Site icon FK-KMK UGM

FK-KMK UGM Rumuskan Strategi Kebijakan Kesehatan Nasional dan Global 2025

FK-KMK UGM. Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (KMK) serta Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK UGM menggelar Pertemuan Tahunan di Gunung Kidul pada Rabu (19/02). Acara ini menjadi forum strategis untuk merumuskan target capaian kerja (TCK) dan rencana kerja tahun 2025, serta membahas isu-isu kebijakan kesehatan nasional dan global.

Salah satu sesi penting dalam kegiatan ini adalah Plenary Session II yang mengangkat tema Outlook Target Capaian Kerja (TCK) dan Rencana Kerja Tahun 2025. Sesi ini menghadirkan dr. Lutfan Lazuardi, M.Kes, Ph.D. selaku Kepala Departemen KMK dan Dr. dr. Andreasta Meliala, DPH., M.Kes., MAS sebagai Direktur PKMK, dengan moderator dr. Likke Prawidya Putri, MPH., Ph.D.

Dalam pemaparannya, dr. Lutfan menyoroti peran strategis Departemen KMK dalam pengembangan kebijakan dan implementasi sistem kesehatan. KMK memiliki empat peminatan utama, yaitu Manajemen Rumah Sakit (MMR), Sistem Informasi Manajemen Kesehatan (SIMKES), Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan (KMPK), serta Kebijakan Pembiayaan dan Manajemen Asuransi Kesehatan (KPMAK). Tahun ini, KMK memperkenalkan peminatan baru, Social Health Insurance (SHI), yang berkolaborasi dengan BPJS Kesehatan.

dr. Lutfan menekankan pentingnya penguatan kerja sama antara departemen, program studi, dan pusat penelitian untuk meningkatkan pencapaian TCK. Meskipun banyak target telah tercapai, masih ada beberapa yang memerlukan upaya lebih lanjut, seperti peningkatan jumlah mahasiswa asing pada peminatan Health Policy and Management (HPM).

Sebagai langkah strategis, KMK akan mengembangkan program double degree dengan University of Melbourne melalui skema beasiswa LPDP. Selain itu, kolaborasi dengan BPJS Kesehatan dalam pengembangan SHI menjadi salah satu inisiatif utama dalam diversifikasi pendanaan dan penguatan sistem kesehatan. Langkah-langkah ini mendukung visi KMK sebagai Center of Excellence for Innovation dalam kebijakan dan manajemen kesehatan, sejalan dengan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera dan SDG 4: Pendidikan Berkualitas.

Sementara itu, Dr. Andreasta Meliala dalam pemaparannya menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi PKMK di tengah perubahan kebijakan pemerintah yang menitikberatkan pada efisiensi anggaran dibandingkan dukungan akar rumput (grassroot support). Perubahan kebijakan global, termasuk kebijakan baru Amerika Serikat terhadap WHO dan USAID, juga menjadi faktor yang perlu diantisipasi dalam perencanaan strategis PKMK.

Dalam menghadapi dinamika ini, PKMK telah menginisiasi Digital Data Corner sebagai langkah inovatif dalam pemanfaatan data untuk mendukung kajian kebijakan berbasis bukti. Selain itu, PKMK akan memperkuat sinergi antar divisi, termasuk Divisi Manajemen Rumah Sakit, Divisi Manajemen Pelayanan Kesehatan, Divisi Mutu, Divisi Manajemen Bencana, dan Divisi e-Health.

Dr. Andre juga menekankan perlunya pendekatan baru dalam pembiayaan riset kesehatan, terutama setelah pembubaran USAID yang sebelumnya menjadi salah satu pendonor utama. Pendanaan alternatif, seperti skema crowdfunding dan kerja sama dengan sektor swasta, menjadi opsi yang akan dikembangkan untuk memastikan keberlanjutan riset dan program PKMK.

Menanggapi pemaparan tersebut, Prof. dr. Adi Utarini, M.Sc, MPH, Ph.D., menyoroti pentingnya pemanfaatan data sekunder dari pusat kajian dalam pengembangan kebijakan. Ia juga menekankan perlunya penguatan keterampilan komunikasi dan stakeholder engagement di tengah kompleksitas tantangan kebijakan kesehatan saat ini. Selain itu, Prof. Adi mengusulkan pembentukan unit khusus untuk meninjau proposal pendanaan guna meningkatkan efektivitas dalam menjalin kerja sama dengan mitra dan pendonor.

Sementara itu, Prof. Dr. dr. Eti Nurwening Sholikhah, M.Med.Ed, M.Kes, mengapresiasi sinergi antara KMK dan PKMK sebagai model kolaborasi inovatif yang dapat menjadi contoh bagi pusat kajian lainnya. Ia juga menekankan perlunya target yang terukur dalam setiap program yang dirancang. Prof. Eti menambahkan bahwa PKMK, sebagai salah satu pusat studi tertua di UGM, memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan hasil kajiannya dalam bahasa yang lebih mudah dipahami oleh masyarakat luas agar rekomendasi kebijakan dapat lebih berdampak.

Dengan berbagai tantangan dan peluang yang dihadapi, pertemuan tahunan ini menjadi momentum bagi KMK dan PKMK untuk memperkuat strategi kebijakan dan implementasi sistem kesehatan yang lebih adaptif dan berkelanjutan. Melalui kolaborasi lintas sektor, optimalisasi data, dan diversifikasi pendanaan, diharapkan FK-KMK UGM dapat terus berkontribusi dalam mendukung transformasi kesehatan nasional, sehingga sesuai dengan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. (Kontributor: Fajrul Falah & Ichlasul Amalia).

Exit mobile version