Doktor Baru FK-KMK UGM Lakukan Studi Epigenetik dan Analisis Ekspresi miRNA pada Deformitas Varus Recurrent Idiopathic CTEV

Penelitian yang dilakukan oleh dr. Hilmi turut mendukung tercapainya Sustainable Development Goals (SDGs). Penelitiannya melibatkan analisis ekspresi MicroRNA (miRNA) dalam penelitian, sehingga mendorong inovasi terkait penanganan pada CTEV. Selain itu, penelitian dr. Hilmi juga memacu perkembangan pendidikan untuk keberlanjutan, utamanya pendidikan kedokteran serta mengurangi kesenjangan pada kesehatan anak, sehingga dapat bermanfaat pada kesehatan global dan membuka kemitraan global untuk menangani CTEV di masa mendatang.

FK-KMK UGM. Pada Senin (8/9/2025), Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) meluluskan mahasiswa Program Studi Doktor sekaligus dosen Departemen Ilmu Bedah FK-KMK UGM, Dr. dr. Hilmi Muhammad, Sp.O.T.Subsp.A(K), dengan predikat Sangat Memuaskan. Dalam ujian terbuka di Auditorium FK-KMK UGM, dr. Hilmi memaparkan hasil penelitiannya yang berjudul “Studi Epigenetik dan Analisis Ekspresi miRNA pada Deformitas Varus Recurrent Idiopathic CTEV sebagai Prediktor Rekurensi”.

Penelitian dr. Hilmi berlatar pada Congenital Talipes Equinovarus (CTEV) atau clubfoot sebagai kelainan bawaan pada anak yang belum diketahui secara pasti penyebabnya (idiopathic). Namun, kelainan CTEV diperkirakan dapat terjadi karena faktor genetik. Idiopathic CTEV dapat bersifat recurrent maupun non-recurrent. Hingga saat ini, belum ada penelitian yang mengeksplorasi profil miRNA sebagai regulator ekspresi gen dan sebagai biomarker recurrent maupun non-recurrent idiopathic CTEV dengan sampel biologik orang Indonesia.

“Di Kepulauan Hawai dan Maori, dikatakan insidensinya 7/1.000 kelahiran. Dengan angka seperti ini, apabila dibandingkan dengan jumlah kelahiran hidup di Indonesia, maka jumlah insidensi dari CTEV ini sesungguhnya sedemikian tinggi di Indonesia. Yang jadi masalah adalah jumlah dokter orthopaedi dan traumatologi masih sangat terbatas, sehingga penanganan dan pelaporannya pun masih sangat terbatas,” ujar dr. Hilmi.

Melalui penelitiannya, dr. Hilmi menganalisis ekspresi miRNA dan mencari target gen terpengaruh yang berpotensi menjadi penyebab idiopathic CTEV, serta faktor epigenetik (lingkungan dan gaya hidup) yang berperan dalam deformitas varus recurrent idiopathic CTEV di Indonesia. Hasil penelitiannya menyimpulkan, terdapat perbedaan profil ekspresi miRNA pada deformitas varus recurrent idiopathic CTEV dan non-recurrent idiopathic CTEV. Faktor epigenetik mempengaruhi perbedaan ekspresi miRNA dari deformitas varus recurrent idiopathic CTEV dan non-recurrent idiopathic CTEV. Selain itu, miRNA miR-423-5p dan miR-584-5p berpotensi untuk digunakan sebagai biomarker idiopathic CTEV, yang mana secara spesifik miR-423-5p berpotensi sebagai biomarker rekurensi idiopathic CTEV.

Penelitian dr. Hilmi memberikan sumbangsih pada pengetahuan terhadap CTEV, khususnya dalam domain rekurensi. Penelitian ini membuka titik cerah bahwa terdapat kemungkinan faktor biologik yang akan berpengaruh terhadap rekurensi. Namun, dr. Hilmi mengatakan, penelitiannya masih perlu dibuktikan dengan validasi lebih lanjut berkaitan dengan kedua miRNA untuk dapat menambahkan algoritma dan melakukan skrining lebih awal terhadap kejadian rekurensi.

“Ini baru awal yang masih memerlukan validasi lebih baik lagi dengan jumlah yang lebih banyak dan sampel yang berbeda, karena MicroRNA bukan hanya di darah saja, mungkin juga di saliva. Ini membuka pemikiran bahwa menggunakan sampel saliva lebih less invasive untuk anak-anak. Dan jika memang nanti hasilnya selaras dengan apa yang kami temukan dalam disertasi, dapat ditambahkan dalam algoritma penanganan CTEV tanpa operasi,” jelas dr. Hilmi.

Penelitian yang dilakukan oleh dr. Hilmi turut mendukung FK-KMK UGM dalam mencapai Sustainable Development Goals (SDGs). Penelitiannya melibatkan analisis ekspresi MicroRNA (miRNA) dalam penelitian, sehingga mendorong inovasi terkait penanganan pada CTEV. Selain itu, penelitian dr. Hilmi juga memacu perkembangan pendidikan untuk keberlanjutan, utamanya pendidikan kedokteran serta mengurangi kesenjangan pada kesehatan anak, sehingga dapat bermanfaat pada kesehatan global dan membuka kemitraan global untuk menangani CTEV di masa mendatang. (Penulis: Citra/Humas)