FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan workshop Manajemen Krisis dan Komunikasi Proaktif di Bidang Kehumasan pada Jumat (12/12/2025). Kegiatan dilaksanakan di Auditorium FK-KMK UGM dan dihadiri oleh setidaknya 107 peserta dari dosen maupun tenaga kependidikan secara luring. Workshop ini merupakan bagian dari upaya fakultas dalam memperdalam pengalaman sivitas akademika mengenai manajemen krisis, membangun narasi institusi yang kuat, serta menerapkan strategi komunikasi yang efektif pada situasi sensitif maupun darurat.
Wakil Dekan Bidang Keuangan, Aset dan SDM FK-KMK UGM, Prof. Dr. dr. Hera Nirwati, M.Kes, Sp.MK(K), dalam sambutannya mengatakan bahwa fungsi kehumasan di institusi pendidikan memiliki peran yang sangat strategis. Humas tidak sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam menjaga reputasi institusi, mengelola persepsi publik, serta memastikan komunikasi berjalan efektif, transparan, dan berintegritas.
Sementara itu, di tengah beragam dinamika, potensi krisis komunikasi dapat muncul kapan saja, baik yang bersumber dari isu internal maupun isu eksternal. “Oleh karena itu, kemampuan untuk mengidentifikasi risiko, merespons secara cepat dan tepat, serta membangun komunikasi yang proaktif dan solutif menjadi keahlian yang sangat penting bagi kita semua,” kata Prof. Hera.
Winda Mizwar Pratiwi, S.E., M.I.Kom. selaku narasumber workshop mengatakan bahwa organisasi yang merespons secara proaktif saat awal krisis dapat mengurangi kerugian reputasi hingga 30 persen lebih kecil dibandingkan yang merespons secara reaktif. Dalam mengelola, merespons, dan membentuk narasi ketika krisis datang, Winda menekankan pentingnya tidak reaktif dan memulai untuk reflektif. Untuk bersifat reflektif, para audiens harus menikmati dan mengelola ketidaknyamanan serta menciptakan ruang aman sendiri, melatih diri menghadapi skenario buruk, dan fokus bahwa hal tersebut harus dihadapi.
“Menyelesaikan satu masalah yang paling krusial, baik itu di bisnis maupun brand besar, bukan tentang melemparkan kesalahan kepada orang lain, tapi melakukan refleksi diri yang jarang digunakan secara bijak oleh para pemegang keputusan,” ujar Winda.
Winda kemudian menuturkan beberapa cara dasar dalam menghadapi krisis. Cara-cara tersebut antara lain melihat isu dari perspektif institusi; mendengarkan dengan penuh empati; menenangkan anggota tim yang terlibat sebelum menangani krisis; menghubungkan fakta dengan rasa, data dengan empati, dan kebijakan dengan kebutuhan manusia; melindungi pihak yang perlu dilindungi saat reputasi menjadi taruhannya; dan memberi harapan di masa depan dengan belajar dan berubah.
“Apabila institusi gagal dalam mengelola krisis, maka reputasi lembaga dipertaruhkan, terjadi polarisasi politik dan gangguan, kerugian ekonomi, maupun hilangnya kepercayaan publik,” papar Winda.
Oleh karena itu, menurut Winda, diperlukan beberapa tahapan dalam menangani manajemen krisis dan melakukan komunikasi proaktif mengenai sebuah isu. Pertama, tahapan pra-krisis (pencegahan dan kesiapsiagaan) berupa pembentukan tim komunikasi krisis, finalisasi POS Krisis dengan spesifik kategori, media dan risk monitoring, serta pelatihan dan simulasi krisis. Langkah kedua yaitu komunikasi, transparansi, kolaborasi, dan ekspektasi sebagai tanda bahwa institusi berkomitmen untuk berinovasi aktif. Pada tahapan terakhir, pasca-krisis (pemulihan dan pembelajaran), institusi memulihkan citra dan empati publik, melakukan evaluasi internal, dan menyusun laporan ke Rektorat.
Sesi terakhir ditutup dengan simulasi krisis atas beberapa isu yang telah dipilih. Simulasi melibatkan para peserta yang hadir, baik dosen maupun tenaga kependidikan. Masing-masing tim per isu saling berdiskusi untuk menangani krisis yang dihadapi dan mengomunikasikannya ke public secara proaktif.
Workshop Manajemen Krisis dan Komunikasi Proaktif di Bidang Kehumasan merupakan salah satu upaya FK-KMK UGM dalam mencapai Sustainable Development Goals (SDGs), utamanya SDG 4: Pendidikan Berkualitas dan SDG 16: Perdamaian, Keadilan dan Kelembagaan yang Tangguh. Kegiatan tersebut mengajarkan keterampilan literasi dasar mengenai manajemen krisis dan komunikasi proaktif kepada FK-KMK UGM sebagai lembaga yang akuntabel. (Penulis: Citra/Humas)




