Residen Neurologi FK-KMK UGM Raih Juara III Oral Presentation dalam 2nd ASEAN Neuro Interventional Association Conference

FK-KMK UGM. Residen Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Neurologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada, dr. Dyah Fiharjatin, meraih Juara III Oral Presentation dalam 2nd ASEAN Neuro Interventional Association Conference. Acara diselenggarakan pada 17-18 Oktober 2025 di Jakarta. Dalam kompetisi tersebut, dr. Dyah bersaing dengan 26 peserta dari 14 universitas di Indonesia dan delapan negara lainnya, antara lain Filipina, Thailand, Vietnam, Tiongkok, Mesir, Turki, Slovenia, dan Amerika Serikat.

Melalui presentasinya. dr. Dyah memaparkan paper berjudul A Meta-Analysis of Outcome and Cost-Effectiveness: Radial versus Femoral Thrombectomy Procedure in Acute Ischemic Stroke. Alasan ia mengangkat topik tersebut adalah bahwa pada beberapa studi di ranah internasional, akses radial trombektomi semakin direkomendasikan pada intervensi vaskular karena komplikasi yang lebih sedikit dan outcome yang setara atau lebih baik dari akses femoral. Namun, belum ada konsensus jelas atau meta-analisis komprehensif untuk trombektomi pada stroke infark, khususnya di populasi Asia atau negara dengan karakteristik demografis dan sistem pelayanan yang berbeda.

“Sehingga, penelitian tersebut akan sangat berkontribusi untuk landasan pedoman klinis nasional,” kata dr. Dyah.

Dalam penelitiannya, dr. Dyah menjabarkan bahwa akses radial dan akses femoral adalah dua metode akses vaskular untuk trombektomi pada stroke iskemik akut. Hasil meta-analisis menunjukkan, akses radial memiliki tingkat komplikasi akses yang lebih rendah dibandingkan akses femoral, sehingga lebih aman. Dilihat dari keberhasilan reperfusi pembuluh darah, hasil fungsional pasien (mRS 0-2 pada 90 hari), dan angka kematian pada 90 hari tidak berbeda secara signifikan antara trombektomi akses radial dan akses femoral. Selain itu, durasi prosedur akses radial trombektomi sedikit lebih singkat, begitu pula durasi rawat inap dan biaya perawatan yang lebih rendah.

“Oleh karena itu, akses radial trombektomi adalah alternatif yang efektif dan aman dengan keuntungan berupa komplikasi yang lebih rendah serta efisiensi biaya dan waktu, setara dengan akses femoral trombektomi dalam hasil klinis,” ujarnya.

Proses dr. Dyah untuk meraih prestasi tak lepas dari persiapannya selama lebih dari dua bulan. dr. Dyah juga menyesuaikan topik paper yang sesuai dengan tema acara, yaitu neurointervensi dan neurovaskular, dengan kemungkinan publikasi yang lebih tinggi. Setelah konsultasi kepada para pembimbing dan melakukan finalisasi naskah, dr. Dyah mengirimkan abstrak sembari membuat slide presentasi, berlatih mandiri maupun di depan para pembimbing, dan berdoa. Hingga akhirnya, ia lolos ke dalam enam besar dan berhasil meraih Juara III.

“Terima kasih kepada pembimbing utama, yaitu dr. Tommy Rachmat Setyawan, Sp. N. Subsp.NIOO (K) FINS. FINA. yang memberikan arahan tentang isi paper, terutama bidang neurointervensi. Pembimbing kedua, dr. Cempaka Thursina Srie Setyaningrum, Sp. N. Subsp.Neuroped (K), beliau memberikan masukan, terutama tampilan dan layout. Kemudian, pembimbing ketiga adalah dr. Bardatin Luthfi Aifa, M.Res. Ph. D, Sp.N. Beliau memberikan masukan cara presentasi dan pronounciation yang baik. Terima kasih juga kepada kedua orang tua dan kakak saya yang senantiasa mendukung dalam kondisi apapun,” kata dr. Dyah.

Ke depannya, dr. Dyah berencana untuk meningkatkan penelitian klinis, salah satunya melalui tesis dan referat yang masih dalam proses pengerjaan. Ia juga berencana untuk meningkatkan kualitas SDM neurolog, dimulai dari diri sendiri—yaitu lulus tepat waktu—serta kembali ke kampung halaman untuk menjadi neurolog yang kompeten dan dapat membantu meningkatkan kesehatan masyarakat, khususnya bidang neurologi.

Prestasi yang diraih oleh dr. Dyah Fiharjatin merupakan salah satu kontribusi yang turut mendukung upaya FK-KMK UGM dalam mencapai SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera; SDG 4: Pendidikan Berkualitas; SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur; dan SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan. Capaian dr. Dyah dapat mendorong inovasi dalam hal meta-analisis, sekaligus membuka akses terhadap pendidikan kedokteran neurologi, khususnya neurointervensi dan neurovaskular, sehingga ketimpangan ketersediaan neurolog di daerah dapat teratasi. (Penulis: Citra/Humas).