Kiprah dr. Vickry dalam Mendorong Digital Health Indonesia

Dari Kampus UGM hingga Asian Development Bank

“Menurut saya, ada tiga nilai yang jadi kompas: kompetensi, intimacy, dan integritas. Ketiganya membuat kita bisa dipercaya sekaligus relevan di dunia global,” tutur dr. Vickry Adzkary Ghufron, M.Sc., FRSPH.

Di tengah arus transformasi digital yang semakin deras, lulusan Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM angkatan 2014 ini muncul sebagai sosok penting dalam mendorong inovasi di bidang digital health. Ia menempuh jalannya bukan hanya sebagai dokter klinis, tetapi juga sebagai penggerak utama transformasi digital kesehatan Indonesia yang membawa visinya hingga ke Asian Development Bank (ADB) Manila — sebuah jalur karir yang masih jarang ditempuh tenaga medis di tanah air.

Awal Ketertarikan: Dari Pandemi Lahir Inovasi

Ketertarikan dr. Vickry pada dunia digital health justru lahir dari sebuah krisis. Saat pandemi Covid-19 menghantam Indonesia dan banyak puskesmas tutup karena tenaga kesehatan banyak yang sakit, ia melihat kebingungan dan keterbatasan akses layanan masyarakat. Dari situlah, bersama tim akademisi dan praktisi, sebuah ide inovasi digital muncul.

“Waktu itu masyarakat bingung harus bagaimana. Akses layanan kesehatan terbatas, sementara kebutuhan sangat tinggi. Dari situ, kami berpikir teknologi bisa menjadi jawabannya,” kenang dr. Vickry.

Inovasinya terwujud dalam sebuah aplikasi remote patient monitoring dan telekonsultasi. Berbekal dukungan hibah DIKTI pada 2021, aplikasi ini diadopsi oleh Satgas Covid-19 DIY. Hasilnya luar biasa: lebih dari 3.600 pasien dan 200 tenaga kesehatan memanfaatkannya. Dengan sistem early warning sederhana—berkategori hijau, kuning, merah—layanan ini mampu memantau pasien dari rumah, memberikan edukasi, hingga menentukan kapan kunjungan lapangan diperlukan.

“Solusi ini sederhana, tapi efektif menyelamatkan akses kesehatan masyarakat di saat yang paling kritis,” ujar Vickry.

Dari Jogja ke Meja Kebijakan Nasional

Kesuksesan inovasinya di Yogyakarta tidak luput dari perhatian pemerintah. dr. Vickry mendapat undangan untuk memaparkan hasil kerjanya langsung di hadapan jajaran Kementerian Kesehatan. Bahkan, inisiatifnya turut disorot oleh Wakil Ketua Komite Kebijakan Pengendalian Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional kala itu, yang menyebut rendahnya angka kematian di Yogyakarta sebagai contoh baik.

Momentum inilah yang membuka jalan bagi dr. Vickry untuk bergabung dalam Digital Transformation Office (DTO) Kementerian Kesehatan di bidang Strategy and Planning Specialist. Sebelumnya, ia dipercaya sebagai bagian dari konsultan luar untuk membantu Tim Percepatan Transformasi Digital Kementerian Kesehatan dalam menyusun strategi percepatan transformasi digital kesehatan Indonesia 2021–2024, khususnya di aspek pelayanan kesehatan.

“Awalnya terasa berat. Tapi berkat mentor dan tim lintas profesi, akhirnya bisa saya jalani. Dari situ, saya belajar pentingnya kolaborasi antara dokter, perawat, ahli IT, hingga pakar kebijakan,” katanya.

Merambah Panggung Internasional

Pengalaman di DTO Kemenkes mempertemukannya dengan berbagai lembaga internasional seperti USAID, World Bank, WHO, hingga Asian Development Bank (ADB). Kesempatan itu membuka pintu ke dunia internasional. dr. Vickry kemudian mengambil beasiswa untuk melanjutkan studi di University College London (UCL) dengan fokus pada teknologi kesehatan lintas profesi.

Setelah lulus, perjalanan kariernya terus menanjak. Ia pernah bekerja sebagai Senior East Governance Specialist di USAID, lalu kini menjabat sebagai Consultant Lead di Asian Development Bank (ADB) Manila dengan fokus digital health serta tata kelola pelayanan kesehatan. Dari Manila, ia kini terlibat dalam misi penguatan digital health di Asia Pasifik, sekaligus memastikan Indonesia mendapat dukungan implementasi kebijakan strategis. 

“Menurut saya, ada tiga nilai yang jadi kompas: kompetensi, intimacy, dan integritas. Ketiganya membuat kita bisa dipercaya sekaligus relevan di dunia global,” tuturnya.

Ceruk Kosong di Indonesia

dr. Vickry melihat adanya kesenjangan besar di bidang digital health di Indonesia. Dari enam pilar sistem kesehatan WHO, ia mencatat bahwa Indonesia punya banyak pakar di bidang pembiayaan, tenaga kesehatan, dan layanan. Namun, pakar di bidang teknologi kesehatan hamper nihil.

“Ini ceruk kosong yang harus segera diisi. Indonesia punya populasi besar, punya data melimpah. Jika dimanfaatkan dengan benar, kita bisa jadi pemimpin regional di bidang digital health. Namun jika diabaikan, ini justru akan menjadi titik lemah terbesar sistem kita,” katanya.

Tantangan Besar: Menyiapkan Manusia, Bukan Hanya Teknologi

Menurut dr. Vickry, hal yang kerap kurang disadari dalam isu digital health: banyak yang sibuk membicarakan aplikasi dan AI, tetapi lupa menyiapkan tenaga kesehatan yang menggunakannya. Ia mencontohkan, algoritma AI bisa saja salah memberi rekomendasi diagnosis. Tanpa tenaga kesehatan yang memahami konteks klinis, pasien bisa dirugikan. “Itu bertentangan dengan prinsip dasar kedokteran: do no harm,” tegasnya. 

Baginya, teknologi hanyalah alat. “Jika manusianya tidak siap, hasilnya justru bisa berbahaya.” Jika berbicara tentang pilar transformasi digital, dr. Vickry menyampaikan ada tiga pilar untuk mencapainya, yaitu teknologi, proses/organisasi, dan manusia (SDM). Dari ketiga pilar tersebut sangat penting untuk menguatkan dari sisi people-nya, menyiapkan pakar-pakar di bidang teknologi kesehatan.

dr. Vickry menyebut Inggris (UK) dan Australia sebagai dua contoh negara dengan kurikulum digital health yang matang. Inggris melalui NHS Digital sudah merumuskan foundation skills dan advanced skills. Australia bahkan memiliki agensi khusus percepatan transformasi digital kesehatan.

“Indonesia bisa banyak belajar dari negara-negara tersebut, agar potensi yang ada bisa dimaksimalkan,” katanya.

Pesan untuk Generasi Penerus

Kepada mahasiswa kedokteran maupun bidang kesehatan, dr. Vickry berpesan untuk mengasah learning agility. “Belajar tidak boleh berhenti di ruang kuliah. Manfaatkan berbagai sumber daring seperti Coursera atau kurikulum gratis dari WHO, dan jangan ragu untuk mengeksplorasi lintas bidang ilmu.” 

Hard skills dan soft skills harus berjalan beriringan. Tetapkah haus akan ilmu, karena itulah yang akan membuat kita selalu relevan di masa depan,” pungkasnya.

Di akhir perbincangan, ia mengulang tiga kompas hidupnya: kompetensi: jadilah ahli di bidang anda, intimacy: bangun jejaring dengan tulus, dan integritas: pegang teguh integritas. Tiga hal inilah yang membuat kita bisa dipercaya sekaligus memberi dampak. (Penulis: Paramita Sari. Editor: Artnice Mega Fathima)