FK-KMK UGM. Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK UGM berkolaborasi dengan RS dr. Soesilo Slawi dan Pemerintah Kabupaten Tegal menyelenggarakan webinar bertajuk “Weekdays Wellness & Academic Retreat: Menemukan Energi Baru di Guci” pada Kamis, 25 September 2025. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian inisiatif menuju peluncuran Guci Medical Wellness Tourism yang dijadwalkan berlangsung pada 7–8 Oktober 2025 mendatang.
Webinar tersebut memperkenalkan konsep baru yang menggabungkan wellness tourism dengan retret akademik sebagai strategi pengembangan pariwisata berkelanjutan di kawasan wisata Guci, Tegal. Dalam pemaparannya, Prof. Laksono Trisnantoro menekankan pentingnya hari kerja (weekdays) sebagai momentum ideal untuk mengembangkan kegiatan wellness di Guci. Suasana yang lebih tenang, biaya yang lebih terjangkau, serta lingkungan yang nyaman membuat kawasan ini dinilai sangat potensial untuk menjadi tempat retret akademik—yakni kegiatan reflektif yang memberi ruang bagi dosen dan peneliti untuk meningkatkan produktivitas dan membangun kolaborasi dalam suasana alam yang damai.
Prof. Laksono menjelaskan bahwa konsep retret akademik sebenarnya sudah lazim dilakukan di luar negeri, seperti di Bellagio, Italia, melalui Rockefeller Foundation Bellagio Center yang menyediakan ruang bagi akademisi, seniman, dan peneliti untuk mengembangkan ide-ide inovatif. Indonesia, dengan jumlah dosen lebih dari 250.000 orang, dinilai memiliki potensi besar untuk menghadirkan konsep serupa di dalam negeri, dan Guci menjadi lokasi ideal untuk memulainya.
Dalam sesi diskusi, sejumlah pemangku kepentingan turut memberikan pandangan strategis. Heri Bastian dari PT KAI Indonesia menyatakan dukungannya dalam peningkatan akses transportasi menuju Slawi. Sementara itu, Ketua BPC PHRI Kabupaten Tegal, Elizabeth Ratih Dewi, menyoroti pentingnya peningkatan kualitas manajemen hotel dan SDM pariwisata agar mampu melayani wisatawan wellness. Rinto Kuswoyo dari Pelangi Wisata Tour mengusulkan pengembangan fasilitas pendukung seperti spa medik, jam malam untuk menjaga ketenangan, serta integrasi kegiatan wisata dengan produk UMKM lokal. Prof. Laksono menambahkan bahwa promosi terpadu dan penyediaan makanan sehat berbasis hasil bumi lokal menjadi faktor penting dalam keberlanjutan program ini.
Webinar juga membahas roadmap pengembangan Guci sebagai destinasi medical wellness tourism dan retret akademik. Potensi besar berupa sumber air panas alami dan kawasan hutan yang masih asri perlu dioptimalkan agar mampu mendukung kegiatan kebugaran dan pembelajaran. Tantangan seperti rendahnya okupansi hotel di hari kerja diharapkan dapat diatasi melalui program wellness weekdays yang terintegrasi.
Rencana pengembangan Guci ini tidak hanya mendukung peningkatan pariwisata kesehatan, tetapi juga sejalan dengan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4: Pendidikan Berkualitas melalui pengembangan konsep retret akademik, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan sektor pariwisata.
Kegiatan ini mencerminkan komitmen FK-KMK UGM dalam mendorong inovasi lintas sektor yang menggabungkan kesehatan, pendidikan, dan pariwisata. Dengan dukungan berbagai pihak, kawasan Guci diharapkan berkembang menjadi destinasi unggulan medical wellness dan retret akademik di Indonesia, tempat di mana keindahan alam berpadu dengan semangat kolaborasi dan kebugaran. (Kontributor: Elisabeth Listyani).




