dr. Paranita Ferronika, Ph.D., Sp.PA., Subsp,KA(K) atau biasa dikenal dengan dr. Ferro merupakan dosen Departemen Patologi Anatomi FK-KMK UGM yang aktif meneliti kanker dalam disiplin Patologi Anatomi. Ia merupakan alumni dari Program Studi Kedokteran FK-KMK UGM angkatan 2002 dan lulus menjadi dokter pada tahun 2007. Selanjutnya, dr. Ferro lulus dari Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di bidang Patologi Anatomik pada tahun 2012. Pada tahun 2019, dr. Ferronika menyelesaikan studi Doktor Biomedical Science pada bidang Cancer Genomics, di University of Groningen Belanda. Ia kembali ke Indonesia dan aktif mengabdi sebagai dokter spesialis Patologi Anatomi di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito.
dr. Ferro menegaskan bahwa bidang kedokteran spesialis Patologi Anatomi merupakan bidang yang cukup kompleks. Bidang spesialis kedokteran ini memiliki peranan penting dalam diagnosis penyakit termasuk kanker. Pengalaman diagnosis ini dibagikan oleh dr. Ferro di dunia akademis melalui kegiatan pengajaran baik di tingkat pra klinis maupun klinis. Keberadaan Patologi Anatomi beriringan dan bersinergi langsung dengan bidang kedokteran spesialis lain dalam manajemen pasien. Diagnosis Patologi Anatomi merupakan gold standard yang menjadi acuan utama dalam menentukan jenis penyakit pasien dan arah terapi maupun pengobatan berikutnya,” kata dr. Ferro. Sebagai dokter spesialis Patologi Anatomi, dr. Ferro aktif mengikuti clinicopathological conference dan tumor board. Melalui forum ini, dokter spesialis dapat berdiskusi secara multidisiplin antara onkologi, bedah, radiologi, dan patologi anatomi untuk menentukan manajemen pasien. Ini menunjukkan bahwa penanganan pasien harus komprehensif dan kolaboratif.
Dalam konteks tri dharma perguruan tinggi, menurut dr. Ferro, Patologi Anatomi memiliki peranan yang kuat, baik di bidang pendidikan kedokteran, penelitian maupun pengabdian. Dari perspektif pendidikan, Patologi Anatomi mengajarkan tentang dasar-dasar penyakit dan mekanisme patologis klinis sehingga mengantarkan mahasiswa untuk memahami proses penyakit yang terjadi pada pasien. Pada aspek penelitian, Patologi Anatomi juga menjadi yang terdepan dalam penelitian molekular dasar maupun translasional. “Departemen Patologi Anatomi, FK-KMK UGM dikenal dengan prestasinya dalam mengembangkan penelitian dan menghasilkan publikasi, terutama pada bidang molekular kanker”, kata dr. Ferro. Sedangkan pada perspektif pengabdian masyarakat, Patologi Anatomi memiliki peranan penting dalam diseminasi penelitian dan pelayanan kesehatan berbasis perkembangan teknologi terkini, termasuk dalam mengimplikasikan diagnosis molekular pada berbagai jenis kanker.
Pada konteks pelayanan pasien, Patologi Anatomi memiliki berbagai peran yang komprehensif. Pada tahapan penetapan diagnosis, dr. Ferronika menjelaskan bahwa peran dari Patologi Anatomi dimulai menerima jaringan dari klinisi, pemeriksaan makroskopik, lalu membuat preparat mikroskopis dari bagian representatifnya. “Diagnosis yang biasa Patologi Anatomi lakukan adalah dengan melihat gambaran histologis jaringan dan menggabungkan dengan data klinis untuk menetapkan diagnosis definitif. Jika diperlukan, kami menambahkan pemeriksaan menggunakan imunohistokimia atau molekular untuk mengkonfirmasi dan mengklasifikasikan tumor atau kanker yang lebih spesifik,” ujar dr. Ferro. Hasil informasi ini sangat penting untuk terapi presisi sebagai dasar penentuan pengobatan berdasarkan karakter molekuler kanker pada pasien.
dr. Ferro selanjutnya menjelaskan tentang penelitian yang ditekuni, yaitu intratumor heterogeneity pada kanker, yakni adanya keragaman genetik dan biologis antara regio ataupun antar sel tumor pada satu pasien. Pada penelitian intratumoral heterogeneity, untuk dapat menentukan temuan molekuler yang presisi, dibutuhkan teknologi canggih seperti Next Generation Sequencing (NGS) dan Spatial Transcriptomics. Teknologi ini memungkinkan pemaparan ekpresi RNA berdasarkan posisi sel jaringan. Namun, tantangan dalam menggunakan teknologi ini adalah biaya yang mahal, sehingga dibutuhkan dukungan pemerintah Indonesia untuk pendanaan penelitian yang lebih besar.
Dalam melakukan penelitian, Departemen Patologi Anatomi mempunyai kolaborasi lintas disiplin. dr. Ferro menjelaskan bahwa dalam penelitian Patologi Anatomi, kolaborasi yang sering ia lakukan adalah dengan Fakultas MIPA dan Fakultas Teknik. ”Tujuan dari kolaborasi ini adalah untuk dapat saling melengkapi, kami berkontribusi dalam analisis patologis dan klinis, sedangkan Departemen DIKE (Fakultas MIPA) dan Departemen DTETI (Fakultas Tehnik) berkontribusi dalam analisis komputasi dan kecerdasan artifisial,” kata dr. Ferronika.
Pada era penggunaan teknologi digital, Patologi Anatomi turut bersentuhan langsung dengan perkembangan teknologi terkini termasuk kecerdasasan artifisial (AI). Keberadaan AI ini justru menjadi tools yang dapat memudahkan pekerjaan dari dokter spesialis Patologi Anatomi, seperti seperti menghitung sel radang atau mengidentifikasi area tumor yang presisi. Namun, walaupun teknologi ini cukup canggih, peran dokter spesialis Patologi Anatomi tidak dapat digantikan. “AI memang sangat membantu dokter spesialis Patologi Anatomi, namun perannya hanyalah memberikan informasi pendukung, sedangkan dan keputusan diagnosis akhir harus dilakukan oleh dokter spesialis Patologi Anatomi itu sendiri,” kata dr. Ferro. Tantangan yang dihadapi adalah belum adanya regulasi resmi yang dapat mengatur penggunaan AI, khususnya dalam praktik Patologi Anatomi. “Penggunaan AI dalam Patologi Anatomi belum memiliki regulasi praktik yang jelas, sehingga saya berharap khususnya di Indonesia ini semoga ada konsorsium dan konsensus nasional untuk menetapkan batasan dan panduan penggunaan AI di bidang ini,” kata dr. Ferro.
Kontribusi disiplin Patologi Anatomi dalam penelitian kanker menjadi pilar penting dalam dunia kedokteran. Patologi Anatomi tidak hanya berperan dalam diagnosis penyakit dan penanganan medis semata, tetapi juga turut andil dalam pendidikan dan penelitian. Oleh karena itu, Patologi Anatomi memiliki peranan sentral untuk peningkatan mutu pelayanan kesehatan dan kemajuan ilmu pengetahuan di Indonesia.
[Penulis: Tedy Aprilianto; Narasumber: dr. Paranita Ferronika, Ph.D., Sp.PA, Subsp.KA(K)]