FK-KMK UGM Selenggarakan Seminar Nasional Sehat Mental di Era Digital Dorong Kolaborasi Lintas Profesi untuk Penguatan Kesehatan Jiwa

FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada melalui Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) bekerja sama dengan Kolegium Psikologi Klinis, Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) DIY, Ikatan Psikolog Klinis DIY, Ikatan Perawat Kesehatan Jiwa Indonesia DIY, serta RSJ Grhasia, menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk “Sehat Mental di Era Digital”. Kegiatan ini berlangsung secara hybrid pada Kamis, 09 Oktober 2025, di Auditorium FK-KMK UGM dan juga melalui platform Zoom Meeting, diikuti oleh peserta dari berbagai institusi pendidikan, rumah sakit, dan komunitas kesehatan mental di Indonesia.

Dalam sambutan pembukaannya, Prof. dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D., selaku Dekan FK-KMK UGM, menegaskan bahwa isu kesehatan jiwa menjadi perhatian penting di lingkungan kampus, termasuk di UGM, dengan kecemasan sebagai salah satu kondisi yang paling sering dialami mahasiswa. Ia menyampaikan bahwa seminar ini merupakan bentuk nyata komitmen UGM dalam mendorong kesadaran publik dan memperkuat upaya promotif-preventif di bidang kesehatan jiwa. Kehadiran berbagai narasumber lintas profesi juga menjadi wujud sinergi akademik dan profesional untuk menanggapi tantangan kesehatan jiwa di era digital.

Turut hadir dr. Akhmad Akhadi Syamsudhuha, M.P.H., Plt. Kepala Dinas Kesehatan DIY yang mewakili Gubernur DIY untuk membuka kegiatan secara resmi, serta Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc., Ph.D., yang dalam kesempatan tersebut melakukan soft launching laman kesehatanjiwa.net. Platform ini dikembangkan sebagai ruang pembelajaran dan kolaborasi untuk memperluas pemahaman publik tentang kesehatan jiwa. Prof. Laksono menekankan pentingnya penguatan basis data kesehatan jiwa nasional sebagai landasan dalam pengambilan keputusan berbasis bukti (evidence-based policy), sejalan dengan upaya memperkuat sistem kesehatan di Indonesia.

Dalam paparan kuncinya, dr. Imran Pambudi, MPHM, Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan RI, menyoroti bahwa gangguan jiwa kini menjadi penyebab kedua Years Lived with Disability (YLDs) di Indonesia. Menurutnya, era digital membawa peluang sekaligus risiko baru seperti adiksi digital, cyberbullying, dan penyebaran hoaks. Kemenkes mendorong kolaborasi lintas sektor dengan pendekatan pentahelix untuk memperkuat layanan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif, termasuk pengembangan layanan konseling serta edukasi bijak berdigital di lingkungan akademik dan masyarakat.

Sesi seminar yang dipandu oleh dr. Albert A. Maramis, Sp.KJ (K) menghadirkan berbagai narasumber. Dr. dr. Deree Septiawan, Sp.KJ., M.Kes. dari RSUD Moewardi menyampaikan pentingnya deteksi dini gangguan kesehatan jiwa dengan instrumen seperti SRQ-20, SDQ, dan ASSIST. Ia menjelaskan bahwa digitalisasi kini memungkinkan pelaksanaan skrining lebih cepat dan luas, sehingga hasilnya dapat segera ditindaklanjuti dengan intervensi medis, konseling, atau rehabilitasi.

Sementara itu, Dr. Indria Laksmi Gamayanti, M.Si., Psikolog, Ketua Kolegium Psikologi Klinis, membahas pentingnya mekanisme coping dan self-healing dalam menjaga keseimbangan kesehatan jiwa di tengah derasnya arus informasi digital. Ia menekankan bahwa kesehatan jiwa tidak hanya berarti bebas dari gangguan, melainkan juga kemampuan untuk mengelola stres, menjaga relasi sosial, dan mengembangkan diri secara berkelanjutan. Dalam paparannya, Indria memperkenalkan konsep digital mindfulness dan digital resilience agar individu mampu beradaptasi tanpa terjebak dalam stres, kecemasan, maupun adiksi digital.

Kegiatan ini juga mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui peningkatan kesadaran dan kapasitas masyarakat dalam menjaga kesehatan mental; SDG 4: Pendidikan Berkualitas dengan memperluas akses pengetahuan serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan lewat kolaborasi lintas profesi dan lembaga dalam penguatan sistem kesehatan jiwa nasional.

Melalui penyelenggaraan seminar nasional ini, FK-KMK UGM dan mitra kolaboratif menunjukkan komitmen nyata terhadap peningkatan literasi kesehatan mental di Indonesia. Sinergi lintas profesi dan penggunaan teknologi digital menjadi langkah strategis dalam memperkuat layanan kesehatan jiwa, membangun masyarakat yang tangguh secara psikologis, serta menciptakan lingkungan akademik yang mendukung kesejahteraan mental bagi semua. (Kontributor: Latifah Alifiana).