya yang bervariasi antar wilayah dan waktu. Dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti kerap dipengaruhi oleh faktor iklim, kepadatan penduduk, dan karakteristik lingkungan, sehingga memerlukan pendekatan analisis yang mampu menangkap variasi lokal secara lebih rinci.
Menggunakan pendekatan ekologis dengan analisis spasi-waktu, tim peneliti menganalisis data dari 78 kecamatan di Daerah Istimewa Yogyakarta selama periode 2017–2022. Variabel yang dikaji mencakup faktor meteorologi seperti curah hujan, suhu, kelembapan, kecepatan angin, dan tekanan atmosfer, serta faktor demografi berupa kepadatan penduduk dan karakteristik penggunaan lahan, termasuk area permukiman, pertanian, pepohonan, badan air, dan vegetasi terendam. Model Geographically Weighted Panel Regression (GWPR) dipilih untuk mengukur variasi lokal pengaruh setiap faktor terhadap kejadian dengue.
Hasil analisis menunjukkan bahwa model GWPR mampu menjelaskan variasi kejadian dengue dengan nilai Adjusted R² sekitar 0,516. Nilai R² lokal yang berbeda antar kecamatan mengindikasikan adanya heterogenitas spasial yang kuat. Wilayah seperti Pakem, Cangkringan, dan Girimulyo menunjukkan kemampuan model yang tinggi dalam menangkap pengaruh faktor lokal, sementara kecamatan lain seperti Kalibawang menunjukkan kinerja model yang lebih rendah, mengisyaratkan adanya faktor tambahan yang belum terakomodasi dalam analisis.
Secara umum, variabel iklim seperti curah hujan, suhu, dan kelembapan cenderung berhubungan positif dengan peningkatan kasus dengue, sementara pengaruh penggunaan lahan bervariasi antar wilayah. Temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan berbasis wilayah dalam perencanaan pengendalian dengue. Penelitian ini menegaskan bahwa determinan dengue bersifat lokal dan tidak seragam antar wilayah. Pendekatan spasial menggunakan GWPR memungkinkan identifikasi faktor risiko spesifik di setiap kecamatan, sehingga dapat menjadi dasar perumusan kebijakan pengendalian dengue yang lebih efektif, terarah, dan berbasis bukti.
Penelitian ini berkontribusi pada SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan pengendalian penyakit menular, SDG 4: Pendidikan Berkualitas, SDG 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan melalui perencanaan lingkungan yang lebih sehat, serta memperkuat SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi riset lintas keilmuan dalam upaya penanggulangan dengue berbasis data ilmiah.(Kontributor: Stefanie Kusuma).




