FK-KMK UGM. Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK-KMK UGM menyelenggarakan Webinar Kaleidoskop 2025: Transformasi Kesehatan Digital, Antara Angan dan Kenyataan pada Jumat (9/1). Webinar ini diselenggarakan menggunakan platform Zoom dan Youtube yang dihadiri puluhan peserta. Selain itu, webinar ini bertujuan untuk refleksi atas perjalanan transformasi kesehatan digital di Indonesia.
Webinar ini dimulai dengan presentasi pengantar yang disampaikan oleh Annisa Ristya Rahmanti, M.S., Ph.D, Dietisien selaku Dosen Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK-KMK UGM. Annisa menyampaikan bahwa, dalam konteks nasional digital health sangat dinamis dan pada 2025 beberapa pihak telah mengusahakan langkah terbaiknya dalam mengimplementasikan kebijakan. Selain itu, Annisa menekankan digital health memiliki peran sentral dalam memoderasi komunikasi lintas unit utama di Kementerian Kesehatan.
“Pada hari ini pengantar webinar transformasi kesehatan digital hendak mendiskusikan tiga substansi pertanyaan. Pertama, apakah transformasi kesehatan digital akan konsisten untuk dilanjutkan? Kedua, pondasi penting apa dari transformasi kesehatan digital yang cangkupannya perlu ditingkatkan? Ketiga, Apa saja tantangan yang perlu diantisipasi sebagai upaya mitigasi keberlanjutan kesehatan digital di Indonesia?” kata Annisa
Selanjutnya, pemaparan diberikan oleh dr. Ahmad Hidayat, M.Sc., MBA selaku ketua Technical Working Group Satu Sehat dengan materi “Implementasi Transformasi Kesehatan Digital, Pencapaian dan Tantangan”. dr. Ahmad menjelaskan bahwa, kesehatan digital telah memiliki pondasi yang kokoh dengan adanya platform SATUSEHAT pada tahun 2024. Platform ini memiliki dasar sistem pada integrasi kesehatan nasional; Adopsi 17 standar FHIR Resources; SNOMED-CT, LOINC, ICD-10, MPI, KPA, KPTL; registrasi terstandar untuk Faskes dan Nakes. dr. Ahmad menegaskan transformasi kesehatan tidak akan berhenti tetapi, akan terus menghadapi titik baru. Hal ini perlu diperkuat dengan pondasi kebijakan, program yang terus berjalan, dan kesiapan menghadapi tantangan operasional.
“Pada tahun 2025-2029 kesehatan digital di Indonesia akan terus bertransformasi untuk meningkatkan capability dengan memanfaatkan data untuk keputusan, AI/ML untuk precision health, dan inovasi layanan”, kata dr. Ahmad
Pemaparan materi kedua disampaikan oleh drg. Rudy Kurniawan, M.Kes selaku perwakilan dari Tim Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Kesehatan, dengan materi Arah dan Pengembangan Kesehatan Digital di Indonesia: Refleksi Terhadap Peta Jalan Transformasi Kesehatan Digital”. drg. Rudy menyampaikan dalam menjalankan sistem kesehatan terdapat tantangan terkait pelayanan kesehatan sekunder dan primer, sumber daya manusia di bidang kesehatan, bioteknologi, ketahanan kesehatan, formasi dan alat kesehatan. Menanggapi tantangan tersebut, drg. Rudy menekankan komitmen transformasi sistem kesehatan nasional dengan visi masyarakat sehat, produktif, dan berkeadilan.
“Kita perlu melakukan kolaborasi dengan model pentahelix yang saya anggap sangat penting karena dapat mempercepat transformasi kesehatan di Indonesia,” kata drg. Rudy.
Berikutnya pemaparan materi ketiga disampaikan oleh Anis Fuad, DEA Selaku Ketua Perhimpunan Informatika Kesehatan di Indonesia dengan materi “Optimisme Transformasi Kesehatan Digital di Pusat dan Daerah”. Anis menjelaskan bahwa, dari tahun 2025 ini banyak pembelajaran yang bisa menjadi evaluasi dalam mempersiapkan sistem di masa yang akan datang. Anis menegaskan konektifiti dari pemerintah pusat dan daerah perlu berjalan dengan sistematis untuk strategi transformasi yang baik.
“Dalam berdiskusi tentang optimisme ini dibutuhkan kesadaran untuk melihat realita dan mendengarkan masukan. Komponen ini memiliki peran penting untuk menjaga konektifitas yang ada antara pusat dan daerah dalam menjalankan kebijakan”, kata Anis.
Setelahnya, pemaparan materi keempat disampaikan oleh Enny Rachmani, SKM., M.Kom., Ph.D Dekan Fakultas Kesehatan Universitas Dian Nuswantoro dan Wakil President Asian Health Literacy Association dengan materi “Prinsip Perlindungan Data Pribadi dan Cara Menerapkanya”. Enny menjelaskan bahwa dalam menjaga ekosistem kesehatan digital tantangan menjadi realita yang akan terus dihadapi.
“Hubungan individu dan data menjadi konsekuensi jalanya ekosistem kesehatan digital. Bagi saya hal yang perlu menjadi perhatian bersama antara lain, privasi data; literasi kesehatan digital; adopsi teknologi; etika, regulasi dan tata kelola; kualitas data, dan kedaulatan data”, kata Enny.
dr. Lutfan Lazuardi, M.Kes., Ph.D selaku kepala Departemen Manajemen dan Kebijakan kesehatan sekaligus Representative International Medical Informatics Association dengan materi “Digital Health Transformation: The Good, The Bad, and The Ugly-The Strategic Role of CMIO”. dr. Luthfan menjelaskan bahwa, transformasi kesehatan memiliki peran yang sangat fundamental untuk membentuk kultur, memperbaiki sistem, dan meningkatkan dampak. dr. Lutfan menegaskan dalam menjaga ekosistem dibutuhkan sumber daya manusia kesehatan yang berkualitas dan aturan yang relevan.
“Sejak 2015 kita di FK-KMK UGM berinisiatif membangun sistem kesehatan digital yang berkesinambungan. Adapun transformasi yang terjadi ini melewati beberapa tahap. Diantaranya, foundations of Ai in healthcare, governance and ethics, core application, Ai integration, dan UGM contribution” kata dr. Luthfan
Lebih lanjut, webinar ini sejalan dengan komitmen pada Sustainable Development Goals (SDGs). Di antaranya SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera dengan menekankan komitmen transformasi kesehatan melalui adaptasi pada kemajuan teknologi; SDG 9; Industri, Inovasi, dan Infrastruktur dengan menegaskan komitmen transformasi kesehatan digital melalui inovasi yang membangun ekosistem SATUSEHAT; SDG 17: Kemitraan Untuk Mencapai Tujuan dengan komitmen kolaborasi pentahelix untuk mendukung konektivitas transformasi kesehatan. (Reporter/Tedy).



